LANGIT7.ID-Jakarta; Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) resmi diluncurkan serentak di seluruh Indonesia hari ini, Senin (4/8), sebagai bagian dari inisiatif Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto. Fokus utamanya adalah pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak usia sekolah di lembaga pendidikan agama dari berbagai agama, dengan dukungan penuh dari Kementerian Agama.
Program ini langsung diawasi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir di Pondok Pesantren Asshidiqiyah, Jakarta Barat, untuk memantau pelaksanaannya. Ia menegaskan bahwa kesehatan anak-anak adalah kunci bagi pembangunan generasi penerus bangsa yang tangguh dan memiliki daya tahan fisik serta spiritual.
“Program Cek Kesehatan Gratis ini adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi muda yang sehat secara jasmani dan rohani. Ini sejalan dengan nilai-nilai inti setiap agama yang menekankan pentingnya kesehatan sebagai bagian dari ibadah dan keberlangsungan hidup,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangannya, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, tubuh yang sehat merupakan prasyarat penting agar manusia bisa menjalani hidup secara optimal, baik dalam beribadah maupun berperan di tengah masyarakat. "Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba yang taat kalau sakit-sakitan. Dan tidak mungkin kita menjadi khalifah yang sukses kalau penyakitan. Maka kesehatan dan kebugaran ini sangat penting (untuk) menjadi hamba yang taat dan menjadi khalifah," ujarnya lagi.
Komitmen Lintas Iman dalam Pelayanan KesehatanCKG tak hanya menyasar madrasah dan pondok pesantren, tetapi juga menjangkau satuan pendidikan lintas agama. Menteri Agama menegaskan bahwa pelaksanaan program ini diperluas ke berbagai lembaga pendidikan seperti Kristen, Katolik, Hindu (Widyalaya), dan Buddha (Dhammasekha), mencerminkan semangat pelayanan inklusif tanpa diskriminasi kepercayaan.
Kemenag mencatat jumlah peserta didik yang menjadi sasaran program ini mencapai lebih dari 12,5 juta siswa, terdiri dari:
9.179.847 siswa madrasah (MI, MTs, MA)
3.339.536 santri pondok pesantren
18.090 siswa pendidikan Kristen
7.032 siswa pendidikan Katolik
3.421 siswa Hindu (Widyalaya)
1.069 siswa Buddha (Dhammasekha Formal)
"Pelaksanaan CKG menjadi langkah strategis dalam menanamkan budaya hidup sehat sejak dini di semua lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia. Saya ingin lembaga pendidikan agama dan keagamaan menjadi contoh terdepan dalam pelaksanaan program ini," tegas Menteri Nasaruddin Umar.
Langkah Strategis Menuju Generasi 2045Peluncuran CKG juga diposisikan sebagai bagian dari upaya besar menyukseskan Visi Indonesia Emas 2045. Menteri Agama menggarisbawahi bahwa pendidikan kesehatan sejak dini merupakan investasi jangka panjang bagi lahirnya generasi unggul, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
"Jadi saya ingatkan tadi, dari peserta didik Kementerian Agama sebanyak 12,5 juta tadi itu. Maka CKG di lembaga pendidikan agama dan keagamaan menjadi krusial dan mendukung visi Indonesia 2045," tutur Menag.
Ia pun mengimbau seluruh lembaga pendidikan agama untuk tidak sekadar menjadi tempat pelaksanaan, tetapi juga aktif dalam proses teknis. Termasuk menyiapkan fasilitas seperti alat ukur tinggi badan, timbangan, serta formulir pemeriksaan penglihatan. Guru dan tenaga pendidikan juga diharapkan terlibat langsung dalam proses pendampingan siswa.
“Tidak hanya menyiapkan ruang kelas dan aula sebagai tempat pemeriksaan, tetapi juga menyediakan alat ukur tinggi badan, timbangan, dan lembar pemeriksaan penglihatan. Guru dan tenaga kependidikan juga kami minta terlibat dalam proses pendampingan teknis,” jelas Menteri Agama.
Pengawasan Ketat dan Penguatan Teknologi DigitalUntuk memastikan program berjalan maksimal, Kemenag juga akan mengawasi pelaksanaan CKG di seluruh wilayah Indonesia. Menteri Nasaruddin memberi peringatan kepada jajaran Kanwil dan Kankemenag agar serius menjalankan program ini.
"Siapa pun sekolah-sekolah yang tidak memberikan perhatian penuh, nanti kami akan berikan semacam perhatian khusus," kata Menag.
"Jadi sekaligus ini kami mengimbau kepada seluruh Kepala Kanwil se-Indonesia kalau nanti saya tahu ada di antara sekolah yang tidak mendapatkan pemeriksaan, nanti akan saya panggil para Kepala Kanwil dan Kankemenag-nya," imbuhnya.
Selain itu, Kemenag juga akan mendorong penggunaan teknologi digital dalam program ini. Para siswa dan orang tua akan diberikan sosialisasi tentang aktivasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pemanfaatan aplikasi Satu Sehat Mobile. Dengan sistem digital ini, hasil pemeriksaan bisa dipantau langsung secara daring dan berkelanjutan.
Gerakan Nasional Kesehatan Berbasis Nilai AgamaMenteri Agama mengharapkan agar pelaksanaan CKG tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi menjadi gerakan nasional jangka panjang dalam membangun kesadaran hidup sehat yang bersumber dari ajaran agama.
“Dengan menjangkau anak-anak dari berbagai agama dan latar belakang, program ini menjadi simbol nyata bahwa membangun masa depan bangsa harus dimulai dari kerja bersama lintas iman, lintas institusi, dan lintas generasi,” pungkas Menag.
(lam)