Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 06 Maret 2026
home wirausaha syariah detail berita

Kolom Ekonomi Syariah: Rakyat Merindukan Kejutan Teknologi

tim langit 7 Senin, 23 Februari 2026 - 08:42 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Rakyat Merindukan Kejutan Teknologi
Oleh: Prof Bambang Setiaji


LANGIT7.ID-Pada Pemilu 2014 salah satu kemenangan Presiden ketujuh Joko Widodo adalah kampanye soal akan atau sedang diproduksinya mobil Esemka. Namun, rakyat menjadi kecewa karena mobil Esemka ternyata tidak terealisasi. Dari rasa kecewa ini memberi bukti bahwa rakyat Indonesia sebenarnya merindukan suatu kejutan teknologi yang bisa menjadi kebanggaan nasional karena bagaimanapun rakyat jenuh terhadap yang serba asing. Selain itu, di bidang teknologi Indonesia termasuk negara yang mengalami ketertinggalan di Asia terutama dengan banyaknya kejutan teknologi di China dan di Vietnam yang terjadi belakangan ini.

Kekalahan terhadap China bisa diterima karena bagaimanapun China adalah peradaban ribuan tahun dan negara besar. Kita berdalih bahwa China memiliki kesempatan menjual ke dalam negeri saja akan memerlukan kapasitas produksi yang jumbo dan tentu saja menguntungkan untuk para investor. Namun ternyata kejutan teknologi juga terjadi di Vietnam yang tidak bisa dikaitkan dengan jumlah penduduk. Penduduk Vietnam hanya sebesar 100 juta atau sepertiga dari penduduk Indonesia. Artinya bahwa teknologi tidak hanya dikaitkan dengan besar pasar dalam negeri.

Mailstone Teknologi China

Berangkat bersamaan dengan masa pembangunan Orde Baru, revolusi keterbukaan China Gaige Kaifang dimulai pada 1970an. Indonesia melompat ke industri pesawat terbang yang kandas pada 1998 saat krisis ekonomi didesak oleh lembaga donor IMF.

Di China terjadi mailstone atau kejutan teknologi yang berlanjut. Pada akhir 1970an dimulai dengan fondasi teknologi low tech manufacturing, industri ringan dan perakitan. Kedua, 1990 - 2005, mailstone industri skala besar yaitu industri elektronik, mesin dasar dan alat berat, infrastruktur besar besaran. Ketiga, 2005 - 2015, Teknologi menengah dan industri berat, yaitu otomotif dan transfer teknologi Barat, bersamaan dengan industri alat berat eskalator, crane, dan buldoser lokal.

Fase berikutnya 2015 - 2020 revolusi industri tinggi masa robotik dan otomasi, Smart factory dan penggunaan industri masif, dan periode terakhir masa deep tech dan kemandirian teknologi, diatandai oleh perkembangan mobil listrik, AI dan Big data. Boleh dikatakan pada periode ini China sudah melampau teknologi Barat, dengan kemenangan pada penetrasi pasar dunia mobil listrik. China sudah menakdirkan raksasa yang terbangun dari tidur.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Membentuk Ekonomi Egaliter: Belum Dibagi Sudah Merata

Mengejar Ketertinggalan

Pada era mobil listrik Vietnam tiba tiba menyodok dengan memasukkan beberapa varian mobil listrik ke negara kita. Salah satunya melakukan penetrasi besar kepada industri taxi mobil listrik VinFast menguasai pasar domestik dan mencoba memasukkan pasar ASEAN dan dunia. Indonesia bisa meniru Vietnam dengan langsung melompat ke industri dan teknologi mobil listrik tentu saja dimulai dengan asembling .

Untuk memulai asembling di era pasar yang liar seperti sekarang ini harus bekerja sama dengan underdog. Karena underdog memiliki semangat maju, dan untuk itu akan rela berkorban. Wuling sebagai yang pertama masuk ke Indonesia bisa dipertimbangkan untuk bermetamorfosa menjadi mobil Indonesia. Konsorsium universitas Muhammadiyah misalnya sudah memiliki MOU dengan Wulling untuk menciptakan produk mobil Indonesia.

Muhammadiyah dimungkinkan atau lebih mudah membuat konsorsium dan melangkah ke industri, karena merupakan perguruan tinggi swasta berjejaring nasional. Sedangkan perguruan tinggi negeri PTN walau berjejaring tentu tidak mudah melakukan konsorsium industri dengan uang negara. KPK tentu akan melototi dan para pejabat perguruan tinggi Negeri tentu akan pikir pikir.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kesejahteraan Pekerja Kita

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kejatuhan Pasar Saham Dalam Agama

Apa yang sudah dirintis oleh Muhammadiyah ini perlu disupport oleh negara, dan untuk tujuan pengembangan teknologi negara perlu melakukan relaksasi masalah negeri dan swasta. Kepentingan negara bukan negeri, karena bagaimanapun institusi negeri cenderung tidak efisien. Institusi seperti Muhammadiyah ini sangat tepat untuk dititipi pengembangan teknologi misalnya melalui proyek asembling mobil listrik.

Mengapa ? Muhammadiyah adalah lembaga swasta tetapi tidak ada yang memiliki, pemiliknya adalah Ummat atau publik itu sendiri. Terkenal sederhana kata lain dari efisien, insinyur insinyur Muhammadiyah akan bersedia dibayar setengah dari harga pasar dengan semangat kerja dua kali lipat sampai sepuluh kali lipat, karena dorongan jihad, suatu semangat maju spiritual. Muhammadiyah bisa diberi kesempatan untuk persemaian teknologi maju berbasis pemahaman keagamaan kemajuan yaitu kesalehan rasional. (Ketua Majelis Dikti dan Litbang PP Muhammadiyah)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 06 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:07
Ashar
15:08
Maghrib
18:13
Isya
19:22
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)