LANGIT7.ID-Di tengah kebisingan industri hiburan modern, musik bukan lagi sekadar pelipur lara, melainkan telah menjadi denyut nadi kebudayaan global. Dari kafe-kafe urban hingga ruang privat di gawai pintar, alunan nada nyaris tak pernah berhenti. Namun, di balik harmoni melodi tersebut, literatur eskatologi Islam menyimpan sebuah catatan peringatan yang tajam. Fenomena al-ma’aazif atau alat-alat musik bukan dilihat sebagai masalah teknis musikalitas, melainkan sebagai simbol pergeseran orientasi hidup manusia yang kian menjauh dari nilai sakralitas.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra, fenomena ini diklasifikasikan sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mencerminkan upaya menghalalkan hal-hal yang sebelumnya dilarang. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini menyoroti bagaimana hiburan bisa menjadi candu yang meninabobokan kesadaran moral masyarakat.
Rujukan utama analisis ini bersumber dari Shahih al-Bukhari, di mana Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan nubuat yang sangat spesifik mengenai perilaku umatnya di masa depan:
لَيَكُونَنّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَام يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِير وَالْخَمْر وَالْمَعَازِفArtinya:
Kelak terjadi dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamer, dan alat-alat musik.
Penggunaan kata
yastahilluuna (menghalalkan) dalam teks tersebut menjadi titik tekan yang krusial. Ini bukan sekadar tentang perbuatan maksiat yang dilakukan karena kekhilafan, melainkan sebuah perubahan paradigma di mana sesuatu yang dilarang dianggap sebagai hal yang legal, wajar, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup yang dibanggakan.
Hedonisme di Lereng KehancuranLebih jauh, hadits tersebut menggambarkan sebuah skenario sosial yang mencerminkan kesombongan materialistik. Nabi menggambarkan kaum yang bersantai di pegunungan tinggi, menikmati kekayaan, namun kehilangan empati terhadap sesama:
وَلَيَنْزِلَنّ أَقْوَام إِلَى جَنْب عَلَمٍ يَرُوح عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ تَأْتِيهِمْ الْحَاجَة فَيَقُولُونَ : اِرْجِعْ إِلَيْنَا غَدًاArtinya:
Dan sungguh ada beberapa kaum yang akan singgah di suatu pegunungan yang tinggi, pada sore harinya seorang pengembala menjambangi mereka dengan membawa hewan ternaknya, mereka didatangi oleh pengembala fakir itu untuk suatu kebutuhan, lalu mereka berkata: Kembalilah kepada kami besok.
Narasi ini menggambarkan kontras antara kelompok yang larut dalam kemewahan serta hiburan dengan realitas sosial di sekeliling mereka yang membutuhkan bantuan. Musik, khamer, dan zina dalam konteks ini menjadi satu paket gaya hidup yang membuat manusia abai terhadap tanggung jawab sosial dan ketuhanan.
‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa kehancuran yang menyusul setelahnya—seperti yang digambarkan dalam teks bahwa Allah menghancurkan gunung tersebut dan mengubah sebagian mereka—adalah konsekuensi dari matinya hati nurani akibat syahwat hiburan yang tak terkendali.
Banalitas Hiburan dan Matinya KesunyianSecara analitis, fenomena al-ma’aazif di akhir zaman mencerminkan apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai masyarakat pertunjukan. Di era ini, manusia merasa tidak nyaman dengan kesunyian. Kesunyian adalah ruang bagi refleksi dan dzikir, namun musik yang merajalela mengisi setiap sudut ruang publik telah merampas ruang kontemplasi tersebut.
Normalisasi alat-alat musik yang digambarkan dalam literatur IslamHouse tahun 2009 ini mengajak kita melihat bagaimana hiburan telah menjadi standar nilai baru. Ketika seni tidak lagi mengarahkan manusia pada keindahan penciptaan Tuhan, melainkan sekadar stimulasi syahwat dan kelalaian, di situlah kiamat kecil sedang bekerja dalam bentuk degradasi spiritual.
Nubuatan ini tidak sedang membicarakan alat musik dalam ruang hampa, melainkan dalam ekosistem kemaksiatan yang menyertainya. Kehadiran musik yang berkelindan dengan khamer dan pergaulan bebas merupakan potret sempurna dari dekadensi moral yang menjadi prasyarat runtuhnya sebuah peradaban.
Pada akhirnya, kajian ini menjadi otopsi atas zaman kita sendiri. Apakah kita berada dalam masa di mana hiburan telah menjadi tuhan baru? Jika kesenangan sesaat telah menutupi pandangan manusia terhadap akhirat, maka kehancuran gunung dan perubahan rupa yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah simbolisme nyata dari hilangnya derajat kemanusiaan akibat mengikuti nafsu yang tak berujung.
(mif)