Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Menakar Spiritualitas dalam Lapar: Menimbang Makna di Balik Kewajiban Puasa

miftah yusufpati Jum'at, 06 Februari 2026 - 05:45 WIB
Menakar Spiritualitas dalam Lapar: Menimbang Makna di Balik Kewajiban Puasa
Secara interpretatif, urgensi puasa Ramadhan melampaui batas-batas teknis hukum. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Setiap tahun, jutaan orang di seluruh penjuru bumi melakukan sebuah laku yang sama: berhenti makan dan minum sejak fajar menyingsing hingga senja tenggelam. Namun, bagi masyarakat Muslim, gerakan masif ini bukan sekadar urusan kesehatan atau protes sosial terhadap kemiskinan. Ia adalah manifestasi dari sebuah perintah hukum yang kokoh, sebuah kewajiban yang telah mengakar dalam tradisi samawi jauh sebelum era modern dimulai.

Dasar pijakan kewajiban ini tertuang jelas dalam teks suci Al-Quran, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 183 hingga 185. Dalam kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, dijelaskan bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang kedudukannya sangat fundamental. Ayat tersebut menyeru orang-orang yang beriman dengan kalimat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pesan ini menegaskan bahwa puasa adalah instrumen untuk mencapai derajat takwa. Menariknya, teks tersebut juga mengakui sejarah panjang puasa yang juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum Islam.

Syaikh Abdul Azhim dalam edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir pada 2007, menekankan bahwa kewajiban ini bersifat pasti bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.

Posisi puasa sebagai pilar bangunan Islam diperkuat oleh riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإيِْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya, Islam didirikan di atas lima dasar, yaitu bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan puasa pada bulan Ramadhan.

Hadis ini menempatkan puasa sebagai satu dari lima fondasi utama. Tanpa puasa Ramadhan, struktur keislaman seseorang dianggap kehilangan salah satu penyangga utamanya. Penafsiran hukum ini bukan sekadar opini pribadi, melainkan hasil kesepakatan bulat atau ijma seluruh ulama di seluruh dunia. Dalam literatur fiqih, puasa Ramadhan dikategorikan sebagai perkara yang telah diketahui dari agama secara pasti atau ma'lumun minad diini bidh dharurah.

Namun, di balik kekakuan hukum tersebut, Al-Quran juga menyelipkan pesan tentang fleksibilitas. Tuhan menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-Nya. Bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan, ada kompensasi berupa qadha atau mengganti di hari lain. Serta fidyah bagi mereka yang benar-benar tidak mampu lagi menjalankannya. Ini menunjukkan bahwa hukum puasa tidak dirancang untuk menyiksa fisik, melainkan untuk mendidik jiwa.

Secara interpretatif, urgensi puasa Ramadhan melampaui batas-batas teknis hukum. Ia adalah ujian loyalitas. Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi dalam karyanya mengingatkan konsekuensi teologis yang serius: siapa pun yang mengingkari kewajiban ini, maka ia dianggap telah keluar dari lingkaran Islam. Hal ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan identitas moral dan wujud kepatuhan mutlak seorang mukmin terhadap hukum penciptanya.

Melalui puasa, manusia diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keduniawian, mengagungkan petunjuk Tuhan, dan meresapi rasa syukur melalui rasa lapar yang terjadwal. Sebuah perjalanan batin yang telah dilakukan selama berabad-abad, dan tetap relevan di tengah peradaban yang kian bising ini.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan