Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 24 Juli 2026
home masjid detail berita

Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi

ahmad zuhdi Jum'at, 24 Juli 2026 - 05:36 WIB
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi
LANGIT7.ID-Jakarta; - Fenomena di tengah masyarakat menunjukkan masih banyak warga yang menganggap Muhammadiyah dan Salafi sebagai dua kelompok yang sama identik. Pandangan ini mengemuka karena kedua gerakan tersebut terbilang sangat gencar dalam menolak berbagai bentuk ibadah yang dianggap tidak memiliki pijakan tuntunan dari Rasulullah.

Kendati demikian, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Ustaz Danusiri menegaskan bahwa dalam realitasnya terdapat deretan perbedaan yang nyata antara Muhammadiyah dan Salafi pada praktik ibadah sehari-hari. Danusiri menjelaskan, kedua kelompok tersebut memang senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan utama dalam beragama.

"Akan tetapi, perbedaan mulai muncul saat masing-masing melakukan proses perumusan serta penerapan dalam hukum fikih praktis," katanya dikutip laman Muhammadiyah Semarang, Jumat (24/7/2026).

Oleh sebab itu, Danusiri mengimbau masyarakat untuk mencermati titik-titik perbedaan ini secara bijaksana. Menurut dia, pemahaman yang komprehensif justru akan makin memperkokoh tali persaudaraan sesama umat Islam. Lebih lanjut, ia menguraikan perbedaan praktik keseharian tersebut guna memperluas cakrawala keislaman publik.

Perbedaan dalam Fikih Keseharian

Merujuk pada rekam sejarah dan kajian para ulama, Danusiri memaparkan bahwa pembeda antara Muhammadiyah dan Salafi pada era modern dapat terlihat dengan jelas, salah satunya dalam hal penentuan waktu ibadah. Muhammadiyah secara konsisten memanfaatkan metode hisab untuk menetapkan awal bulan kamariah. Di sisi lain, kalangan Salafi lebih memilih untuk merujuk pada ketetapan kalender yang berlaku di Arab Saudi.

Perbedaan sudut pandang juga tampak dari aspek penampilan fisik dan tata cara berbusana. Danusiri menyebutkan bahwa Muhammadiyah memandang hukum isbal (mengenakan pakaian di bawah mata kaki) sangat bergantung pada niat si pemakai. Sebaliknya, pandangan Salafi mengharamkan isbal secara mutlak dan mewajibkan anggotanya untuk mengenakan celana di atas mata kaki (cingkrang).

Baca Juga: MUI Dukung Wamenag Sisipkan Pendidikan Bahaya LGBT Sejak Kelas 4 SD

"Aturan mengenai perawatan jenggot turut menjadi pembeda yang cukup mencolok. Muhammadiyah memperbolehkan umatnya untuk merapikan jenggot demi menjaga kebersihan dan kerapian penampilan. Sementara itu, kelompok Salafi melarang keras tindakan mencukur maupun sekadar merapikan jenggot," tuturnya.

Detail Pelaksanaan Shalat

Dalam hal ibadah shalat, Danusiri menyoroti perbedaan detail pada pelaksanaan shalat berjamaah hingga shalat tarawih. Terkait kerapian shaf, Muhammadiyah mengimbau jamaah untuk merapatkan barisan tanpa keharusan menempelkan jemari kaki. Namun bagi Salafi, menempelkan jemari kaki antarjamaah secara rapat sempurna merupakan sebuah keharusan.

"Selanjutnya, ketika gerakan bangkit dari sujud, Muhammadiyah menilai posisi tangan tidak perlu mengepal ke lantai. Adapun kalangan Salafi sangat mewajibkan jamaahnya untuk mengepalkan tangan menyerupai seorang yang sedang meremas adonan roti," jelasnya.

Khusus pada ibadah malam di bulan Ramadhan, Danusiri menjelaskan bahwa Muhammadiyah memberi ruang kelonggaran pelaksanaan shalat tarawih baik dengan formasi 4 rakaat salam maupun 2 rakaat salam. Sementara itu, kalangan Salafi hanya membenarkan formasi shalat tarawih dengan 2 rakaat salam.

Muamalah, Tradisi, dan Sikap Bernegara

Tidak hanya pada aspek ubudiyah, respons terhadap urusan muamalah masyarakat juga menampilkan perbedaan. Danusiri memaparkan bahwa Muhammadiyah membolehkan pembayaran zakat fitrah menggunakan uang tunai. Sebaliknya, kalangan Salafi mengharamkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang.

"Bahkan, Muhammadiyah mengakui adanya kewajiban zakat profesi bagi para pekerja di era modern. Sementara itu, Salafi secara tegas menilai bahwa zakat profesi sama sekali tidak memiliki pijakan dasar hukum," ujar Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus ini.

Baca Juga: Muhammadiyah Gandeng Jepang, Perkuat Layanan Hemodialisis hingga Perawatan Lansia

Dalam merespons kesenian dan tradisi, Muhammadiyah membolehkan umat untuk menikmati musik serta menyelenggarakan silaturahmi halalbihalal. Namun kelompok Salafi mengharamkan musik dan tradisi halalbihalal secara mutlak tanpa celah kompromi.

"Adapun dalam konteks kehidupan bernegara, Muhammadiyah membolehkan penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi guna menyuarakan kebenaran. Di pihak lain, Salafi melarang keras segala bentuk aksi demonstrasi terhadap pemerintah yang berkuasa," ujar dia.

Pesan Persatuan dan Kedewasaan Beragama

Danusiri menegaskan bahwa seluruh variasi praktik harian tersebut murni tergolong dalam masalah cabang agama (furu'iyah). Oleh karena itu, umat Islam tidak sepatutnya memperdebatkan perbedaan antara Muhammadiyah dan Salafi hingga merusak ikatan silaturahmi, sebab keduanya tetaplah bersaudara di bawah naungan kalimat tauhid yang sama.

Ia mengajak masyarakat untuk memandang khilafiyah ini sebagai cerminan kekayaan tradisi ijtihad dalam khazanah keilmuan Islam. Menurut Danusiri, sikap toleran serta kedewasaan dalam beragama akan membentengi umat Islam dari ancaman perpecahan.

"Sikap saling menghormati atas perbedaan antara Muhammadiyah dan Salafi akan mendorong peradaban Islam bergerak menuju kemajuan yang jauh lebih signifikan," pungkasnya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 24 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan