LANGIT7.ID–Aceh; Rangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam sepekan terakhir memunculkan respons keagamaan dan sosial yang kuat dari masyarakat. Di tengah kerusakan ribuan rumah, gelombang pengungsian, serta laporan ratusan korban jiwa, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh menekankan perlunya doa bersama sebagai bentuk solidaritas.
Seruan tersebut disampaikan Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali, yang menilai bahwa keadaan ini menuntut masyarakat untuk menguatkan sisi spiritual sekaligus menjaga ketenangan sosial. Ia menginstruksikan pelaksanaan shalat ghaib di seluruh Aceh sebagai penghormatan bagi korban meninggal dunia.
“Kita mengajak seluruh jamaah, imam masjid, dan khatib Jumat untuk melaksanakan shalat ghaib bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah ini. Doa kita adalah bentuk cinta dan kepedulian sesama,” ujar Tgk Faisal Ali dalam keterangannya, dikutip Senin (8/12/2025).
Shalat Ghaib sebagai Wujud Kebersamaan UmatPWNU Aceh meminta agar shalat ghaib dilakukan setelah shalat lima waktu maupun setelah shalat Jumat, baik di meunasah maupun masjid. Ajakan ini dimaksudkan agar masyarakat tetap saling terhubung secara emosional meski berada dalam situasi darurat.
Selain itu, Tgk Faisal Ali menilai bahwa bencana ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan, memperbanyak istighfar, dan kembali menata sikap hidup di tengah cobaan yang tidak ringan.
Penekanan Etika di Masa KrisisTgk Faisal Ali—yang akrab disapa Abu Sibreh—menyoroti pentingnya menjaga akhlak publik. Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari tindakan yang memperburuk keadaan, seperti menyebarkan kabar palsu, menimbulkan keresahan, atau mengambil keuntungan pribadi dari naik-turunnya harga kebutuhan pokok.
“Saya berharap masyarakat, terutama generasi muda, menjaga tutur kata dan sikap. Jangan ada yang menyebarkan hoaks atau mempermainkan harga kebutuhan pokok. Ini saatnya gotong royong, bukan mengambil kesempatan,” tegasnya.
PWNU Aceh juga menegaskan bahwa kerja kolaboratif antara pemerintah, relawan, dan masyarakat menjadi kunci agar bantuan menjangkau seluruh wilayah terdampak, termasuk daerah yang aksesnya terhambat.
Momentum Muhasabah dan Penguatan ImanDalam seruannya, Tgk Faisal Ali menekankan dimensi spiritual dari bencana yang terjadi. Ia mengajak masyarakat menjadikan peristiwa ini sebagai ruang muhasabah bersama.
“Musibah yang terjadi bisa menjadi teguran agar kita memperbaiki diri, lingkungan, dan hubungan kepada Allah. Karena itu, mari memperbanyak doa, sedekah, saling membantu, dan memohon keselamatan kepada Allah Swt,” lanjutnya.
PWNU Aceh memastikan pihaknya berada di lapangan melalui relawan Ansor-Banser, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah daerah untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, serta pelayanan kesehatan.
Harapan agar Musibah Segera BerakhirSejumlah titik bencana masih menghadapi keterbatasan akses, sehingga pengiriman bantuan dilakukan secara bertahap. Shalat ghaib yang digelar di berbagai wilayah Aceh diharapkan menjadi doa bersama agar kondisi segera pulih.
“Semoga Allah memberi ampunan kepada para korban, kesabaran kepada keluarganya, dan keselamatan bagi seluruh masyarakat Aceh,” pintanya.
(lam)