LANGIT7.ID- Dalam khazanah eskatologi Islam, tanda-tanda kecil kiamat sering kali muncul dalam rupa peristiwa geopolitik yang konkret. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil dalam karyanya, Asyraathus Saa’ah, menyoroti salah satu nubuat yang paling mendebarkan: konfrontasi antara kaum muslimin dengan bangsa Turk.
Penjelasan al-Wabil, yang termaktub dalam edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, membawa kita pada sebuah perjalanan waktu dari gurun Jazirah Arab hingga ke stepa Asia Tengah.
Landasan nubuat ini bersandar pada riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendeskripsikan ciri fisik sebuah kaum dengan sangat presisi.
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ، قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمِجَانِّ الْمُطْرَقَةِKiamat tidak akan terjadi hingga kaum muslimin memerangi bangsa Turk, yang wajah-wajah mereka diibaratkan seperti tameng yang dilapisi kulit. Ciri fisiknya sangat spesifik: bermata sipit, hidung pesek, dan wajah yang lebar. Mereka juga disebut mengenakan pakaian serta sandal yang terbuat dari bulu (ni’aluhumus sya’ar).
Dalam kacamata interpretatif al-Wabil, deskripsi ini bukan sekadar informasi antropologis, melainkan sebuah peta navigasi sejarah. Bangsa Turk yang dimaksud dalam hadits tersebut merujuk pada rumpun bangsa yang berasal dari Asia Tengah, termasuk Mongol dan Tatar. Interpretasi ini divalidasi oleh kenyataan sejarah pada abad ke-7 Hijriyah, ketika gelombang pasukan Jengis Khan dan kemudian Hulagu Khan membumihanguskan pusat-pusat peradaban Islam, termasuk jatuhnya Baghdad pada 650 H di tangan Mongol.
Imam an-Nawawi, yang hidup sezaman dengan invasi tersebut, memberikan kesaksian hidup dalam kitab syarahnya. Ia menyatakan bahwa segala sifat yang disebutkan Nabi—mata kecil, muka merah, dan wajah lebar seperti tameng—didapati pada bangsa Tatar yang menyerang kaum muslimin saat itu. Perang ini menjadi salah satu titik nadir dalam sejarah Islam, di mana kengerian tersebut sesuai dengan sabda Nabi mengenai kaum yang akan mengejar orang Arab hingga ke asy-Syiih dan al-Qaishuum di Jazirah Arab.
Namun, al-Wabil menawarkan perspektif yang adil dan tidak hitam-putih. Meskipun pada awalnya bangsa Turk (Mongolia/Tatar) datang sebagai penghancur yang menambatkan kuda-kuda mereka di tiang-tiang masjid, sejarah berputar secara ironis. Al-Wabil mengutip hadits yang menjelaskan bahwa manusia adalah ibarat barang tambang:
خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِOrang terbaik di masa jahiliyah adalah orang terbaik di masa Islam. Inilah yang terjadi pada bangsa Turk. Setelah masa penghancuran, banyak dari mereka yang memeluk Islam dan justru menjadi pilar utama kejayaan Islam. Sejarah mencatat kemunculan Dinasti Saljuk, Mamluk di Mesir, hingga puncaknya pada Khilafah Utsmaniyah (Turki) yang berhasil menaklukkan Konstantinopel.
Perubahan peran dari "musuh" menjadi "pembela" ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kiamat dalam hadits-hadits Nabi tidak selalu bersifat destruktif selamanya. Bangsa yang dahulu diperangi karena kekejamannya, kemudian menjadi bangsa yang membawa panji Islam masuk ke Eropa dan berbagai belahan dunia lainnya.
Al-Wabil menutup narasinya dengan sebuah ijtihad menarik tentang Bani Qunthura’ yang disebut-sebut sebagai perampas kerajaan Arab (umat secara nasab). Fenomena ini memang terjadi ketika tampuk kepemimpinan Islam berpindah dari tangan bangsa Arab (Bani Umayyah dan Abbasiyah) ke tangan bangsa non-Arab, khususnya bangsa Turk.
Dengan demikian, nubuat tentang bangsa Turk adalah kisah tentang transformasi: dari gelombang kehancuran menjadi benteng kejayaan, sebuah dinamika yang membuktikan kebenaran kabar ghaib yang disampaikan Nabi berabad-abad silam di atas mimbar Madinah.
(mif)