Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 11 Juli 2026
home masjid detail berita

Krisis Kedermawanan: Membaca Isyarat Melimpahnya Harta dalam Eskatologi Islam

miftah yusufpati Kamis, 29 Januari 2026 - 16:28 WIB
Krisis Kedermawanan: Membaca Isyarat Melimpahnya Harta dalam Eskatologi Islam
Tanda-tanda kiamat tidak selalu berupa bencana alam yang destruktif, tetapi bisa berupa kemapanan ekonomi yang justru menutup pintu-pintu kebajikan sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam teori ekonomi konvensional, kelimpahan harta sering kali dianggap sebagai indikator kesejahteraan tertinggi sebuah bangsa. Namun, dalam kacamata eskatologi Islam, kekayaan yang meluap hingga mencapai titik jenuh justru dipandang sebagai sebuah peringatan kosmik.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra membedah fenomena berlimpahnya harta sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mengubah struktur sosial manusia secara radikal.

Dasar dari narasi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan sebuah masa di mana likuiditas harta akan melampaui kebutuhan manusia:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ صَدَقَةً

Artinya, tidak akan terjadi hari kiamat hingga harta benda banyak pada kalian, lalu melimpah ruah, sampai-sampai menyusahkan pemilik harta mencari orang yang menerima sedekah darinya.

Isyarat ini sangat mendalam; kiamat tidak didahului oleh kemiskinan sistemik, melainkan oleh sebuah kondisi di mana setiap individu merasa cukup hingga pemberian harta tidak lagi memiliki daya tarik.

Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada pemahaman bahwa tanda ini telah muncul secara parsial dalam berbagai periode sejarah Islam, seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat itu, kemakmuran merata hingga petugas zakat kesulitan menemukan mustahik (penerima zakat). Namun, para ulama berpendapat bahwa puncak dari fenomena ini akan terjadi di akhir zaman, saat bumi mengeluarkan simpanan emas dan peraknya, sementara manusia telah kehilangan gairah untuk mengumpulkannya karena kesadaran akan dekatnya kehancuran dunia.

Fenomena ini digambarkan Nabi dengan dialog yang sangat getir. Ketika seseorang dipanggil untuk menerima harta, ia akan menjawab: laa araba lii fiihi atau aku tidak memiliki keperluan terhadapnya. Ini adalah sebuah paradoks. Harta yang dahulu diperebutkan hingga menimbulkan pertumpahan darah, pada akhirnya menjadi beban bagi pemiliknya karena mereka tidak lagi bisa mendulang pahala melalui jalur sedekah.

Secara ilmiah, kelimpahan ini juga dikaitkan dengan penaklukan-penaklukan besar dan eksploitasi sumber daya alam. Namun, dalam perspektif interpretatif gaya Tempo, hal ini mencerminkan sebuah ironi eksistensial. Harta melimpah namun keberkahannya tercabut, atau kesadaran akan maut telah membuat materi kehilangan nilainya. Awadh bin Ali, melalui publikasi Maktab Dakwah Rabwah, mengingatkan bahwa ketika tangan yang memberi tidak lagi menemukan tangan yang menerima, itu adalah tanda bahwa siklus sosial dunia telah mencapai garis finis.

Kajian ini mengajak kita merenung bahwa tanda-tanda kiamat tidak selalu berupa bencana alam yang destruktif, tetapi bisa berupa kemapanan ekonomi yang justru menutup pintu-pintu kebajikan sosial. Ketika emas menjadi komoditas yang tak berharga karena semua orang memilikinya, manusia akan sadar bahwa harta hanyalah titipan sementara yang jadwal pengembaliannya telah sangat dekat. Isyarat tentang berlimpahnya harta ini tetap menjadi navigasi penting bagi umat untuk melihat sejauh mana jam eskatologis telah berputar di tengah gaya hidup materialistik modern.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 11 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan