Sesudah Isra, Menjaga Umat: Peran Abu Bakar di Masa Paling Gelap
miftah yusufpatiRabu, 24 Desember 2025 - 05:15 WIB
Kisah Isra membuat banyak orang Mekah mencibir, bahkan sebagian Muslim goyah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Peristiwa Isra bukan hanya ujian iman, tetapi juga titik balik tanggung jawab. Setelah Abu Bakar As-Siddiq membenarkan Nabi tanpa ragu, perannya tidak berhenti pada satu kalimat bersejarah. Justru sejak saat itu, beban sosial dan strategis di pundaknya kian berat.
Muhammad Husain Haekal mencatat bahwa Abu Bakar tetap menjalankan usaha dagangnya seusai Isra. Aktivitas ekonomi itu bukan sekadar urusan pribadi, melainkan fondasi bagi peran lain yang lebih besar. Dari hasil dagangnya, ia menopang kaum Muslimin yang tertindas, membebaskan budak, dan memastikan mereka yang lemah tidak sendirian menghadapi tekanan Kuraisy.
Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama Nabi. Ia menjadi pendamping setia, pelindung, sekaligus perantara dakwah. Ketika Nabi mulai kehilangan harapan terhadap penduduk Mekah dan mengalihkan perhatian ke kabilah-kabilah lain, Abu Bakar tetap berada di sisi beliau, menjaga barisan umat yang rapuh di kota itu.
Berbeda dengan sebagian Muslim yang hijrah ke Abisinia untuk menyelamatkan iman, Abu Bakar memilih bertahan di Mekah. Pilihan ini, menurut Haekal, lahir dari kesadaran akan kebutuhan umat terhadap figur penyangga. Mekah pada masa itu bukan hanya pusat penindasan, tetapi juga pusat dakwah. Kehadiran Abu Bakar menjadi penyeimbang antara tekanan eksternal dan ketahanan internal umat.
Sejarawan Islam seperti Fred M. Donner melihat fase Mekah akhir sebagai masa konsolidasi moral. Dalam konteks ini, peran Abu Bakar bersifat institusional meski belum berwujud negara. Ia mengatur perlindungan sosial, membangun jejaring simpati, dan mengelola sumber daya demi keberlangsungan komunitas Muslim.
Sikap lemah lembut Abu Bakar menjadi modal penting. Ia tidak hanya membela dengan keberanian fisik, tetapi juga dengan empati dan pengorbanan harta. Dalam masyarakat Quraisy yang menilai kehormatan melalui kabilah dan kekayaan, Abu Bakar menggunakan keduanya untuk membentengi Islam yang masih muda.
Di tengah kerasnya perlawanan Quraisy dan kegagalan dakwah ke Thaif, Abu Bakar berperan sebagai penjaga harapan. Ia memikirkan keamanan kaum Muslimin, mengatur cara hidup mereka, dan memastikan dakwah tidak padam meski pintu-pintu tampak tertutup.
Sesudah Isra, tugas Abu Bakar bukan lagi sekadar membenarkan Nabi. Ia menjadi penyangga umat, menghubungkan iman dengan tindakan nyata. Peran sunyi inilah yang kelak menjelaskan mengapa, ketika Nabi wafat, Abu Bakar tampil sebagai figur yang paling siap memikul kepemimpinan umat.
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.