LANGIT7.ID, Jakarta - - Jelang Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021 mendatang, setidaknya ada dua bakal calon ketua umum yang santer disebut terkuat dan memiliki peluang paling serta dukungan paling banyak serta diprediksi bakal head to head, yakni KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf.
Koordinator Jaringan Muslim Madani (JMM), Syukron Jamal menilai dinamika dan kontestasi jelang Muktamar tersebut sangat wajar, pasalnya NU merupakan Ormas Islam besar di Indonesia. Selain itu, menurutnya NU merupakan ormas yang terbuka dan demokratis.
"NU adalah Ormas terbesar di Indonesia, NU juga merupakan wadah organisasi yang sangat terbuka dan demokratis. Semua pihak punya kepentingan bukan hanya warga Nahdliyyin itu sendiri," ujar Syukron dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (9/10/2021).
Baca juga:
Kiai Muda Jatim Tolak Said Aqil 3 Periode, Ini Alasannya"Sikap moderat NU sebagai representasi Islam Wasathiyah yang rahmatan lil alamin punya peran penting mengawal kehidupan bangsa dan negara yang majemuk seperti Indonesia, dalam kancah global juga demikian dimana peran NU sangat dibutuhkan dalam mewujudkan sistem dan tatanan peradaban dan perdamaian dunia," sambungnya.
Namun meski demikian, mantan aktivis PMII itu mengatakan dinamika dan konstelasi jelang Muktamar harus tetap menjaga dan mengedepankan marwah NU dan para kyai atau ulama didalamnya. Konstelasi yang kian hangat diharap Syukron lebih mengedepankan pada pertarungan ide dan gagasan, visi misi membawa NU semakin berperan baik di nasional maupun global sekaligus pada sisi lain menjawab berbagai tantangan keumatan.
"NU bagaimanapun bukan organisasi atau partai politik melainkan organisasi keumatan. Siapapun yang berkontestasi tentu adalah merupakan figur-figur yang terbaik dan mumpuni serta patut dihormati sehingga harus dihindari upaya saling menjatuhkan secara personal," katanya.
Baca juga:
KH Said Aqil Tak Keberatan Maju Calon Ketum PBNU Ketiga KalinyaAlumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengingatkan bahwa tantangan NU kedepan akan semakin berat seiring dengan era globalisasi yang ditandai dengan interkoneksi dimana manusia satu dan lainnya saling terhubung dengan berbagai latarbelakang suku bangsa, ideologi dan pemikiran berbeda. Pada sisi lain dunia terus berubah sehingga menuntut kualitas SDM yang mampu menjawab kebutuhan sekaligus persoalan global mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya, lingkungan hingga perkembangan sains teknologi.
"Di era globalisasi sebagai pengaruh keterbukaan informasi, kita saat ini dihadapkan pada massifnya penyebaran paham dan gerakan ideologi transnasional yang tidak sedikit bertolakbelakang dengan semangat moderasi beragama, kultur serta budaya bangsa namun justru subur dan berkembang di tanah air kita tercinta," katanya.
"NU harus hadir di semua lapisan umat menjawab tantangan ini salah satunya, kembali memperkuat dan menjaga basis akar rumput sebagai kekuatan utama NU selama ini," imbuhnya.
Baca juga:
Pembahasan Muktamar Ke-34 PBNU Alot, Begini Ceritanya(asf)