LANGIT7.ID-Jakarta; Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, pemerintah justru mencium peluang emas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan konflik di kawasan Timur Tengah ini akan mengerek harga sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia, berpotensi menjadi "durian runtuh" alias windfall profit yang dapat menggenjot penerimaan negara.
Kenaikan harga komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), hingga nikel dinilai dapat menjadi kompensasi alami atas risiko membengkaknya subsidi energi. Sebab, di sisi lain, konflik yang mengganggu jalur strategis Selat Hormuz juga berpotensi melambungkan harga minyak mentah dunia dan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
"Meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang, di saat bersamaan kita juga melihat peluang windfall profit dari komoditas. Kami terus memantau perkembangan ini secara ketat," ujar Purbaya dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (12/3/2026).
Purbaya menegaskan bahwa instrumen APBN akan bekerja secara responsif. Pemerintah berkomitmen menjaga fiskal tetap prudent agar setiap respons kebijakan terukur, demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah gejolak global.
Lonjakan Harga di Tengah Gejolak GlobalData hingga 10 Maret 2026 menunjukkan tren positif yang signifikan pada harga komoditas. Batu bara, misalnya, mencatatkan kenaikan 28% secara tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi US$ 107,5 per ton. Angka ini juga melesat 4,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Menurut Purbaya, akselerasi harga batu bara dipicu oleh efek substitusi. "Negara-negara Eropa dan Asia mulai mencari alternatif bahan bakar akibat terganggunya pasokan minyak dan gas alam cair," jelasnya.
Komoditas lain juga ikut menikmati angin surga. CPO naik 14% ytd ke level US$ 1.110,47 per ton, meskipun jika dibandingkan tahun lalu masih terkontraksi 2,8%. Nikel menguat 4,9% ytd menjadi US$ 17.469 per ton, dan melesat 12,7% dibanding tahun lalu.
Tembaga juga tak kalah cemerlang dengan kenaikan 4,3% ytd menjadi US$ 12.954 per ton, melonjak drastis 40,3% year-on-year (yoy). Sementara itu, emas yang menjadi primadona di tengah ketidakpastian, melonjak 19,5% ytd ke posisi US$ 5.164,39 per troy ounce, atau melesat 75,1% dibanding tahun lalu.
"Harga emas masih dalam tren meningkat. Ini merefleksikan pergeseran sentimen pasar ke aset safe haven. Sementara komoditas mineral seperti nikel dan tembaga juga tetap kuat, ini semua akan mendukung kinerja penerimaan negara," papar Purbaya.
Harga Minyak: Sempat Tembus US$100, Kini TerkoreksiDi sisi lain, harga minyak mentah dunia acuan Brent tercatat melonjak 47,1% ytd menjadi US$ 89,9 per barel. Meski demikian, angka ini masih lebih rendah 8,2% dibanding periode sama tahun lalu.
Purbaya mengungkapkan bahwa harga minyak sempat menyentuh level psikologis US$ 100 per barel. Namun, saat ini telah mengalami koreksi seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memperkirakan konflik akan segera mereda.
Pemerintah kini berada dalam posisi waspada sekaligus optimistis. Di satu sisi, gejolak harga minyak bisa menambah beban subsidi. Namun di sisi lain, lonjakan harga komoditas ekspor diharapkan mampu menjadi penyangga fiskal yang kuat.(*/saf)
(lam)