LANGIT7.ID-Pemandangan dunia Islam abad pertengahan ibarat lautan pengetahuan yang bergelombang tenang namun dalam. Saat Eropa terperosok dalam abad-abad kegelapan, justru dunia Muslim menjelma sebagai pusat intelektual dunia. Yang menarik: kekuatan itu bukan lahir dari isolasi, tetapi dari keterbukaan.
Orientalis dan Akademisi terkemuka dari Georgetown University,
John L. Esposito, dalam bukunya berjudul
Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? menyebutkan tergambar bagaimana para penguasa Muslim justru membangun kekuatan mereka lewat ilmu dan keterampilan bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Bukan dengan pemaksaan, tetapi lewat proses adaptasi yang mengagumkan.
Kerajaan-kerajaan Islam, tulis Esposito, bukan sekadar mesin militer penakluk. Mereka adalah penyerap pengetahuan dan penjaga warisan dunia. Ketika mereka menundukkan wilayah-wilayah baru, yang mereka lakukan bukan penghancuran, melainkan asimilasi: lembaga lokal, ide-ide, bahkan personel ahli dari kalangan Kristen dan Yahudi diserap ke dalam sistem kekhalifahan.
Pusat-pusat penerjemahan didirikan dari Baghdad hingga Kordova. Buku-buku penting dari bahasa Yunani, Latin, Persia, Syria, hingga Sanskrit diterjemahkan ke dalam bahasa Arab—seringkali oleh penerjemah non-Muslim—dan kemudian menjadi milik peradaban Islam secara keseluruhan.
Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito Dari sinilah para filsuf dan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd tumbuh. Dunia Islam tak hanya memelihara warisan masa lalu, tapi menciptakan sintesis baru yang lebih maju.
Marshall Hodgson, sejarawan terkemuka yang dikutip Esposito, menyebut bahwa Islam tidak sekadar mengadopsi, tetapi “mengislamkan” dan “mengarabkan” warisan itu—dan dari proses itulah lahir energi kreatif yang luar biasa.
Bandingkan dengan Eropa kala itu. Ketika perpustakaan Baghdad dan Bukhara bersinar terang, benua biru masih terjebak dalam dogma gereja dan kemiskinan ilmu. Tapi roda sejarah berputar. Ketika Eropa bangkit, mereka tak memulai dari nol. Mereka menyusuri jejak peninggalan Islam, menerjemahkan ulang manuskrip-manuskrip Arab, dan membangun fondasi Renaisans dari warisan yang sempat disalurkan Islam kepada dunia.
Yang paling menarik dari narasi ini adalah watak terbuka umat Islam kala itu terhadap ilmu luar. Mereka meminjam tanpa minder, menyesuaikan tanpa takut kehilangan identitas. Karena saat itu mereka berada dalam posisi kuat: sebagai penguasa, bukan yang dikuasai; sebagai pusat, bukan pinggiran.
“Berbeda dengan abad ke-20,” tulis Esposito, “kaum Muslim pada saat itu merasa mengendalikan dan aman. Mereka merasa bebas meminjam dari Barat karena identitas dan otonomi mereka tidak terancam.”
Kini, ketika dunia kembali menghadapi polarisasi budaya dan kecemasan identitas, sejarah itu memberi cermin. Bahwa kekuatan bukan datang dari isolasi, melainkan dari rasa percaya diri untuk menyerap dan mencipta ulang. Dan bahwa apa yang kita sebut sebagai “kemajuan Barat” hari ini, sesungguhnya tak lepas dari benih yang pernah disemai di halaman-halaman Arab.
Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt(mif)