Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Alarm Akhir Zaman: Membaca Isyarat Dua Jari Sang Nabi

miftah yusufpati Kamis, 29 Januari 2026 - 06:16 WIB
Alarm Akhir Zaman: Membaca Isyarat Dua Jari Sang Nabi
Kiamat tidak dimulai dengan bencana alam yang tiba-tiba, melainkan dimulai dengan turunnya wahyu kepada seorang yatim di Gua Hira. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam bentang sejarah manusia yang panjang, kehadiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sering kali dipandang semata sebagai puncak peradaban spiritual. Namun, dalam perspektif eskatologi Islam, peristiwa tersebut memiliki makna ganda yang jauh lebih mendalam dan mencekam. Diutusnya sang Nabi bukan sekadar membawa risalah baru, melainkan juga merupakan dentuman pertama dari lonceng kematian dunia.

Penulis ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra membedah bagaimana eksistensi kenabian terakhir ini menjadi tanda kecil kiamat yang paling awal dan fundamental.

Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini merujuk pada sebuah momen visual yang sangat ikonik di masa kenabian. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, terekam sebuah sabda yang mengguncang kesadaran para sahabat:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Masa diutusnya aku dan hari terjadinya kiamat seperti dua jari ini. Saat mengucapkan itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.

Gerakan tangan ini bukan sekadar pemanis retorika, melainkan sebuah pernyataan metafisika langit bahwa jarak antara risalah terakhir dengan kehancuran total semesta sudah sangat tipis.

Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa penyebutan nabi terakhir secara otomatis memposisikan umat manusia di penghujung zaman. Secara teologis, tidak ada lagi nabi setelah Muhammad yang akan membawa syariat baru. Ini berarti panggung dunia telah memasuki babak final.

Dalam berbagai literatur pendukung, seperti Syarah Shahih Muslim, para ulama menjelaskan bahwa jika sejarah dunia diibaratkan sebagai satu hari penuh, maka diutusnya Nabi Muhammad adalah saat di mana matahari telah condong ke arah barat, menandakan waktu ashar yang singkat sebelum malam atau kiamat tiba.

Analogi jari telunjuk dan jari tengah dalam hadits tersebut memberikan dimensi ruang dan waktu. Meskipun jari tengah lebih panjang, keduanya tumbuh berdampingan dari satu telapak yang sama tanpa ada jari lain di antaranya.

Begitu pula antara Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kiamat; tidak ada nabi lain yang menghalangi atau menjadi sekat. Kehadiran beliau adalah proklamasi bahwa umat manusia sedang mengonsumsi jatah waktu terakhirnya di planet ini.

Dalam kacamata interpretatif, fenomena ini menunjukkan sebuah urgensi spiritual yang bersifat eksistensial. Diutusnya Nabi Muhammad adalah alarm yang sebenarnya telah berbunyi selama lebih dari empat belas abad.

Kesenjangan waktu yang terlihat lama bagi manusia—ribuan tahun sejak beliau wafat—sebenarnya hanyalah sekejap mata dalam skala waktu kosmik Tuhan. ‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa dengan diutusnya nabi terakhir, masa tenggang dunia secara resmi telah dimulai.

Keunikan dari tanda kiamat ini adalah sifatnya yang sudah terjadi. Berbeda dengan tanda-tanda lain yang masih dinanti atau sedang berlangsung secara perlahan, kenabian Muhammad adalah fakta sejarah yang sudah tuntas (waqa’a). Hal ini memberikan kepastian bagi kaum beriman bahwa tanda-tanda selanjutnya, mulai dari fitnah-fitnah kecil hingga tanda besar seperti munculnya Dajjal, hanyalah masalah antrean waktu.

Isyarat dua jari tersebut secara filosofis mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Dunia tidak lagi dipandang sebagai tempat tinggal yang abadi, melainkan sebagai terminal akhir yang sedang menunggu jadwal keberangkatan massal.

Keberadaan manusia hari ini adalah keberadaan di garda paling depan yang langsung berhadapan dengan gerbang kiamat. Isyarat tersebut adalah pengingat harian bahwa kita semua hidup dalam masa injury time.

Kesimpulan dari naskah eskatologis ini membawa kita pada satu titik: bahwa kiamat tidak dimulai dengan bencana alam yang tiba-tiba, melainkan dimulai dengan turunnya wahyu kepada seorang yatim di Gua Hira. Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi pembawa rahmat sekaligus nabi tanda kiamat. Dengan merapatkan dua jarinya, beliau telah memberitahu dunia bahwa sejarah sedang berlari menuju garis finisnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)