Langit7, Jakarta - Kabar Pemerintah Arab Saudi membuka kembali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam kapasitas penuh disambut baik oleh pihak asosiasi travel haji dan umrah, serta jamaah Indonesia.
Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi), Syam Resfiadi mengaku, bersyukur karena hal itu menunjukkan kegiatan ibadah umrah berpeluang untuk bisa diikuti jamaah dari Indonesia.
"Kita bersyukur bahwa telah dipermudah segala urusan di Arab Saudi, khususnya di Madinah dan Makkah. Sehingga para jamaah yang ingin melakukan kegiatan ibadah di sana semakin mudah," ujarnya kepada LANGIT7.ID, Senin (18/10).
Baca juga: Alhamdulillah! Masjidil Haram Siap Terima Jamaah Kapasitas PenuhApalagi, lanjut dia, penerbangan internasional mau pun domestik di Arab Saudi juga sudah kembali normal. Namun, tetap dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi.
Pemilik Travel Patuna Mekar Jaya ini juga menyebutkan, persyaratan vaksin bakal menjadi penentu terpenting bagi jamaah untuk bisa mendapatkan visa, baik turis mau pun umrah.
"Yakni sertifikasi vaksin dengan barcode yang harus terbaca dan lolos scan. Apabila diterima InsyaAllah persyaratan lain pun akan lebih mudah diterima," katanya.
Adapun jenis vaksin yang diterima Arab Saudi, yakni dua kali untuk Moderna, Pfizer, Johnson and Johnson, Astrazeneca. Sementara untuk Sinopac dan Sinopharm dua kali plus
booster.
Indonesia masih perlu mengikuti persyaratan vaksin tersebut. Sehingga sampai saat ini pemerintah Indonesia masih terus bernegosiasi, terutama antara Kementerian Kesehatan kedua negara.
"Diharapkan pemerintah Arab Saudi tidak menolak vaksin Sinovac. Tapi rasanya berat, dan saya pikir pemerintah Indonesia sebaiknya menyiapkan boosternya saja," katanya.
Baca juga: KJRI Jeddah: Arab Saudi Masih Terapkan Pembatasan PergerakanApalagi, kata dia, para jamaah yang sudah rindu melakukan ibadah di Tanah Suci siap mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan vaksin booster. Selain itu, ia juga berharap pemerintah dapat mengorelasikan vaksin meningitis agar bisa discan oleh sistem digital.
Pasalnya, saat ini verifikasi vaksin meningitis masih dilakukan secara manual. Sehingga perlunya peralihan agar bisa discan secara online melalui
barcode, seperti pada vaksinasi untuk Covid-19.
"Jadi mohon kepada pemerintah bisa mengorelasikan hal ini, agar masalah sertifikat lebih jelas. Sehingga semua vaksin bisa diverifikasi serentak secara digital," tambahnya.
Lebih lanjut, Syam menyebutkan, respon jamaah Indonesia sangat antusias menyambut baik kabar dibukanya keran ibadah umrah oleh pihak Arab Saudi. Kendati demikian, urusan harga menjadi pertimbangan tersendiri.
Syam menambahkan, terkait biaya tergantung pada penerapan protokol kesehatan yang diberlakukan. Ia memperkirakan, biaya untuk ibadah umrah mengalami kenaikan antara 19-25 persen.
"Kenaikan ini akibat adanya penerapan protokol kesehatan itu sendiri, baik di Arab Saudi mau pun negara asal jamaah," tambahnya.
(zul)