Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sejauh Mana Al-Asyari Meninggalkan Mutazilah dan Keikhlasannya terhadap Ajaran Salafiyah?

miftah yusufpati Senin, 26 Mei 2025 - 05:45 WIB
Sejauh Mana Al-Asyari Meninggalkan Mutazilah dan Keikhlasannya terhadap Ajaran Salafiyah?
Meskipun al-Asyari berpendapat bahwa orang-orang mukmin kelak dapat melihat Tuhan di akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya tidak bersifat harfiah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejauh mana al-Asy‘ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu‘tazilah dan seberapa besar keikhlasannya terhadap ajaran salafiyah?

Prof. Dr. Zainun Kamal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy‘ari, kita dapat merujuk pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1. Maqālāt al-Islāmiyyīn, merupakan karya pertamanya dalam membahas persoalan kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber penting karena ketelitian dan kejujuran penulisnya. Buku ini terdiri atas tiga bagian:

- Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam;
- Akidah aliran Ashḥāb al-Ḥadīts dan Ahl al-Sunnah;
- Beberapa persoalan ilmu kalam.

2. Al-Ibānah ‘an Uṣūl al-Diyānah, berisi uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah serta pernyataan dan penegasan terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini, al-Asy‘ari menyerang aliran Mu‘tazilah secara keras.

Baca juga: Kisah Imam Al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah dan Menulis 2 Buku

3. Kitāb al-Luma‘ fī al-Radd ‘alā Ahl al-Zaigh wa al-Bida‘, berisi kritik terhadap lawan-lawannya dalam berbagai persoalan ilmu kalam.

Para ahli mempertanyakan perbedaan kandungan antara dua kitab utama al-Asy‘ari, yaitu al-Ibānah dan al-Luma.

Dalam al-Ibānah, peranan naql (wahyu) lebih tinggi dibandingkan akal. Artinya, sisi salafiyah al-Asy‘ari lebih dominan dibandingkan sisi Mu‘tazilah.

Sementara itu, dalam al-Luma‘, peranan akal lebih menonjol dalam memahami nash-nash agama. Di sini tampak adanya dorongan untuk kembali memahami ajaran agama dengan metode ilmu kalam.

Perbedaan ini dimungkinkan karena al-Ibānah ditulis segera setelah al-Asy‘ari menyatakan keluar dari Mu‘tazilah.

Secara psikologis, buku ini mencerminkan keinginannya menonjolkan sikap loyal terhadap kaum Salafi sebagai rekan barunya, serta kebenciannya terhadap Mu‘tazilah yang kini dianggap sebagai musuh, meskipun dulunya adalah teman dekat.

Hal ini dapat dipahami, karena seseorang yang beralih dari teman dekat menjadi musuh biasanya akan menunjukkan sikap permusuhan yang kuat, sementara terhadap teman baru akan menunjukkan loyalitas yang tinggi.

Baca juga: Dua Versi Mengapa Imam al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah

Oleh karena itu, al-Ibānah mencerminkan tingkat kesungguhan penuh dalam meninggalkan ajaran lama. Sebaliknya, kebenciannya terhadap Mu‘tazilah tampak lebih nyata. Berdasarkan hal ini, para ahli menyimpulkan bahwa al-Ibānah ditulis segera setelah al-Asy‘ari meninggalkan paham Mu‘tazilah.

Lain halnya dengan kitab al-Luma’ yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Pada saat itu, al-Asy‘ari sudah harus mengambil sikap yang jelas. Maka, di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy‘ari dengan dalil-dalil rasional dan upayanya membangun ilmu kalamnya sendiri.

Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’, argumentasi rasional al-Asy‘ari kembali menonjol dalam memahami nas-nas agama dan terlihat pendekatan interpretasi metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu‘tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hanbali menolak paham teologi al-Asy‘ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali, yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi pada kenyataannya tetap menggunakan metode filsafat dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles.

Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang filsafat, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu‘tazilah, sudah barang tentu al-Asy‘ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan itu sendiri merupakan pengetahuan (‘ilm). Yang benar, Tuhan adalah Maha Mengetahui (‘alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan-Nya, bukan dengan zat-Nya. Demikian pula, bukan dengan sifat-sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar, dan melihat.

Baca juga: 3 Kritik terhadap Muktazilah: Kisah al-Asy‘ari Bertanya kepada Guru Besarnya

Di sini terlihat, al-Asy‘ari menetapkan sifat kepada Tuhan sebagaimana halnya kaum Salafi. Namun, cara penafsirannya cukup berbeda.

Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima makna tersebut dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya.

Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang menggerakkan tangannya ketika membaca ayat yang berbunyi ‘Aku (Allah) menciptakan dengan tangan-Ku’, lalu ia langsung mengatakan bahwa Allah memiliki tangan seperti makhluk, maka wajib dipotong tangannya.”

Lain halnya dengan al-Asy‘ari. Baginya, makna sifat tidak jauh berbeda dengan pengertian sifat menurut Mu‘tazilah. Bagi al-Asy‘ari, sifat berada pada zat, tetapi sifat bukanlah zat, dan juga bukan sesuatu yang lain dari zat. Ungkapan al-Asy‘ari yang seperti ini, menurut Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari paradoks.

Bagi Mu‘tazilah, sifat sama dengan zat. Sifat tidak memiliki makna yang hakiki. Jika dikatakan “yang mengetahui” (‘alim), maka maksudnya adalah menetapkan pengetahuan (‘ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah zat-Nya sendiri.

Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekadar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil (tidak tahu). Seperti halnya menyebut “yang berkuasa” (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah, dan kekuasaan itu adalah zat-Nya sendiri. Artinya, hal tersebut merupakan cara menafsirkan bahwa Allah tidak lemah.

Baca juga: Pemikiran Teologi Muktazilah: Sifat-Sifat Tuhan Tidak Sebangun dengan Hakikat-Nya

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy‘ari yang lain adalah bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy‘ari mengemukakan argumen rasional dan nas. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy‘ari, hanyalah yang tidak mempunyai wujud. Setiap wujud pasti dapat dilihat; Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat.

Argumen Al-Qur’an yang dikemukakannya antara lain adalah: "Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Tuhannya." (QS. al-Qiyamah: 22–23)

Menurut al-Asy‘ari, kata nadzirah dalam ayat tersebut tidak bisa diartikan sebagai berpikir seperti pendapat Mu‘tazilah, karena akhirat bukanlah tempat untuk berpikir; juga tidak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu—yang bisa menunggu adalah manusia.

Lagi pula, di surga tidak ada penantian, karena menunggu mengandung arti kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nadzirah harus dimaknai sebagai melihat dengan mata kepala.

Meskipun al-Asy‘ari berpendapat bahwa orang-orang mukmin kelak dapat melihat Tuhan di akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya tidak bersifat harfiah.

Penafsiran tersebut mengarah pada makna bahwa melihat Tuhan tidak mesti dalam bentuk yang terarah atau memiliki tempat tertentu, melainkan hanya merupakan suatu bentuk penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan menggunakan mata yang belum dapat kita bayangkan saat ini bagaimana bentuknya kelak.

Baca juga: Kisah Imam Hambali Dipenjara dan Disiksa karena Melawan Muktazilah

Namun demikian, untuk dapat menerima bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat, al-Asy‘ari juga melakukan penafsiran terhadap ayat berikut:

"Penglihatan tidak dapat menangkap-Nya, tetapi Dia dapat melihat penglihatan itu." (QS. al-An‘am: 103)

Ayat tersebut ditafsirkan oleh al-Asy‘ari bahwa yang dimaksud dengan tidak dapat melihat Tuhan adalah dalam konteks dunia ini, bukan di akhirat. Ia juga menafsirkan bahwa yang tidak dapat melihat Tuhan di akhirat adalah orang-orang kafir.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)