LANGIT7.ID- Dalam sejarah pemikiran Islam, upaya membedah misteri kiamat sering kali terjebak dalam angka-angka. Salah satu debat paling menarik terekam dalam Kitab Asyraathus Saa’ah karya Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil.
Al-Wabil menyoroti sebuah ijtihad yang tergolong berani dari ulama besar as-Suyuthi, yang mencoba mengalkulasi umur dunia melalui bukunya al-Kasyfu an Mujaawazati Haadzihil Ummah al-Alf. Sebuah klaim yang menyebutkan bahwa umur umat Islam tidak akan melampaui seribu lima ratus tahun.
As-Suyuthi mendasarkan argumennya pada beberapa riwayat, termasuk mimpi adh-Dhahhak bin Zummal az-Zuhani tentang mimbar tujuh tangga. Dalam interpretasi as-Suyuthi, tujuh tangga itu melambangkan tujuh ribu tahun umur dunia, dan Nabi Muhammad berada pada tangga tertinggi—ribuan tahun terakhir.
فَالدُّنْيَا سَبْعَةُ آلاَفِ سَنَةٍ، وَأَنَا فِي آخِرِهَا أَلْفًاArtinya, dunia berumur tujuh ribu tahun dan Nabi berada di ribuan tahun yang terakhir. Namun, al-Wabil, melalui kacamata kritis eskatologi modern, membenturkan pendapat ini dengan realitas sejarah dan teks-teks yang lebih otoritatif.
Kritik tajam datang dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Manaarul Muniif. Bagi Ibnul Qayyim, hadits yang membatasi umur dunia secara spesifik adalah sebuah kebohongan yang nyata (kadzibun waadhih). Argumennya sederhana namun telak: jika umur dunia dibatasi tujuh ribu tahun, maka kiamat menjadi peristiwa yang dapat dihitung kalendernya. Padahal, esensi kiamat adalah baghtatan atau datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan tanggal.
Ibnul Qayyim, yang hidup pada abad kedelapan Hijriyah, sudah melihat betapa ramalan-ramalan berbasis angka itu rontok oleh waktu. Kini, setelah lebih dari enam ratus lima puluh tahun berlalu sejak Ibnul Qayyim melontarkan kritiknya, dunia masih tegak berdiri. Kita telah memasuki abad kelima belas Hijriyah, dan tanda-tanda besar seperti turunnya Nabi Isa atau keluarnya Dajjal belum juga menampakkan wujudnya secara fisik. Hal ini, menurut al-Wabil, adalah bukti empiris paling shahih yang membatalkan segala hadits tentang pembatasan umur dunia.
Al-Wabil juga mengutip Ibnu Katsir yang mengingatkan bahwa pembatasan masa dunia dengan hitungan ratusan atau ribuan tahun sering kali bersumber dari Israiliyyat atau kitab-kitab Ahlul Kitab yang tidak valid. Upaya menetapkan kiamat pada tahun tertentu dinilai sebagai kegagalan memahami bahwa penanggalan Hijriyah sendiri baru ditetapkan pada masa Umar bin al-Khaththab sebagai hasil ijtihad politik, bukan wahyu yang turun dengan angka tahun yang pasti.
Sebagaimana dicatat oleh Al-Qurthubi, Nabi memang mengabarkan fitnah dan peristiwa masa depan, namun tanpa label tahun yang spesifik. Kita hanya diberi tahu harinya: hari Jumat.
فِي أَيِّ جُمُعَةٍ؟ لاَ يَعْلَمُ عَيْنَهَا إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُJumat yang mana? Tidak ada seorang pun yang mengetahui tepatnya hari tersebut kecuali Allah semata. Ketiadaan angka tahun ini berfungsi sebagai instrumen spiritual agar manusia tetap terjaga dalam kewaspadaan setiap saat.
Kesimpulan dari laporan eskatologis al-Wabil ini sangat jelas: kiamat menolak segala jenis hitungan matematika manusia. Pendapat yang mencoba mengurung kiamat dalam angka 1500 atau 1600 tahun dinilai bathil karena berbenturan dengan nash Al-Quran yang menyatakan bahwa ilmu tentang kiamat adalah hak prerogatif ilahi yang eksklusif. Di tengah hiruk-pikuk klaim akhir zaman, pesan al-Wabil tetap relevan: jangan mencari angka tahunnya, tapi siapkan amalnya.
(mif)