LANGIT7.ID, Jakarta - Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut PKI lebih ekstrem dari sekadar penganut paham radikal. Mereka yang menganut komunisme gaya baru harus diwaspadai.
Komunisme, kata Haedar, merupakan contoh dari kelompok radikal-ekstrem. Komunisme dalam sejarah dunia telah menimbulkan gerakan kekerasan dan diktatorial.
"Komunisme memang sejatinya ideologi radikal-ekstrem yang berapaham komunal, bahwa berbangsa, bernegara, dan hidup itu harus didasarkan pada paham semua milik semua."
Gerakan Komunisme di berbagai dunia termasuk di Indonesia melalui Partai Komumis Indonesia (PKI) merupakan fakta nyata adanya penyimpangan dalam paham tersebut.
PKI pada era Henk Sneevliet dan Tan Malaka saat awal kemerdekaan begitu radikal melawan kolonialisme Belanda. Pasca-kemerdekaan kelompok ini juga melakukan pemberontakan berkali-kali.
Puncaknya, PKI melakukan kudeta kekuasaan melalui tragedi G30S PKI tahun 1965 yang berakhir dengan kegagalan. Peristiwa bersejarah ini mengakhiri pemerintahan Soekarno dan lahirnya rezim Orde Baru.
"PKI berkali-kali melakukan pemberontakan, itu faktanya dan banyak bukti. Ini tragedi bukan ilusi. Pada dasarnya komunisme dan PKI itu menganut paham radikal-ektrem yang totaliter."
Ummat Islam sering kali menjadi terdakwa dalam stigma radikalisme. Konstruksi masalah ini bias dan begitu menyakitkan. Sebab mengabaikan radikalisme lainnya yang tidak kalah berbahaya lagi.
Haedar mengatakan, selama 10 tahun terakhir isu radikalisme kerap dibahas, bahkan kini menjadi bagian dari perundang-undangan dan kebijakan negara.
"Kebijakan tentang radikalisme, selalu menyasar kelompok agama, khususnya kaum muslim. Apakah memang radikalisme itu hanya menyangkut satu kelompok tertentu saja?"
Haedar menegaskan, radikal dan radikalisme sebenarnya netral dalam dunia pemikiran dan gerakan. Tapi keliru manakala diidentika dengan kekerasan dan terorisme.
Dia menjelaskan, radikal berasal dari bahasa latin radix yang berarti asli. Dalam KBBI saja, kata radikal mengandung arti: mendasar, amat keras menuntut perusahan, berpikir maju atau bertindak.
Adapun radikalisme sebagai paham atau ideologi menurut Giddens ialah taking things by the roots (mengambil sesuatu dari akarnya).
"Ketika sesuatu bersifat mendasar, tentu tidak ada masalah, apalagi agama, ideologi, maupun ilmu pengetahuan. Agama, pancasila, itu sesuatu yang mendasar," ujar dia.
Tapi kata radikal dipakai untuk menunjuk kekerasan, makar, dan merusak kehidupan manusia dan lingkungannya. Sebab ada sekelompok orang yang ingini melakukan perubahan cepat dengan cara-cara tidak manusiawi.
"Permasalahannya, radikalisme sebagai sebuah paham bukan lagi semata-mata kembali pada akar tetapi dalam konteks menuntut perubahan menggunakan kekerasan," katanya.
(bal)