LANGIT7.ID-Banyak kelelahan batin tidak datang dari beratnya pekerjaan, tetapi dari niat yang pelan-pelan bergeser. Awalnya kita melangkah karena ingin taat, ingin memberi manfaat, ingin mencari ridha Allah. Namun di tengah jalan, niat bercampur dengan keinginan diakui, dihargai, atau dibandingkan.
Allah ﷻ berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Ayat ini menegaskan bahwa kejernihan niat adalah sumber ketenangan dalam beramal.
Ketika niat tidak lurus, hati menjadi mudah kecewa. Sedikit kritik terasa menyakitkan, kurangnya apresiasi terasa menyesakkan. Padahal yang membuat amal bernilai bukan banyaknya pujian, tetapi keikhlasan di dalamnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini sederhana, tetapi menjadi timbangan bagi seluruh langkah hidup kita.
Malam ini, mari menepi sejenak dan bertanya pada diri sendiri: untuk siapa semua ini kita jalani? Saat niat kembali diluruskan, hati akan terasa lebih ringan. Kita tetap berusaha, tetap berkarya, tetapi tidak lagi menggantungkan bahagia pada penilaian manusia. Cukup Allah yang tahu, dan itu sudah lebih dari cukup(*/saf/Komunitas QM)
(lam)