LANGIT7.ID - Siapa yang tidak kenal dengan Sherly Annavita Rahmi. Muslimah milenial ini menjadi sosok yang menginspirasi bagi banyak orang, khususnya para generasi milenial.
Muslimah kelahiran 12 September 1992 ini, seringkali membagikan inspirasi dan perspektifnya tentang isu politik terkini yang dituangkan ke dalam video di platform Instagram dan Youtube. Banyak warganet yang merasa mendapatkan manfaat dari apa yang dibagikan oleh Sherly.
Sherly mulai dikenal warganet usai dia mengkritik Presiden Joko Widodo terkait pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan. Kritik itu dilayangkannya di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne dua tahun lalu.
Oleh sebab kemampuan public speaking-nya yang memukau, hingga kini muslimah yang
concern pada isu politik ini telah diikuti lebih dari 2 juta pengikut di Instagram.
Sherly merupakan lulusan Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, Jakarta. Pada 2016, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum dan Bisnis, Swinburne University, Melbourne, Australia.
Baca Juga: Nadirsyah Hosen, Santri Kampung yang Jadi Profesor di AustraliaSherly melewati masa kecil dan menyelesaikan pendidikan di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Ia mewarisi darah Minangkabau dari Ayah dan ibunya, yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat.
Sherly aktif mengikuti berbagai ajang perlombaan, seperti Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), pidato, dan karya tulis sejak SMP sampai kuliah. Ia merupakan juara pertama Syarhil Quran pada ajang MTQ tingkat Kota Lhokseumawe pada 2008. Pada 2012, Sherly mengikuti perlombaan pidato dalam ajang "Pemilihan Dai Cilik". Mewakili Nangroe Aceh Darussalam, Sherly berhasil menjadi salah seorang finalis. Tak hanya di Pildacil, Sherly melanjutkan kiprahnya sebagai da’i muslimah dalam ajang Da’i Muda ANTV sebagai finalis.
Selain itu, dirinya berhasil menyabet juara pidato National Australia Indonesia Language Awards (NAILA) pada 2017 dan dinobatkan sebagai delegasi terbaik kompetisi simulasi sidang PBB, Asia World Model United Nations (AWMUN), 2018. Ilmu yang dimiliki Sherly Annavita kemudian ia bagikan pada banyak orang melalui Sherly Enlightenment Academy (SEA) Indonesia, sekolah public speaking yang ia dirikan pada awal Agustus ini.
Motivator untuk MilenialSelain dikenal warganet sebagai influencer, sekaligus konten kreator, ia biasa memberikan motivasinya. Muslimah asal Aceh ini menyebutkan, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sehingga memiliki
self awareness yang tujuannya tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan dengan mengetahui potensi yang dimiliki setiap orang akan mampu memecahkan masalah dan menjadi bagian dari solusi.
Self awareness sendiri merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan setiap orang. Hal itu bertujuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tindakan.
“Pada akhirnya adalah sebuah aksi yang kita eksekusi dan lakukan. Karena kalau hanya masih dalam pikiran dan perasaan, maka dunia tidak akan bisa meresponnya,” ujar dia melalui kanal Youtubenya.
Orang yang tahu dengan self awareness, kata dia, akan mengetahui kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri. Sehingga problematika tentang kehidupan dapat diselesaikan sesuai dengan karakter masing-masing orang.
Selain itu,
self awareness pada diri seseorang juga akan membuat mereka mengetahui daya tawar mereka terhadap orang yang berada di lingkungannya. Menurutnya, mengetahui kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri wajib diketahui oleh setiap orang.
Baca Juga: Sembuh dari Gangguan Jiwa, Muslimah Ini Keluar dari RSJ dan Kini Kuliah di UI
“Alasannya, hal itu bisa menambah tingkat kepercayaan diri seseorang. Mereka juga dikenal sebagai orang yang dapat mempertahankan cita-citanya,” ujarnya.
Sayangnya, lanjut Sherly, kebanyakan anak muda saat ini hanya berfokus terhadap kekurangan. Sehingga tidak mempedulikan kelebihan yang ada pada diri mereka.
Hal itu membuat mereka hanya fokus melihat dan mengeksploitasi kekurangan yang ada pada diri. Walaupun begitu, hal terpenting yang perlu diketahui adalah manusia diciptakan untuk tidak unggul di setiap hal.
“Tujuannya agar manusia bisa bekerja sama dan bersama-sama. Kita tidak akan membuat semua orang senang dengan keputusan kita sendiri. Itu pun bukan tugas kita untuk membuat semua manusia senang,” katanya.
Dalam hal ini, seseorang perlu berfokus untuk menemukan kelebihan diri mereka. Sehingga bisa menindaklanjutinya menjadi pengembangan diri.
“Agar kita bisa membuktikan dan mencari solusi atas segala permasalahan lingkungan yang dihadapi,” tambahnya.
(jqf)