LANGIT7.ID-Narasi bahwa
Nabi Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah telah lama hidup dalam teks-teks pujian, kisah maulid, bahkan sejumlah pernyataan para sufi. Ada yang menyebut beliau berasal dari cahaya ilahiah. Ada pula yang menegaskan bahwa segala penciptaan bermula dari "
Nur Muhammad". Tapi benarkah itu adalah bagian dari doktrin Islam yang shahih?
Pandangan populer ini belakangan dikritisi secara tajam oleh para ulama
Ahlus Sunnah. Salah satunya oleh Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam karya monumentalnya,
Fatawa Mu’ashirah. Dalam salah satu fatwanya, beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis sahih yang memastikan bahwa makhluk pertama adalah Nabi Muhammad, atau pena, atau akal, sebagaimana kerap diklaim oleh sebagian orang. Bahkan, menurutnya, riwayat-riwayat semacam itu saling bertentangan dan tidak bisa dijadikan landasan teologis.
Dalam khazanah hadis, memang ditemukan beragam pernyataan. Ada hadis yang menyebut, “Makhluk pertama adalah pena.” Hadis lain mengatakan, “Yang pertama adalah akal.” Sementara dalam kisah maulid, dikenal pernyataan bahwa Allah menciptakan nur Muhammad sebelum segalanya. “Riwayat-riwayat itu tidak sah dan tidak mendidik umat pada akidah yang kokoh,” tulis Qardhawi.
Baca juga: Bangunan Batu, Jiwa yang Terlupa: Kritik Al-Qardhawi atas Umat yang Salah Menimbang Amal Kritik atas Kultus FigurQardhawi bukan satu-satunya ulama yang kritis terhadap glorifikasi berlebihan terhadap Nabi. Para ulama klasik dari golongan Ahlus Sunnah sudah lama mengingatkan bahwa sanjungan berlebihan, apalagi sampai menuhankan atau mendewakan Nabi, bertentangan dengan perintah beliau sendiri. Sebuah hadis sahih riwayat Bukhari menyatakan: “Janganlah kamu menyanjungku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya.”
Kritik ini tidak ditujukan untuk merendahkan kedudukan Nabi Muhammad, tetapi justru untuk memuliakan beliau sesuai dengan porsi yang benar. Bahwa beliau adalah manusia, hamba Allah, dan sekaligus utusan-Nya. Seorang rasul yang terlahir dari lelaki dan perempuan, bukan dari cahaya yang digenggam langsung oleh Tuhan.
Manusia yang Membawa CahayaMeski menolak gagasan bahwa Nabi Muhammad berasal dari cahaya, Al-Qardhawi tetap menyatakan bahwa secara fungsional, Rasulullah memang adalah pembawa cahaya. Ia menunjuk pada Surat Al-Ahzab ayat 45-46, yang menyebut Nabi sebagai “pelita yang menerangi”. Juga pada Surat Al-Maidah ayat 15, yang menyebut: “Telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.”
Dalam konteks ini, “cahaya” bukanlah entitas metafisik pra-eksistensi, melainkan simbol dari petunjuk, risalah, dan jalan kebenaran. Sebagaimana Al-Qur’an disebut sebagai cahaya dalam banyak ayat, maka demikian pula Rasulullah, karena beliau pembawa wahyu dan penerang jalan umat.
Baca juga: Hukum Lukisan dan Ukiran Menurut Syaikh Al-Qardhawi Akidah yang SeimbangKritik terhadap keyakinan “makhluk pertama” bukan semata menolak spiritualitas, tetapi mengembalikan keseimbangan dalam beragama. Ketika sebagian umat terseret dalam tradisi berlebihan memuji Nabi hingga melampaui batas, Qardhawi dan para ulama Ahlus Sunnah mengingatkan kembali pada poros yang lurus: Nabi Muhammad adalah manusia, bukan Tuhan. Ia bisa wafat. Ia akan ditanya kelak di hari kiamat, sebagaimana para nabi lain.
Keistimewaan beliau tidak terletak pada asal-usulnya, tapi pada akhlaknya. "Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung," (QS Al-Qalam: 4). Inilah pujian yang Allah abadikan dalam wahyu-Nya. Keutamaan yang nyata dan terbukti. Bukan dongeng, bukan mitologi.
Menjadi Pengikut CahayaDalam salah satu doanya, Nabi meminta cahaya dalam hati, penglihatan, pendengaran, kanan dan kiri, bahkan dalam rambutnya. Doa itu bukan untuk menjadikannya makhluk bercahaya, tapi agar hidupnya menyebarkan petunjuk dan tidak tenggelam dalam gelapnya nafsu dan kesesatan.
Menjadi pengikut Nabi Muhammad berarti menempuh jalan itu: berjalan dengan cahaya petunjuk, bukan membangun kultus. Meneladani akhlak, bukan sibuk memitoskan asal-usulnya. Sebab hidayah tidak datang dari spekulasi spiritual, tapi dari ilmu, adab, dan istiqamah.
Dan jika benar beliau adalah pelita yang menerangi, maka umatnya adalah para pejalan malam. Bukan yang mendebat apa bahan dasar pelita itu, tapi yang bersyukur karena jalan telah menjadi terang.
Baca juga: Arak Dipakai untuk Berobat, Bolehkah? Begini Penjelasan Syaikh Al-Qardhawi(mif)