LANGIT7.ID-Tidak semua luka terlihat. Ada yang tersimpan rapi di dalam hati, lahir dari kata-kata yang menyakitkan, sikap yang mengecewakan, atau harapan yang dikhianati. Luka seperti ini sering membuat hati mengeras tanpa disadari, seolah menjadi cara bertahan agar tidak sakit lagi.
Allah ﷻ berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Ayat ini mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah rahmat, bukan kelemahan.
Hati yang terluka memang butuh waktu untuk pulih. Namun jika luka dibiarkan berubah menjadi keras, ia justru akan menyakiti diri sendiri. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi membebaskan hati dari beban yang tidak perlu.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kekuatan sejati terletak pada kemampuan menjaga hati tetap jernih, meski pernah disakiti.
Malam ini, jika hati masih menyimpan luka, jangan terburu-buru memaksa diri untuk baik-baik saja. Serahkan rasa perih itu kepada Allah. Mohonkan hati yang lembut, bukan hati yang keras. Karena hati yang lembut lebih mudah menerima cahaya, dan lebih kuat menghadapi ujian kehidupan.(*/saf Komunitas QM)
(lam)