LANGIT7.ID-Jakarta; Bulan suci Ramadhan selalu menjadi pusaran momen spiritual yang dinantikan umat Islam. Lebih dari sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, bulan ini adalah fasilitas luar biasa yang disediakan Allah SWT untuk penyucian diri dan pengabulan doa hamba-hamba-Nya.
Esensi mendalam ini ditekankan oleh Ustaz KH. Zainudin Nur dalam khutbahnya di Masjid Baitul Hilmi, Tomang, Jakarta Barat. Melalui paparannya, beliau mengajak umat Islam untuk memahami anatomi kemuliaan Ramadhan agar tidak melewatinya dengan sia-sia.
Pembakaran Dosa dan Puasa Sebagai Perisai
Mengawali penjelasannya, Ustaz KH. Zainudin Nur membedah akar kata Ramadhan secara etimologi. Kata Ramadhan berasal dari syiddatul harr yang bermakna panas yang sangat menyengat. Hal ini mengkiaskan Ramadhan sebagai momentum "pembakaran" untuk menghanguskan tumpukan dosa umat manusia.
Proses penyucian diri ini sejalan dengan ibadah puasa itu sendiri, yang jika dijalani dengan keimanan penuh, akan menjadi perisai tangguh yang membebaskan seseorang dari siksa api neraka. Di saat yang bersamaan, puasa melatih kesabaran umat Muslim dalam menahan hawa nafsu, sehingga bulan ini juga karib disebut sebagai bulan kesabaran sekaligus Syahrur Rahmah (bulan kasih sayang).
Baca juga: Khutbah Tarawih: Memaknai Esensi Ramadhan, Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Perbedaan 'Siyam' dan 'Shaum'
Syahrul Ijabah: Terbukanya Pintu Langit 24 Jam
Ketika dosa-dosa berguguran dan rahmat Allah turun, Ramadhan juga hadir membawa keistimewaan lain sebagai Syahrul Ijabah, yakni bulan dikabulkannya doa. Ustaz KH. Zainudin Nur menyoroti secara tajam perbedaan keistimewaan waktu berdoa di bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya.
"Apa perbedaan ramadhan dan bulan lainnya. Yaitu kalau di bulan lain hanya ada waktu-waktu tertentu saja Allah mengabulkan doa kalian. Kalau ramadhan itu 24 jam Allah mengabulkan doa kalian," papar Ustaz KH. Zainudin Nur, dikutip Rabu (25/2/2026).
Mengingat pintu langit terbuka lebar tanpa henti selama 24 jam, beliau mengingatkan jamaah agar tidak pelit bermunajat. Secara khusus, ada tiga doa utama bersumber dari Al-Qur'an dan hadis yang sangat pantang dilewatkan selama bulan suci:
Baca juga: Khutbah Tarawih: Catat! Ini 9 Hal yang Bisa Membatalkan Puasa Ramadhan
Lailatul Qadar, Puncak yang Harus Diperjuangkan
Seluruh rangkaian penyucian diri dan munajat tanpa henti tersebut pada akhirnya bermuara pada satu pencapaian spiritual tertinggi: Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini adalah garis finis yang paling didambakan.
Namun, Ustaz KH. Zainudin Nur memberikan peringatan tegas bahwa malam kemuliaan ini tidak akan turun secara cuma-cuma kepada mereka yang sekadar rebahan sembari menahan lapar di siang hari.
"Lailatul qodar bukan hadiah, tapi harus dilaksanakan, usaha dengan mendirikan ibadah di 10 yang terakhir," tegasnya.
Kutipan ini menjadi alarm pengingat bagi umat Islam, puncak keberkahan Ramadhan hanya bisa digapai dengan dedikasi dan intensitas ibadah yang justru harus terus memuncak, bukan mengendur, di sepuluh malam terakhir.
