Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Diplomasi Para Nabi: Saat Ulul Azmi Menyerah pada Teka-teki Kiamat

miftah yusufpati Rabu, 28 Januari 2026 - 16:00 WIB
Diplomasi Para Nabi: Saat Ulul Azmi Menyerah pada Teka-teki Kiamat
Spekulasi waktu kiamat disebut sebagai kebodohan yang menentang otoritas mutlak Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam labirin eskatologi Islam, tak ada teka-teki yang lebih besar daripada jam dimulainya kiamat. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil dalam karyanya, Asyraathus Saa’ah, membentangkan sebuah narasi yang sangat kuat mengenai batas nalar manusia dan bahkan nabi.

Melalui edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, al-Wabil menegaskan bahwa waktu kiamat bukan sekadar rahasia, melainkan hak prerogatif mutlak yang tidak dibagikan Allah kepada makhluk mana pun, termasuk para nabi pemimpin peradaban.

Interpretasi al-Wabil ini berpijak pada sebuah fragmen sejarah langit yang sangat dramatis. Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud yang dicatat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, diceritakan pertemuan empat tokoh besar di malam Isra: Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Di sela-sela pertemuan agung itu, mereka berdiskusi tentang kiamat.

Hasilnya? Terjadi semacam diplomasi ketidaktahuan. Ibrahim alaihissallam menyatakan tidak memiliki ilmu tentangnya. Musa alaihissallam pun setali tiga uang. Ketika urusan itu dikembalikan kepada Isa alaihissallam, sang nabi yang diprediksi akan menjadi salah satu aktor akhir zaman itu pun menjawab dengan tegas:

أَمَّا وَجْبَتُهَا؛ فَلاَ يَعْلَمُهَا أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ

Artinya, adapun kapan terjadinya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah.

Isa hanya diberikan bocoran strategis tentang keluarnya Dajjal dan misinya untuk membinasakan fitnah besar tersebut, namun jam detiknya tetap menjadi misteri ilahi. Ini menunjukkan bahwa bahkan di kalangan Ulul Azmi—para rasul dengan keteguhan hati tertinggi—kiamat adalah garis batas yang tidak boleh dilangkahi.

Al-Wabil juga menangkis klaim kelompok-kelompok yang merasa memiliki ilmu "khusus" mengenai tahun kiamat. Ia mengutip kritik tajam Ibnul Qayyim rahimahullah terhadap orang-orang yang mencoba menyelewengkan makna Hadits Jibril. Ketika Nabi bersabda, "Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya," beberapa orang bodoh menafsirkannya seolah-olah Nabi dan Jibril sama-sama tahu. Padahal, makna aslinya adalah penegasan bahwa keduanya sama-sama buta terhadap waktu tepatnya.

Bahkan, sebulan sebelum wafatnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih menegaskan dalam riwayat Jabir bin Abdullah:

وَإِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللهِ

Pengetahuan itu hanyalah ada di sisi Allah. Beliau justru memberikan sebuah orientasi baru dalam memandang waktu; beliau bersumpah bahwa tidak ada makhluk yang lahir hari itu yang akan bertahan hidup hingga seratus tahun. Al-Wabil melihat ini sebagai cara Nabi mengalihkan perhatian umat dari spekulasi waktu kiamat kubra menuju kesadaran akan "kiamat kecil" atau ajal masing-masing.

Kaitan antara Nabi Muhammad dan kiamat dianalogikan seperti jari telunjuk dan jari tengah: bu’itstu ana was saa’atu kahataini. Kedekatan ini bukan berarti Nabi mengetahui menit terjadinya, melainkan sebuah peringatan bahwa beliau adalah nabi penutup. Allah memerintahkan pemimpin para rasul ini untuk tetap berkata: "Katakanlah, sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Siapa pun yang mengaku mengetahui kapan kiamat terjadi, menurut al-Wabil, telah terjebak dalam kebohongan besar. Penyelewengan makna atas hadits-hadits shahih hanya menunjukkan kebodohan yang dipaksakan. Kabar ghaib ini sengaja dirahasiakan agar manusia tetap dalam kondisi waspada dan fokus pada tanda-tanda yang menyertainya, bukan terjebak dalam hitung-hitungan kalender yang menyesatkan. Kiamat tetaplah menjadi rahasia langit yang paling rapat, sebuah akhir sejarah yang hanya diketahui oleh Penulis-Nya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)