LANGIT7.ID-Di ruang sejarah para nabi, nama
Ibrahim ‘alaihissalam menempati tempat terhormat. Ia dihormati dalam tiga agama besar—Islam, Kristen, Yahudi—sebagai bapak para nabi. Namun, dalam satu riwayat yang masyhur,
Rasulullah ﷺ mengungkap sisi unik perjalanan hidupnya: Nabi Ibrahim tak pernah berdusta, kecuali tiga kali. Dua di antaranya demi membela tauhid. Satu lagi demi melindungi kehormatan istrinya, Sarah.
Hadis riwayat Abu Hurairah yang termaktub dalam Shahih Muslim nomor 4371 mencatat, “Tidak pernah Nabi Ibrahim berdusta kecuali tiga kali: dua kali dalam perkara Allah, dan satu kali dalam urusan Sarah.” Dusta pertama diabadikan dalam Surat ash-Shaffat ayat 89, saat Ibrahim berkata kepada kaumnya, inni saqim—“Sesungguhnya aku sakit.” Dusta kedua terekam dalam Surat al-Anbiya ayat 63: Bal fa‘alahu kabiruhum hadza—“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.” Kedua ucapan ini, menurut para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, adalah strategi retoris untuk mematahkan logika penyembah berhala.
Dusta ketiga terjadi di luar medan perdebatan akidah. Sebuah peristiwa yang menyangkut keselamatan rumah tangganya. Kala itu, Ibrahim mengembara bersama Sarah menuju negeri yang diperintah seorang raja lalim. Kecantikan Sarah, kata riwayat itu, “termasyhur tiada banding.” Ibrahim berbisik pada istrinya: jika sang raja tahu mereka suami-istri, Sarah akan dirampas. “Katakan engkau saudaraku,” pesan Ibrahim, “sebab aku tidak tahu ada orang beriman di negeri ini selain aku dan engkau.”
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Menggugat Tuhan-Tuhan Kosmetik Benar saja, mata-mata istana segera melapor. Sarah dipanggil ke hadapan raja. Ibrahim, menurut hadis itu, berdiri menunaikan salat. Saat sang raja hendak menjamahnya, tangannya seketika terkunci kaku. Ia memohon kepada Sarah untuk berdoa agar Allah melepaskannya, berjanji tak akan mengganggunya lagi. Tapi tiga kali pula ia mengulang perbuatannya—dan tiga kali pula tangannya terkunci lebih keras. Pada akhirnya, ia menyerah. “Engkau bukan perempuan, tapi setan yang dibawa kepadaku,” seru raja itu, lalu mengusir Sarah dan memberinya seorang budak perempuan, Hajar.
Ketika Sarah pulang, Ibrahim menghentikan salatnya dan menyambutnya. “Apa kabar?” tanya sang nabi. Sarah menjawab, “Allah telah menahan tangan orang fajir itu, dan memberiku seorang pelayan.” Dari keturunan Hajar inilah, kelak lahir Nabi Ismail.
Riwayat ini, menurut Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari (IslamHouse, 2013), mengandung hikmah besar: bahkan tindakan yang tampak seperti kebohongan, jika dilakukan demi melindungi akidah dan kehormatan, bisa menjadi bagian dari strategi dakwah para nabi. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa tiga “dusta” itu bukan kebohongan tercela, melainkan tauriyah—ucapan yang mengandung makna ganda, sah digunakan untuk menghindari kezaliman.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali Tentang sosok Ibrahim sendiri, para sejarawan klasik tak sepakat di mana ia dilahirkan. Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah menyebut kemungkinan ia lahir di Babilonia (al-Kaldaniyyin), lalu berhijrah ke negeri Kan’an dan menetap di Harran serta Syam. Sementara Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk menguatkan pendapat bahwa nama ayahnya adalah Azar, sebagaimana disebut dalam Surat al-An‘am ayat 74.
Kisah “tiga dusta” itu, yang berawal dari penolakan terhadap berhala hingga perlindungan terhadap kehormatan istri, menegaskan satu hal: Ibrahim adalah sosok yang mengutamakan misi tauhid di atas segalanya, bahkan ketika harus memainkan kata-kata.
(mif)