LANGIT7.ID- Wajah kota-kota di dunia, terutama di kawasan jazirah yang dahulu gersang, telah berubah total dalam beberapa dekade terakhir. Pasir gurun yang dahulu hanya diinjak oleh kaki-kaki telanjang para pengembara, kini tertutup oleh beton-beton raksasa yang mencoba mencakar langit. Namun, bagi para pengkaji eskatologi Islam, fenomena ini bukan sekadar keberhasilan arsitektur atau pertumbuhan ekonomi makro. Ini adalah sebuah anomali sejarah yang telah diprediksi empat belas abad silam sebagai salah satu penanda transisi menuju akhir sejarah.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut fenomena meningginya bangunan menjadi sorotan penting. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini memandang kompetisi vertikal ini sebagai pergeseran nilai kemanusiaan yang mendalam. Kemajuan fisik yang spektakuler ini sering kali berbanding terbalik dengan kedalaman nilai-nilai spiritual yang dianut oleh pelakunya.
Dasar dari interpretasi ini berpijak pada hadits Jibril yang sangat masyhur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai tanda-tanda kiamat, beliau memberikan gambaran sosiologis yang sangat presisi:
وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِArtinya:
Dan bahwa engkau akan menyaksikan orang yang bertelanjang kaki dan badan, lagi miskin yang mengembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunan.
Lompatan Kelas dan Disorientasi NilaiAnalisis ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada sebuah tesis tentang lompatan kelas sosial yang drastis. Kaum yang digambarkan sebagai
al-hufah al-urah (bertelanjang kaki dan badan) merujuk pada masyarakat Badui atau pedalaman yang secara ekonomi berada di garis bawah. Namun, melalui sumber daya alam atau perubahan politik, mereka tiba-tiba memiliki akses terhadap kekayaan luar biasa.
Masalahnya bukan terletak pada kekayaan itu sendiri, melainkan pada penggunaannya. Frasa
yatathawaluna fil bunyan (berlomba-lomba meninggikan bangunan) menunjukkan adanya kompetisi yang tidak sehat. Bangunan bukan lagi didirikan atas dasar kebutuhan fungsi atau perlindungan, melainkan demi gengsi, kebanggaan, dan unjuk kekuatan material. Secara sosiologis, ini mencerminkan matinya kesahajaan dan munculnya obsesi terhadap simbol-simbol kemewahan lahiriah.
Secara analitis, fenomena ini mencerminkan matinya meritokrasi nilai. Ketika orang-orang yang tidak memiliki akar tradisi keilmuan atau kearifan memegang kendali atas modal yang besar, mereka cenderung menggunakan modal tersebut untuk hal-hal yang sifatnya pameran fisik. Kiamat kecil hadir dalam bentuk ketimpangan orientasi; bangunan semakin tinggi menuju langit, namun jiwa manusia justru semakin rendah terbenam dalam materialisme.
Beton yang Mengubur KesederhanaanInterpretasi ‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa kiamat tidak selalu diawali oleh hancurnya alam semesta, melainkan berawal dari perubahan watak manusia. Ketika standar kehormatan seseorang hanya diukur dari setinggi apa gedung yang ia miliki atau semegah apa rumah yang ia tempati, itulah saat di mana keteraturan nilai sedang menuju titik keruntuhan.
Dalam konteks modern, kita melihat bagaimana kota-kota bersaing memecahkan rekor dunia untuk bangunan tertinggi. Setiap tahun, ada ambisi baru untuk melampaui ketinggian yang sudah ada. Ironisnya, di balik tembok-tembok kaca dan beton yang menjulang itu, sering kali terdapat kemiskinan moral dan ketimpangan sosial yang nyata di sekelilingnya.
Amanat untuk mengelola bumi dengan penuh tanggung jawab dan kesederhanaan telah digantikan oleh nafsu untuk menaklukkan ruang udara demi ego kelompok. ‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa kemunculan gedung-gedung tinggi yang kompetitif ini adalah indikator bahwa manusia telah mengganti visi akhirat mereka dengan ambisi duniawi yang fana.
Secara eskatologis, nubuatan ini menjadi sangat relevan saat ini. Kita sedang berada di masa di mana urusan besar tentang pembangunan sering kali hanya menjadi ajang bersolek citra namun miskin esensi kebermanfaatan. Kiamat sedang mendekat melalui setiap senti beton yang ditumpuk demi kesombongan, melalui kebijakan yang lahir dari syahwat pembangunan tanpa nurani, dan melalui hilangnya rasa syukur dalam ruang-ruang publik yang kian sesak oleh kompetisi fisik.
Jika dulu para penggembala domba hanya memikirkan rumput dan ternaknya, kini mereka—dan kita semua—terjebak dalam labirin beton yang menuntut pengakuan dunia. Inilah sinyal peringatan tentang dekatnya akhir sejarah, saat manusia lebih sibuk menghitung tinggi bangunan daripada kedalaman sujudnya.
(mif)