Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Umat, Moderasi, dan Gerak Sejarah: Menelusuri Makna yang Terlupakan

miftah yusufpati Rabu, 27 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Umat, Moderasi, dan Gerak Sejarah: Menelusuri Makna yang Terlupakan
Umat bukan sekadar kelompok yang menghimpun manusia dengan kesamaan agama, tapi entitas yang punya visi, misi, dan tanggung jawab moralbaik terhadap diri sendiri maupun terhadap dunia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID– Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “umat” didefinisikan singkat: para penganut suatu agama, atau makhluk manusia. Sebuah arti yang lugas, tapi, seperti dicatat Prof Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, pengertiannya tak sesederhana itu.

Dalam ensiklopedi filsafat, “umat” pernah dipahami sebagai bangsa. Al-Mu’jam Al-Falsafi, kamus filsafat yang diterbitkan Majma’ Al-Lughah Al-‘Arabiyah di Kairo (1979), bahkan menyamakannya dengan “negara”. Perbedaan tafsir ini menimbulkan persoalan serius: jangan-jangan kita memahami konsep Al-Quran secara keliru hanya karena terjebak pada batasan sempit sebuah kata.

Quraish Shihab mengupas akar katanya: amma–yaummu, yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Dari akar ini lahir kata *umm* (ibu) dan imam (pemimpin)—dua kata yang berperan sebagai pusat harapan. “Ada dinamika dalam kata ini, bukan statis,” tulisnya.

Namun, berapa jumlah anggota yang layak disebut satu umat? Ulama berbeda pendapat. Ada yang merujuk riwayat Nabi SAW tentang 100 orang yang menyalatkan jenazah, lalu diampuni dosanya (HR An-Nasa’i). Ada juga yang menetapkan angka 40. “Empat puluh orang,” jawab Abu Al-Malih ketika ditanya tentang jumlah minimal itu.

Baca juga: Tubuh yang Sakit, Umat yang Rapuh: Krisis Solidaritas di Era Digital

Tapi Al-Quran lebih lentur. Dalam tafsir Ar-Raghib, umat adalah “setiap kelompok yang dihimpun oleh sesuatu: agama, waktu, atau tempat, baik secara terpaksa maupun sukarela.” Definisi ini melampaui batas manusia. Bahkan hewan pun disebut umat.

Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi, dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali umat-umat juga seperti kamu.” (QS Al-An’am: 38).

Hadis Nabi menegaskan: semut dan anjing pun termasuk umat (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i).

Benang Merah: Himpunan

Ad-Damighani, mufasir klasik abad ke-11, menghitung kata umat muncul 52 kali dalam Al-Quran, dengan sembilan arti: kelompok, agama tauhid, waktu, kaum, pemimpin, generasi, umat Islam, orang kafir, hingga manusia seluruhnya. Satu benang merah mengikat semuanya: himpunan yang bergerak ke satu arah.

Karena itu, Nabi Ibrahim disebut umat meski seorang diri. “Ia menjadi imam, pemimpin yang diteladani,” tulis Quraish Shihab mengutip QS Al-Nahl: 120.

Dalam tafsir modern, Ali Syariati memberikan sentuhan sosiologis: umat adalah himpunan manusia yang bergerak menuju satu arah, bahu membahu, dengan kepemimpinan bersama. Beda dengan *nation* yang statis, umat mengandung gerak.

Al-Quran mengabadikan predikat khas umat Muhammad: ummatan wasatha (QS Al-Baqarah: 143). Kata wasath mula-mula berarti yang baik dan seimbang. Ia menjadi simbol keadilan dan moderasi. “Posisi tengah yang memungkinkan umat Islam tampil sebagai saksi bagi peradaban,” tulis Quraish Shihab.

Makna ini aktual ketika dunia dihadapkan pada ekstremisme dan liberalisme. Moderasi bukan sekadar sikap, tapi identitas teologis. Ia menuntut keterbukaan terhadap dialog, karena umat yang menutup diri tak akan pernah bisa menjadi saksi yang adil.

Baca juga: Al-Qur’an dan Tugas Sosial Umat: Dari Teks ke Aksi

Kata “umat” ternyata tak sebatas label keagamaan. Ia menuntut gerak dinamis, arah, jalan hidup, dan gaya interaksi. “Untuk menuju satu arah, harus jelas jalannya, dan harus bergerak maju,” tulis Quraish Shihab.

Di tengah polarisasi global, tafsir ini mengandung pesan strategis: umat bukan sekadar kelompok yang menghimpun manusia dengan kesamaan agama, tapi entitas yang punya visi, misi, dan tanggung jawab moral—baik terhadap diri sendiri maupun terhadap dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)