LANGIT7.ID-Jakarta; Ketidaksiapan Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi pola peperangan abad ke-21 diprediksi akan menjadi pemicu kekalahan negara tersebut saat berhadapan dengan Iran. Penulis sekaligus pendidik, Prof Jiang Xueqin, menilai bahwa strategi militer konvensional yang diterapkan AS dan Israel tidak akan efektif melawan kekuatan drone serta militansi agama yang menjadi basis pertahanan Iran.
Dalam unggahan video YouTube terbarunya pada Selasa (3/3/2026), Prof Jiang menyebutkan bahwa eskalasi konflik ini telah menandai dimulainya Perang Dunia III. Ia menyatakan bahwa serangan yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran kini telah memasuki hari keempat.
"Jadi, seperti yang Anda ketahui, Perang Dunia III telah dimulai. AS dan Israel telah mulai menyerang Iran dan kita sekarang berada di hari keempat perang ini," ungkap Prof Jiang sebagaimana, dikutip Kamis (5/3/2026).
Menurut analisisnya, AS masih bergantung pada strategi "shock and awe" yang bertujuan melumpuhkan kepemimpinan musuh agar struktur di bawahnya runtuh. Namun, strategi yang dianalogikan seperti memenggal kepala tersebut dianggap tidak akan berhasil di Iran karena mereka memandang konflik ini sebagai perang agama yang total.
"Jadi meskipun Amerika tampak seperti tentara yang tak terkalahkan, mereka tidak dilengkapi untuk berperang dalam perang abad ke-21 melawan drone, melawan fanatik agama," ujar sosok yang aktif di berbagai media luar negeri tersebut.
Prof Jiang menambahkan bahwa perang ini kemungkinan besar akan berlangsung dalam durasi yang sangat panjang, mulai dari hitungan minggu hingga bertahun-tahun. Ia menegaskan bahwa struktur dunia akan mengalami perubahan permanen setelah konflik ini berakhir. Mengenai doktrin militer yang digunakan lawan Iran, ia memberikan catatan kritis.
"Tapi sayangnya Israel dan Amerika menggunakan ini sebagai doktrin militer. Doktrin militer hanya berarti bagaimana Anda merancang militer Anda untuk tujuan apa," lanjutnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kematian para pemimpin Iran tidak akan menghentikan jalannya pertempuran. Perlawanan Iran diprediksi tetap berlanjut meski pucuk pimpinan mereka telah tiada.
"Jadi Anda memenggal kepalanya, itu tidak mengubah apa pun," katanya.
Risiko terbesar dari peperangan ini juga mencakup aspek ekonomi global. Prof Jiang memprediksi Iran akan mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz. Langkah ini diyakini mampu melumpuhkan perekonomian dunia sekaligus mengakhiri dominasi global Amerika Serikat.
"Jadi Selat Hormuz adalah kunci dan Iran menutupnya untuk mencekik ekonomi global dan oleh sebab itu meruntuhkan kerajaan AS," jelas Prof Jiang.
Prediksi mengenai durasi dan dampak jangka panjang perang ini dirangkum oleh Prof Jiang dalam sebuah pernyataan penutup.
"Dan kita dapat memperkirakan perang ini akan berlangsung selama berminggu-minggu, mungkin juga selama bertahun-tahun. Tapi saya bisa meyakinkan Anda setelah perang ini berakhir, dunia tidak akan pernah sama lagi," pungkasnya.
