LANGIT7.ID-Putra Presiden RI ke-3 BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie menyinggung tentang kebebasan berpendapat sebagai keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) umat islam.
Hal tersebut disampaikan Ilham saat memberikan ceramah menjelang shalat tarawih di Masjid Salman ITB, Kamis (6/3/2025) lalu.
"Salah satu hal penting untuk menumbuhkan keunggulan iptek umat islam adalah dengan kebebasan berpendapat dan toleransi, sebagaimana masa kejayaan ilmuwan muslim di masa Abbasiyah dulu," ujar Ilham dikutip dari Instagram pribadinya.
Sosok yang juga Ketua Dewan Pembina The Habibie Center ini juga membahas tentang pentingnya iman dan takwa sebagai bagian pondasi membangun membangun karakter pribadi yang taat, berakhlak mulia dan berintegritas.
"Namun, dalam konteks kemajuan bangsa, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptak) juga memainkan peran yang sangat penting,” ungkap putra sulung Presiden BJ. Habibie ini.
Menurut Ilham, keberhasilan suatu negara, terutama dalam menghadapi tantangan global, tidak hanya bergantung pada aspek spiritual. Tetapi juga pada kemampuan dalam mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Menggabungkan antara Imtak dan Iptek bukanlah hal yang mustahil.
“Kemajuan peradaban Islam di masa kekhalifahan dahulu bisa tercapai berkat adanya kebebasan berpikir dan toleransi yang diberikan kepada ilmuwan. Dengan kebebasan tersebut, mereka bisa mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan mencapai kemajuan yang luar biasa,” papar Ilham.
Ilham menambahkan bahwa untuk mencapai "Indonesia Emas", negara ini membutuhkan sistem yang mendukung kebebasan ilmiah, toleransi dan meritokrasi, di mana setiap individu yang memiliki kemampuan terbaik bisa berkontribusi dalam kemajuan bangsa.
Contoh pada masa kejayaan kekhalifahan Islam yang terjadi lebih dari 1.400 tahun lalu, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat berkat adanya kebebasan berpikir dan toleransi yang tinggi di kalangan masyarakat.
“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa itu tidak terlepas dari prinsip-prinsip seperti kebebasan berpikir, toleransi dan meritokrasi, dimana orang-orang terbaik dipilih untuk memimpin berdasarkan kemampuan mereka,” ujar Ilham yang juga menjabat sebagai
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ini.
Sayangnya kemajuan tersebut mulai surut seiring runtuhnya nilai-nilai tersebut. Lebih lanjut, Ilham memberikan contoh hukum alam, seperti hubungan antara kain dan api yang terbakar. Pada masa kekhalifahan Islam, ada pandangan yang mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah kehendak Allah, padahal sebenarnya itu adalah hasil dari hukum alam yang diciptakan-Nya.
“Saya menekankan pentingnya memahami sistem dunia ini secara lebih rinci sebagai bentuk ibadah dan rasa kagum terhadap ciptaan Allah. Di tengah momentum Ramadan 1446 Hijriah, saya juga mengingatkan bahwa Indonesia harus terus mempertahankan sistem demokrasi yang memungkinkan masyarakat untuk berkarya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memajukan industri,” sambung Ilham.
Dalam kesempatan ini, Ilham juga mengaku mengenang kembali masa tahun 90-an ketika menginisiasi pengajian di Amerika Serikat bersama salah satu pendiri Masjid Salman, almarhum Imaduddin Abdurrahim.(*)
(hbd)