LANGIT7.ID-Suatu hari, Baghdad gempar.
Baginda Sultan Harun Al-Rasyid, pemimpin kekhalifahan yang agung, mendengar kabar mengejutkan: dirinya telah dijual menjadi budak oleh orang yang paling ia percayai kelicikannya:
Abu Nawas.
"Menjual aku?!" Baginda menggelegar dari singgasananya, membuat dayang-dayang dan pengawal kecut ketakutan. "Tangkap dia! Seret ke istana! Aku akan menjadikannya budak sungguhan dan menyuruhnya memandikan unta!"
Namun, Abu Nawas bukan tokoh sembarangan. Ia sudah mencium aroma bahaya jauh sebelum para prajurit sempat melangkah keluar. Ia pun segera kabur bak angin gurun dan bersembunyi di tempat rahasia yang bahkan jin sekalipun sulit menemukannya.
Setelah mata-mata kerajaan melaporkan bahwa perburuan telah reda, barulah Abu Nawas pulang dengan langkah ringan. Tapi belum sempat duduk, istrinya sudah menyambutnya dengan wajah tegang.
"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi datang mencarimu!" bisiknya panik.
Baca juga: Bukan Sekadar Lelucon: Abu Nawas Menjual Rajanya Agar Kekuasaan Tak Buta Nurani Abu Nawas menghela napas panjang. “Tenang, wahai istriku. Memang aku menjual Baginda sebagai budak.”
Istrinya hampir pingsan. “Astaghfirullah, apa maksudmu?!”
"Agar Baginda tahu rasanya jadi rakyat kecil yang dijual semena-mena. Ini bentuk dakwah... gaya sufi," jawab Abu Nawas dengan penuh filosofi.
Namun begitu mendengar kemungkinan dihukum mati, ia pun berkata, “Ini saatnya aku memakai ilmu terakhir yang kuturunkan dari guruku...”
Ia pun mengambil air wudhu, salat dua rakaat, lalu berbisik pada istrinya, “Jika Baginda datang ke rumah... bilang aku sudah meninggal dunia!”
Skenario dimulai. Tak lama, suara jeritan sang istri menggelegar di lingkungan rumah mereka. “Huuuwaaaa... Abu Nawas matiiii...!!!”
Kabar pun menyebar cepat. Bahkan sebelum ayam sempat berkokok dua kali, kabar kematian Abu Nawas telah sampai ke telinga Baginda Sultan.
Sang Sultan yang awalnya murka, kini terdiam. “Dia memang licik... tapi juga lucu.” Ia pun datang ke rumah Abu Nawas, ditemani tabib kerajaan.
Baca juga: Kisah Kocak Penuh Hikmah Abu Nawas: Tiga Jawaban, Satu Pertanyaan Tabib memeriksa tubuh Abu Nawas yang terbujur di atas tikar. Nafasnya ditahan, matanya merem, dan ia sukses tidak tertawa saat jenggot tabib menyapu wajahnya. Tabib pun berkata, “Benar, Paduka. Abu Nawas sudah wafat.”
Maka Sultan, yang masih punya kelembutan hati di balik jubah kekuasaannya, bertanya kepada istri Abu Nawas, “Apakah dia meninggalkan pesan?”
Sambil terisak, sang istri berkata, “Ia mohon agar Baginda sudi mengampuni segala dosanya... dunia dan akhirat... di depan rakyat.”
Sultan mengangguk. “Baik. Aku maafkan dia. Kalian semua jadi saksinya!”
Upacara pemakaman pun digelar di tanah lapang. Jenazah diangkat dalam keranda yang dibungkus kain hijau. Penduduk berkumpul, dan Baginda dengan suara lantang bersabda, “Wahai rakyatku! Saksikanlah! Aku, Sultan Harun Al-Rasyid, telah memaafkan semua kesalahan Abu Nawas.”
Tiba-tiba dari dalam keranda terdengar suara: "Syuuukuuuuuur...!"
Pengusung keranda panik. Sebagian lari terbirit-birit, sebagian lagi pingsan sambil berguling ke sawah. Abu Nawas pun bangkit dari keranda—berpakaian putih, mukanya tenang, senyumnya manis.
Baginda Sultan terbelalak. “Kau... kau... mayat hidup?! Jin?!”
“Bukan, Baginda,” jawab Abu Nawas. “Ini cuma trik. Tapi hamba sungguh berterima kasih atas ampunan Baginda.”
“Jadi kau hidup?!"
Baca juga: Abu Nawas dan Strategi Gelayutan: Mengelabui Mimpi Sang Raja “Alhamdulillah, bahkan sekarang lapar. Boleh hamba pulang dulu?”
Baginda menghela napas, antara geram dan kagum. “Ilmu apa yang kau pakai?!”
“Ilmu *mati sementara*, Baginda. Warisan mahaguru sufi hamba.”
“Ajarkan padaku!” perintah Sultan.
“Wah... tidak bisa, Tuanku. Ini hanya bisa dilakukan... sekali seumur hidup.”
“Dasar licik tapi lucu!” ujar Baginda, lalu tertawa terpingkal-pingkal, diikuti seluruh rakyat yang akhirnya sadar bahwa Abu Nawas memang lebih licik dari siapa pun… termasuk malaikat pencatat amal.
Hikmah cerita:Kadang-kadang, untuk menyampaikan kritik, seseorang perlu berpura-pura mati agar bisa hidup kembali—dengan damai dan pengampunan.
1. Kecerdikan bisa menjadi alat kritik sosial.
Abu Nawas tidak melawan kekuasaan dengan kekerasan, melainkan dengan kecerdasan. Ia menyampaikan kritik tajam terhadap ketidakadilan—dalam hal ini praktik perbudakan—dengan cara yang jenaka namun mengena.
2. Ampunan lebih mulia daripada balas dendam.
Meski awalnya murka, Sultan Harun Al-Rasyid akhirnya memilih memaafkan Abu Nawas. Ini menunjukkan bahwa pemimpin yang bijak adalah mereka yang mampu menahan amarah dan mengedepankan kasih sayang.
Baca juga: Saat Raja Memesan Mahkota Surga dan Abu Nawas Menjawab dengan Canda Berhikmah 3. Kadang kebenaran butuh topeng agar bisa diterima.
Abu Nawas tahu bahwa berkata jujur secara langsung kepada penguasa bisa berujung petaka. Maka ia memakai “sandiwara kematian” sebagai strategi agar pesannya sampai tanpa harus binasa.
4. Humor adalah senjata paling ampuh menghadapi kekuasaan.
Dengan satu kata: "Syukuuuur!" Abu Nawas membalikkan suasana dari duka menjadi tawa, dari ketegangan menjadi kelapangan. Humor yang cerdas mampu mencairkan kekerasan hati dan membuka jalan dialog.
5. Berpura-pura mati kadang perlu, asalkan untuk hidup yang lebih bermakna.
Dalam konteks simbolik, Abu Nawas “mati” demi membuka ruang pengampunan, dan “hidup kembali” dengan pelajaran penting bagi penguasa dan rakyat: bahwa pengampunan dan tawa bisa menyelamatkan negeri dari ketegangan yang tak perlu.
Singkatnya, kisah ini juga mengajarkan bahwa akal sehat, seni bicara, dan keberanian moral adalah kekuatan sejati seorang manusia—bahkan lebih hebat dari pedang dan kekuasaan.
Baca juga: Abu Nawas dan Bayi yang Diperebutkan: Ketika Keadilan Datang Bersama Tawa(mif)