LANGIT7.ID-Pasar Ukaz adalah panggung besar bagi Arab pra-Islam—sebuah “festival manusia” di tengah gurun. Setiap bulan Zulhijah, ribuan kabilah datang menuntun unta, membuka tenda, dan menjajakan barang dari Yaman dan Syam. Di sana, kata-kata menjadi senjata; penyair adalah bintang, dan kebanggaan suku kerap meledak menjadi peperangan.
Di antara riuh itu, seorang pemuda tinggi besar berdiri di tepi kerumunan. Tubuhnya tegap, kulitnya kemerahan, sorot matanya tajam. Ia tak ikut bersorak, hanya mengangguk perlahan menikmati bait-bait puisi yang disuarakan penyair. Dialah Umar bin Khattab, pemuda Quraisy dari kabilah Banu Adi, putra seorang ayah keras bernama Khattab, dan ibu bernama Hantamah binti Hasyim.
Ketika pasar berubah menjadi gelanggang gulat, Umar tak pernah menolak tantangan. Ia dikenal di Ukaz bukan karena tutur manisnya, melainkan karena bahunya yang kokoh dan tinjunya yang cepat. Sekali banting, lawan jatuh. Sorak membahana. Gadis-gadis dari tenda-tenda Yaman menatap dengan kagum. Di kalangan pemuda, nama Umar berarti “tak terkalahkan.”
Malamnya, ia singgah di warung minum di tepi pasar. Di sana, khamar mengalir deras, dan tawa bersahutan. Gadis pelayan menatapnya dengan senyum yang hanya ditujukan padanya. Umar membalas dengan tutur lembut—sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Ia minum paling banyak, bercerita paling lantang, membahas soal kuda, perempuan, dan silsilah. Seorang sahabat menggoda, mengutip syair sepupunya, Zaid bin Amr, yang menolak menyembah berhala. Wajah Umar langsung mengeras. “Celaka dia,” katanya. “Uzza tidak akan mengampuninya!”
Fanatisme itu adalah cermin zamannya. Umar tumbuh dalam masyarakat yang menuhankan berhala, mengukur kehormatan lewat darah dan silsilah. Ia keras karena lingkungannya menuntut begitu. Ayahnya, Khattab, dikenal garang terhadap anaknya—memukul bila ternak terlambat digiring, mencaci bila kerja kurang cepat. “Aku pernah menggembala untuk Khattab di lembah Dajnan,” kenang Umar di masa kekhalifahannya. “Dia kasar, payah benar aku bekerja dengannya.” (Haekal, Al-Faruq Umar, 2000, hlm. 42–43).
Namun dari kekerasan itu tumbuh keteguhan. Umar belajar disiplin, loyalitas, dan rasa malu bila kalah. Ia menolak bertarung dua kali melawan lawan yang sudah dikalahkan. “Tidak kesatria,” katanya. Ia juga cepat belajar. Pengetahuannya tentang silsilah dan adat Arab membuatnya sering dimintai pendapat oleh kawan-kawannya di pasar.
Pasar Ukaz bukan hanya tempat dagang. Ia adalah universitas terbuka bagi bangsa Arab: di sana lahir penyair, perantau, dan calon pemimpin. Umar datang ke sana tahun demi tahun—bergulat, berpacu kuda, berdialog dengan pedagang Yaman, atau sekadar menonton pertunjukan syair. Kemenangan di gelanggang Ukaz memberinya reputasi; tapi kesadaran sejati belum datang. Ia masih pemuda jahiliah yang bangga pada suku dan darahnya.
Di balik tubuh yang tegap, sejarah menyimpan benih perubahan. Sifat keras yang dulu membuatnya disegani di pasar, kelak menjadikannya benteng bagi Islam. Tangan yang dulu menenggak khamar, kelak menggenggam pedang demi menegakkan keadilan.
Sebagaimana ditulis Muhammad Husain Haekal dalam
Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), “Di masa mudanya Umar adalah potret sempurna manusia Arab sebelum Islam—gagah, fanatik, cerdas, dan mudah marah. Tapi ketika cahaya Islam menyentuh hatinya, semua tenaga itu berpindah arah: dari kebanggaan suku menjadi kekuatan iman.”
Dan begitulah, dari pasar Ukaz yang riuh, sejarah menyiapkan seorang pemuda keras untuk menjadi khalifah yang lembut terhadap rakyatnya—dan tegas terhadap dirinya sendiri.
(mif)