LANGIT7.ID-“Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok?”—bait seorang penyair Arab kuno itu kerap dikutip Syaikh Yusuf al-Qardhawi untuk menjelaskan satu hal: mustahil perbuatan umat bisa lurus bila cara berpikirnya masih bengkok.
Dalam
Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), ulama kelahiran Mesir itu menekankan bahwa pelurusan pemikiran harus menjadi prioritas perjuangan Islam, bahkan lebih utama ketimbang gerakan fisik atau politik. “Pertarungan pemikiran yakni meluruskan ide yang menyimpang dan konsep yang tidak benar digolongkan sebagai perang besar,” tulisnya, merujuk pada al-Qur’an surat al-Furqan.
Qardhawi membagi medan perang pemikiran ke dalam dua lingkaran. Pertama, melawan tantangan luar: ateisme, orientalisme, hingga warisan kolonial yang memerangi aqidah dan budaya Islam. Kedua, pertempuran internal: meluruskan praktik beragama agar tak melenceng dari tujuan syariat.
Bagi Qardhawi, justru lingkaran kedua ini yang paling mendesak. “Perbaikan secara internal merupakan dasar yang harus diberi prioritas,” tulisnya. Tanpa basis pemikiran sehat, umat mudah terseret dalam arus: dari khurafat, taqlid, hingga politik instan.
Baca juga: Hukum Bunga Bank Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi Empat ArusDalam kerangka besar itu, Qaradawi mengidentifikasi empat arus pemikiran yang mengitari umat Islam.
Pertama, arus khurafat: berisi akidah menyimpang, bid’ah ibadah, hingga politik yang dijalankan lewat tipu daya. Kedua, arus literal: keras dalam agama tapi kering dari ruh, sibuk pada formalisme dan perselisihan hukum. Ketiga, arus reaktif dan keras: penuh semangat, tapi mudah mengkafirkan dan tergesa-gesa menempuh jalan kekerasan.
Baru yang keempat, arus moderat: jalan tengah yang menyeimbangkan teks dan konteks, menggabungkan warisan salaf dengan ijtihad kontemporer, serta membuka ruang dialog dengan non-Muslim maupun Muslim yang berbeda pandangan. Inilah, menurut Qaradawi, wajah Islam yang paling dekat dengan cita-cita peradaban Qur’ani.
Relevansi KontemporerDalam konteks dunia Islam hari ini, gagasan Qaradawi terasa relevan. Gelombang fundamentalisme keras, tafsir literal sempit, hingga sikap reaktif terhadap modernitas, masih menyisakan luka panjang.
“Memahami ajaran agama secara menyeluruh dan mendalam, tanpa mengabaikan kehidupan nyata dan hukum-hukum masyarakat, adalah jalan moderasi,” tulis Qaradawi. Moderasi itu pula yang kini jadi jargon banyak pemerintah Muslim, dari Mesir hingga Indonesia, meski implementasinya sering berhenti pada retorika.
Baca juga: Tingkatan Hukum Syar'i Menurut Syaikh Yusuf Al-QardhawiQaradawi mengutip sebuah hadis: “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lidah kalian.” Bagi dia, lidah—yakni penjelasan, dialog, dan argumentasi—adalah senjata utama di zaman ideologi bertarung. Dengan kata lain, jihad intelektual mendahului jihad politik apalagi jihad bersenjata.
Lebih dari seperempat abad sejak buku itu diterbitkan, pesan Qaradawi tetap terasa: bahwa sebelum umat terjun ke gelanggang politik, tongkat pemikirannya harus diluruskan terlebih dahulu. Sebab, seperti ditulisnya, “Tidak masuk akal amal perbuatan meniti jalan yang benar kalau pemikirannya tidak lurus.”
(mif)