LANGIT7.ID-Di tengah panasnya padang pasir, ketika matahari menyengat ubun-ubun dan tanah memancarkan hawa mendidih, seorang laki-laki dari
Bani Israil berjalan dengan langkah gontai. Rasa haus mencekiknya. Peluh membasahi tubuh, kerongkongan kering, dan pandangannya mulai kabur.
Dalam kondisi demikian, ia menemukan sebuah sumur. Tanpa berpikir panjang, ia turun ke dalamnya, meminum air sepuas hati, lalu naik kembali dengan tubuh yang mulai segar. Tapi tepat setelah ia keluar dari sumur itu, matanya menangkap pemandangan yang menggetarkan nuraninya.
Seekor anjing, makhluk yang oleh sebagian masyarakat dipandang hina, sedang menjilat-jilat tanah basah di dekat sumur. Nafasnya tersengal. Lidahnya terjulur panjang, menandakan rasa haus yang hampir merenggut nyawanya. Lelaki itu terdiam. Hatinya tergerak. Ia teringat rasa haus yang baru saja ia alami. Jika dirinya yang berakal nyaris tak tahan, bagaimana pula makhluk kecil ini?
Tanpa ragu, ia kembali turun ke dalam sumur. Karena tak memiliki bejana, ia melepas sepatunya, mengisinya dengan air, lalu menggigitnya dengan gigi agar kedua tangannya bisa digunakan untuk memanjat. Ia naik perlahan, membawa sepatu berisi air. Lalu, dengan lembut, ia tuangkan air itu untuk diminum oleh sang anjing.
Sang anjing meneguknya dengan rakus. Nafasnya menjadi teratur kembali. Hidupnya terselamatkan.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Suara Bayi dan Seekor Anjing Perbuatan kecil, mungkin tampak sepele bagi manusia. Tapi tidak bagi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya." (HR. Bukhari no. 2363; Muslim no. 2244)
Dalam riwayat lain bahkan disebutkan, Allah memasukkannya ke dalam surga sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap makhluk-Nya yang lemah.
Lalu Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya:
"Pada setiap yang memiliki jantung yang basah (makhluk hidup), ada pahala."
Hadis ini menjadi penegas betapa Islam adalah agama kasih sayang. Bahkan kepada seekor anjing, hewan yang oleh banyak ulama dikategorikan sebagai najis. Tapi kasih sayang yang tulus dan tindakan menyelamatkan nyawa, tetap dinilai sebagai amal agung di sisi Tuhan.
Kisah ini mengajarkan bahwa pintu ampunan Allah sangatlah luas. Dosa seseorang, seberapa pun kelamnya, bisa diampuni karena satu tindakan tulus yang menyentuh langit. Tidak dibutuhkan gelar, bukan pula karena ibadah besar yang terlihat megah. Tapi karena kelembutan hati, empati, dan pengorbanan kecil yang lahir dari ketulusan.
Baca juga: Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit Islam tidak memandang besar atau kecilnya tindakan, melainkan keikhlasan di balik amal itu. Seorang pezina pun bisa masuk surga karena memberi minum anjing. Sebaliknya, orang yang rajin ibadah bisa masuk neraka karena menyiksa seekor kucing.
Di zaman ini, ketika empati mulai tumpul dan manusia kerap bersikap kasar kepada sesama, apalagi kepada binatang, kisah ini menjadi pengingat yang menggugah. Bahwa dalam memberi air kepada makhluk yang kehausan, tersembunyi gerbang ampunan Tuhan.
(mif)