LANGIT7.ID-Jakarta; Aktivis iklim Greta Thunberg dan 11 aktivis lainnya akan berlayar menuju Gaza pada Minggu sore menggunakan kapal bantuan yang bertujuan “membobol blokade Israel” terhadap wilayah yang hancur tersebut. Hal ini diumumkan oleh penyelenggara misi kemanusiaan tersebut.
Kapal layar bernama Madleen yang dioperasikan oleh kelompok aktivis Freedom Flotilla Coalition akan berangkat dari pelabuhan Catania, Sisilia, Italia selatan. Mereka akan mencoba mencapai pesisir Gaza demi mengirim bantuan kemanusiaan dan menyuarakan krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di sana.
“Kita melakukan ini karena walau apapun rintangannya, kita tetap harus mencoba,” kata Thunberg sambil menangis saat konferensi pers sebelum keberangkatan. “Karena saat kita berhenti mencoba, saat itulah kita kehilangan sisi kemanusiaan kita. Dan seberbahaya apapun misi ini, tetap tak sebanding dengan bahayanya sikap diam dunia terhadap genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia,” lanjutnya.
Israel sendiri menolak keras tuduhan genosida, dan menyebutnya sebagai fitnah antisemitisme yang berbahaya.
Pada pertengahan Mei lalu, Israel sempat sedikit melonggarkan blokadenya setelah hampir tiga bulan, dengan mengizinkan sejumlah kecil bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun para ahli tetap memperingatkan bahwa risiko kelaparan masih sangat tinggi jika bantuan tidak segera ditambah.
PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan mengatakan bahwa pembatasan Israel, kekacauan hukum di lapangan, dan maraknya penjarahan membuat pengiriman bantuan ke sekitar dua juta penduduk Gaza menjadi sangat sulit.
Di antara awak kapal Madleen juga terdapat aktor Game of Thrones Liam Cunningham dan anggota Parlemen Eropa asal Prancis, Rima Hassan, yang memiliki darah Palestina. Rima dilarang masuk Israel karena sikap vokalnya menentang serangan militer Israel ke Gaza.
Para aktivis memperkirakan perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tujuh hari—jika tidak dihentikan di tengah jalan.
Greta Thunberg seharusnya ikut dalam pelayaran sebelumnya pada bulan Mei, tetapi gagal. Saat itu, kapal Conscience yang juga bagian dari Freedom Flotilla diserang oleh dua drone misterius di perairan internasional dekat Malta. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan di bagian depan kapal. Kelompok ini menuding Israel sebagai pelakunya.
Israel menyatakan bahwa blokade terhadap Gaza adalah bagian dari upaya menekan Hamas agar membebaskan para sandera yang diculik saat serangan 7 Oktober 2023 lalu. Saat itu, militan Hamas menyerbu Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang—mayoritas warga sipil—dan menculik 251 orang. Saat ini, Hamas masih menahan 58 orang sandera, dan 23 di antaranya diyakini masih hidup.
Sebagai respons atas serangan itu, Israel meluncurkan ofensif militer besar-besaran yang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina, kebanyakan perempuan dan anak-anak. Serangan udara dan darat tersebut juga menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan membuat mayoritas penduduknya kehilangan tempat tinggal.
Freedom Flotilla bukan satu-satunya kelompok yang menuding Israel melakukan tindakan genosida dalam perang ini. Namun Israel tetap membantah dan menyatakan bahwa sasaran serangannya adalah militan Hamas, bukan warga sipil.
“Kami berusaha membobol blokade Gaza lewat laut, tapi ini hanya satu bagian dari strategi besar,” kata aktivis Thiago Avila. Ia juga menyinggung rencana Global March to Gaza, aksi internasional yang melibatkan dokter, pengacara, dan media yang dijadwalkan akan berangkat dari Mesir dan mencapai perbatasan Rafah pada pertengahan Juni untuk menggelar protes dan menuntut Israel menghentikan serangan ke Gaza serta membuka kembali perbatasan.
(lam)