LANGIT7.ID-Jakarta; Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kini telah memasuki pekan kedua. Di tengah hiruk-pikuk dan rutinitas aktivitas ibu kota, umat Islam kembali diajak untuk merenungi esensi sejati dari ibadah puasa. Pesan spiritual yang mendalam ini disampaikan oleh Ustaz Sukma Wijaya dalam khutbah nya di Masjid Baitul Hilmi, Tomang, Jakarta Barat. Jamaah diingatkan agar momentum Ramadan tidak berlalu begitu saja menjadi sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan harus dimaksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Seperti yang diketahui, pemerintah melalui Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Di rentang waktu puasa yang terus berjalan ini, Ustaz Sukma Wijaya menyoroti realitas sosial di masyarakat bahwa setiap individu menghadapi rintangan yang berbeda. Ada yang menjalankan ibadah di tengah kekurangan finansial, namun tak sedikit pula yang menunaikannya dalam kondisi harta yang berkelimpahan. Meski ujiannya berbeda, tolok ukur keberhasilan puasa seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar hartanya.
Di hadapan para jamaah, diberikan penekanan tajam bahwa puasa yang berhasil adalah ibadah yang dibalut dengan keikhlasan iman, terbebas dari amarah, kesombongan, dan kebiasaan menghina sesama. Terlebih lagi, seiring bertambahnya usia, tidak ada jaminan bahwa seseorang akan kembali bertemu dengan bulan suci di tahun berikutnya. Hal inilah yang mendasari pertanyaan filosofis tentang bagaimana meraih kebahagiaan batin dari puasa yang dijalankan.
Baca juga: Khutbah Tarawih: Keistimewaan Ramadhan, Menjemput Terkabulnya Doa 24 Jam dan Berburu Lailatul Qadar
"Dalam sebuah hadis, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Lish-shaaimi farhatani"—bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan. Pertanyaannya, puasa yang bagaimanakah yang bisa menghadirkan kebahagiaan batin seseorang?," ujar Ustaz Sukma Wijaya, dikutip Kamis (26/2/2026).
Menjawab pertanyaan retoris tersebut, Ustaz Sukma Wijaya memaparkan dua bentuk kebahagiaan hakiki yang dijanjikan bagi umat Islam yang sungguh-sungguh berpuasa. Kebahagiaan yang pertama adalah Farhatun 'inda liqa'i Rabbihi atau kebahagiaan tatkala berjumpa dengan Tuhannya di akhirat kelak. Orang yang berpuasa dengan murni mengharap rida Allah akan merasakan sukacita yang luar biasa saat masa hidupnya berakhir dan ia berhadapan langsung dengan Sang Pencipta.
Sementara itu, kebahagiaan yang kedua bersifat lebih nyata dan langsung dirasakan di dunia setiap harinya. Menjelaskan fenomena ini, jamaah diajak untuk menelaah rasa syukur yang muncul secara alami di setiap petang.
Baca juga: Khutbah Tarawih: Memaknai Esensi Ramadhan, Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Perbedaan 'Siyam' dan 'Shaum'
Baca juga: Khutbah Tarawih: Catat! Ini 9 Hal yang Bisa Membatalkan Puasa Ramadhan
"Kedua, kebahagiaan ketika berbuka puasa (Farhatun 'inda fithrihi). Coba kita bayangkan, di hari-hari biasa, momen menunggu waktu Magrib mungkin terasa biasa-biasa saja. Namun ketika kita berpuasa, datangnya waktu Magrib memberikan kebahagiaan tersendiri. Apakah karena kita bisa makan banyak? Tidak. Ada rasa syukur dan bahagia tersendiri setelah berhasil melewati hari yang penuh tantangan dan cobaan. Seharian kita menahan haus dan lapar sambil tetap bekerja mencari nafkah; seharian kita menahan amarah; seharian kita menjaga lisan dari membicarakan orang lain, dan menahan diri sekuat tenaga. Begitu Magrib tiba, rasa bahagia itu muncul seutuhnya," ujar dia.
Melalui khutbah tersebut, diharapkan agar ruang kebahagiaan ini bisa benar-benar diresapi. Pada akhirnya, evaluasi ibadah kembali kepada nurani masing-masing jamaah. Menjadi sebuah perenungan sejauh mana kewajiban ibadah ini dilakukan; apakah sekadar gugur kewajiban semata, atau memang murni karena kerinduan beribadah kepada Allah SWT.
Pesan dari Ustaz Sukma Wijaya ini menjadi pengingat yang menyegarkan di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban Jakarta. Harapannya, di sisa hari bulan Ramadan 1447 H ini, umat Islam dapat terus memperbaiki kualitas puasanya, menjaga lisan, dan senantiasa meraih rahmat serta pandangan baik dari Allah SWT.
