LANGIT7.ID-Jakarta; PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) terus menunjukkan langkah konkret dalam menjadikan prinsip keuangan berkelanjutan sebagai bagian integral dari model bisnisnya. Lewat pendekatan ESG (Environmental, Social, and Governance), BSI menargetkan posisi sebagai bank syariah global terbaik yang berfokus pada implementasi keuangan berkelanjutan.
Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, menegaskan hal ini dalam sesi diskusi “Optimizing Green Investment to Achieve Indonesia’s Demographic Bonus” yang berlangsung dalam ajang Green Impact Festival 2025 di Djakarta Theater XXI, Jakarta. Dalam forum tersebut, Bob memaparkan strategi BSI yang menekankan pada pentingnya mendukung transisi energi dan pemberdayaan sumber daya manusia melalui pembiayaan hijau.
Sebagai bagian dari ekosistem keuangan syariah nasional, BSI telah mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan (Sustainability Framework) serta roadmap yang terintegrasi dengan kebijakan OJK dan acuan global. “BSI juga telah menjadi bagian dari United Nations Environment Programme - Finance Initiative (UNEP-FI) dan menjalankan prinsip perbankan bertanggung jawab atau Principles for Responsible Banking (PRB),” ujar Bob dalam keterangannya, Jumat (25/7/2025).
Langkah nyata lainnya adalah keterlibatan BSI dalam uji ketahanan risiko iklim melalui Climate Risk Stress Testing (CRST), khususnya bagi bank kategori KBMI 3. Pada tahap awal, sebanyak 51% dari portofolio pinjaman BSI telah masuk dalam cakupan uji ketahanan ini. Hal ini menunjukkan kesiapan perseroan menghadapi risiko perubahan iklim dalam jangka panjang.
Kinerja portofolio pembiayaan berkelanjutan BSI pun menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga kuartal I 2025, total pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp72,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp14,6 triliun dialokasikan khusus untuk sektor pembiayaan hijau, termasuk energi terbarukan, pengelolaan air, transportasi bersih, limbah berkelanjutan, dan produk ramah lingkungan.
Dari sisi strategi pendanaan, BSI telah berhasil menerbitkan sukuk ESG tahap kedua senilai Rp5 triliun pada 2025, menyusul kesuksesan penerbitan tahap pertama senilai Rp3 triliun di tahun sebelumnya. Dana yang terkumpul diprioritaskan untuk proyek-proyek strategis seperti pembiayaan energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pemberdayaan UMKM yang berorientasi keberlanjutan.
Bob menyebut bahwa pembiayaan yang bersifat berkelanjutan bukan hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga menjadi solusi ekonomi jangka panjang. Ia mengatakan, “Kami ingin menjadi bank syariah global terbaik dalam implementasi keuangan berkelanjutan. Tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tapi juga sebagai katalis perubahan menuju ekonomi rendah karbon.”
BSI juga mencatat bahwa dana dari sukuk ESG tahap pertama telah memberikan dampak luas di sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan penguatan ekonomi pelaku UMKM secara berkelanjutan.
Komitmen BSI tidak berhenti pada aspek eksternal. Di tingkat internal, perusahaan telah menginisiasi sejumlah program budaya ramah lingkungan, termasuk penerapan konsep Green Business Culture, penggunaan kendaraan listrik, pembangunan gedung hijau, instalasi panel surya, dan pelatihan ESG bagi ribuan karyawan. Di sisi literasi publik, BSI turut mengembangkan edukasi ESG berskala nasional dan global.
Bob juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendukung agenda hijau Indonesia. “Bonus demografi ini akan menjadi kekuatan, jika diisi oleh talenta muda yang sadar lingkungan dan siap membangun masa depan hijau bagi Indonesia,” tutupnya.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, BSI menunjukkan bahwa transformasi menuju institusi keuangan syariah global berbasis keberlanjutan bukan sekadar visi, melainkan agenda strategis yang terus dijalankan melalui berbagai aspek operasional, pembiayaan, dan edukasi.
(lam)