Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 27 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Asal Mula Maulid Nabi, Dipopulerkan Salahuddin Al Ayubi untuk Membebaskan Al Aqsha

Muhajirin Jum'at, 08 Oktober 2021 - 20:29 WIB
Asal Mula Maulid Nabi, Dipopulerkan Salahuddin Al Ayubi untuk Membebaskan Al Aqsha
Ilustrasi perayaan Maulid Nabi di Masjidil Aqsha oleh umat Islam di Palestina pada tahun 2017 (foto: middleeastmonitor.com)
LANGIT7.ID - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi baik yang berkembang di tengah masyarakat muslim untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mayoritas Ulama sepakat Rasulullah SAW lahir pada 12 Rabiul Awal di Kota Makkah. Tahun ini, peringatan maulid akan jatuh pada 19 Oktober 2021 mendatang.

Baca Juga: Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai

Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), Prof Dr. M. Quraish Shihab menyebut perayaan maulid nabi belum dikenal pada masa sahabat. Perayaan maulid pertama kali diperkenalkan pada abad keempat Hijriah.

“Perayaan maulid tidak dikenal pada masa ‘Utsman, bahkan pada abad-abad pertama Hijriah. Perayaan maulid baru diperkenalkan oleh Dinasti Fatimiyah abad keempat Hijriah di Mesir dan lain-lain,” kata Quraish Shihab, dikutip dari laman cariustadz.id, Jumat (8/10/2021).

Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali dikenal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Dinasti itu berkuasa pada rentang 362-567 H.

Baca Juga: Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi

Dinasti Fatimiyah juga mengadakan hari Asyura, Maulid Ali, Maulid Hasan, Maulid Husein, Maulid Fatimah dan lain sebagainya. Perayaan maulid sempat dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali diperbolehkan pada masa Amir li Ahkamillah pada 524 H.

Perayaan maulid kembali dilakukan pada masa kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi pada 1183 M (579 H) atas usulan saudara iparnya, Muzaffaruddin. Ini bertujuan untuk meningkatkan semangat juang pasukan muslim saat menghadapi Perang Salib untuk merebut Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha.

Quraish Shihab menambahkan, ada pula yang berpendapat Maulid pertama kali dilakukan di wilayah Mushil Irak oleh Syekh Umar bin Muhammad al-Mala’. Kemudian ditiru oleh al-Malik al-Muzhaffar Abu Sa’id di kota Irbil di Irak. Ketika itu dibacakan satu buku kisah Maulid Nabi SAW yang bernama “at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”.

Baca Juga: Shalawat Mansub, Ijazah Habib Sholeh Tanggul saat Hadapi Kesulitan

Al-Malik al-Muzhaffar menghadiahkan kepada pengarang buku itu seribu dinar. Sejak itulah perayaan maulid dilakukan dengan memperdengarkan kisah perjuangan dan budi pekerti Nabi SAW, sambil memperbanyak sedekah dan menampakkan kegembiraan.

Di Indonesia, perayaan maulid tidak terlepas dari ajaran dan pengaruh Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Perayaan maulid berakulturasi dengan budaya Jawa dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai Grebeg Mulud.

Perayaan maulid nabi di Indonesia biasanya diselenggarakan dengan membaca manaqib Nabi Muhammad dalam Kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan sebagainya.

Di Indonesia juga dilakukan berbagai acara lain yang disiapkan secara bersama-sama dan gotong royong seperti makan bersama. Semua upaya tersebut dilakukan dalam rangka mengenalkan lebih dekat Nabi Muhammad SAW, agar umat Islam bisa senantiasa meneladani sikap, perilaku, dan tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah.

Baca Juga: Cinta Rasulullah pada Fakir Miskin, Dahulukan Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan Pribadi

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 27 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)