Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 23 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah Abu Nawas dan Misteri Telur Ayam

miftah yusufpati Rabu, 30 Juli 2025 - 17:00 WIB
Kisah Abu Nawas dan Misteri Telur Ayam
Pemimpin yang baik bukan yang selalu benar, tapi yang mau belajar dan tertawa dari kebijaksanaan orang lain. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada suatu pagi yang cerah, Baginda Raja sedang menikmati segelas susu kambing dan sepiring kurma di balkon istana ketika pandangannya tertumbuk pada seekor ayam betina yang bertelur di halaman. Entah kenapa, melihat telur segar itu membuat Baginda tersenyum-senyum sendiri. Mungkin karena lapar, mungkin karena sedang ingin membuat keributan yang “ilmiah.”

“Panggil para pengawal! Umumkan sayembara ke seluruh negeri!” titah Baginda. "Pertanyaannya sederhana: mana yang lebih dulu, telur atau ayam? Tapi ingat, jawabannya harus logis dan bisa menahan sanggahan dariku. Hadiahnya satu pundi penuh emas. Kalau gagal? Penjara menanti."

Pengumuman itu langsung menyebar secepat gosip di pasar. Warga yang awalnya semangat, mulai mundur teratur setelah membaca syaratnya: "Jawaban harus logis dan mampu menghadapi sanggahan Baginda." Terdengar berat. Apalagi Baginda terkenal pintar bersilat lidah.

Akhirnya hanya empat orang yang berani ikut sayembara itu. Tiga rakyat biasa, dan satu orang yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya, si pujangga nyentrik, Abu Nawas.

Peserta pertama maju dengan lutut bergemetar. "Yang pertama adalah telur," katanya yakin.

"Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda sambil menahan tawa.

Baca juga: Menunggangi Hujan Bersama Abu Nawas: Ketika Akal Lebih Tajam dari Kecepatan Kuda Raja

Peserta pertama pucat. Ia menatap langit berharap jawaban turun dari awan. Sayangnya, yang turun malah pengawal yang menyeretnya ke penjara.

Peserta kedua mencoba jalur diplomasi, "Tuanku, ayam dan telur tercipta bersamaan. Seperti sepasang sandal."

"Sandal bisa dibuat bersamaan. Tapi ayam dan telur ciptaan Tuhan," potong Baginda. "Lagipula, ayam bisa bertelur tanpa ayam jantan."

Peserta kedua mematung. Ia mungkin jago berdiplomasi, tapi bukan di kandang ayam. Penjara pun jadi tempat tinggal barunya.

Peserta ketiga mencoba pendekatan spiritual. "Tuanku, ayam pasti duluan. Tuhan menciptakan ayam pertama, lalu bertelur."

"Lalu dari mana ayam jantan datang?" cecar Baginda.

"Anak dari ayam betina, Tuanku."

"Dan siapa yang mengawini ayam betina itu agar bisa bertelur?"

Peserta ketiga tercekat. Ia hendak menjelaskan tentang kemungkinan ayam betina bertelur sendiri, lalu menetas jadi ayam jantan, tapi Baginda memotong, "Bagaimana kalau ayam betinanya keburu mati sebelum kawin?"

Baca juga: Keadilan Abu Nawas: Lalat-Lalat yang Membuka Mata Raja

Diam. Penjara.

Kini, tinggal Abu Nawas. Ia melangkah santai seperti hendak menghadiri pesta, bukan sayembara hidup dan penjara.

"Baginda yang bijaksana," katanya sambil menunduk hormat. "Jawaban hamba: telur datang lebih dahulu."

"Alasannya?" Baginda menatap tajam.

"Karena ayam mengenali telur, sementara telur tidak pernah mengenal ayam," jawab Abu Nawas tenang.

Baginda terdiam. Rakyat yang menonton ikut menahan napas. Beberapa bahkan berpikir, “Ini jawaban paling ngaco sejagat.”

Tapi Baginda justru mengerutkan dahi, merenung dalam. Semakin dalam.

"Kalau telur tak mengenal ayam, berarti ia tak bisa membantah. Dan kalau ayam mengenal telur, maka ia menjadi saksi. Hmmm…" gumam Baginda.

Akhirnya Baginda berdiri, menepuk tangan. "Abu Nawas, kau menang! Ini jawabannya bukan hanya masuk akal, tapi juga… filosofis."

Abu Nawas tersenyum sambil menerima pundi emas.

Beberapa hari kemudian, rakyat mendengar kabar bahwa ayam betina Baginda kini punya nama: Falsafah, dan telur-telurnya dinamai satu per satu. Sementara itu, tiga peserta lain masih mendebatkan nasib ayam jantan di dalam penjara.

Baca juga: Ketika Abu Nawas Menjadikan Humor sebagai Senjata Hukum
---

Hikmahnya? Dalam urusan logika, jangan pernah menyepelekan Abu Nawas. Dan dalam urusan telur dan ayam—biarlah itu urusan Tuhan. Kita cukup makan telurnya saja.

Hikmah lannya dari kisah ini adalah:

1. Kecerdasan tak selalu tentang jawaban yang rumit.

Abu Nawas menunjukkan bahwa jawaban yang sederhana namun tajam bisa mengalahkan argumen yang panjang tapi mudah disanggah. Ia tak berusaha menjelaskan secara ilmiah atau metafisik, tapi menggunakan logika praktis dan nalar yang jenaka.

2. Keberanian lahir dari keyakinan akan akal sehat.

Sementara peserta lain gugup menghadapi sanggahan Baginda, Abu Nawas tetap tenang. Ia percaya pada kekuatan berpikir kritis, bukan sekadar menjawab pertanyaan tapi juga mengantisipasi jebakan logika.

3. Humor bisa menjadi senjata untuk menaklukkan kekuasaan.

Dalam dunia yang sering diwarnai oleh kekakuan kekuasaan, Abu Nawas menggunakan tawa dan kecerdikan untuk menghadapinya. Ia tak hanya menghibur, tapi juga menantang otoritas dengan cara elegan.

Baca juga: Abu Nawas Menolak Jabatan, Naik Pisang Jadi Kuda

4. Tidak semua pertanyaan harus dijawab secara literal.

Pertanyaan "ayam atau telur duluan?" sudah menjadi teka-teki klasik. Alih-alih terjebak dalam logika linier, Abu Nawas memberi jawaban di luar pola pikir umum—dan justru itulah yang membuatnya unggul.

5. Pikiran terbuka lebih penting daripada kemenangan debat.

Baginda Raja, meski berkuasa, tetap bersedia menerima logika Abu Nawas. Ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik bukan yang selalu benar, tapi yang mau belajar dan tertawa dari kebijaksanaan orang lain—walau dari seorang pujangga nyentrik seperti Abu Nawas.

Dengan kata lain, kisah ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan, keberanian berpikir berbeda, dan sentuhan humor bisa menjadi jalan keluar dari persoalan yang tampak rumit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 23 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)