LANGIT7.ID-Jakarta; - Permainan perdayaan kaum munafik yang menampakkan keimanan di hadapan kaum Muslimin namun kembali bersatu dengan para pemimpinnya menjadi potret kepura-puraan yang diabadikan Al-Qur'an. Ketika bertemu dengan orang-orang beriman, mereka menyatakan ikrar manis hanya demi mengamankan diri serta berburu bagian keuntungan materi dan harta rampasan perang. Namun, tatkala berpaling kembali kepada para syayaṭīn—yakni para pemuka kekufuran, tokoh Yahudi, maupun sesama pembesar munafik—mereka secara terang-terangan mengaku hanya sedang bermain-main dan mengolok-olok kaum Mukminin.
ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Artinya: "
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (QS Al Baqarah: 15).
Menjawab perbuatan tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang akan membalas olok-olokan serta tipu daya mereka. Menurut penjelasan para ulama tafsir (mufassir), pembentukan balasan ini merupakan wujud keadilan Allah untuk membela kehormatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Balasan berupa olok-olok dari Allah tidak bermakna gurauan atau main-main—sebab sifat tersebut mustahil bagi Allah—melainkan sebuah hukuman yang setimpal, celaan, serta perendahan atas kemaksiatan dan pengkhianatan yang telah mereka lakukan secara sadar.
Di alam dunia, bentuk balasan tersebut mewujud dalam cara Allah memberlakukan hukum lahiriah Islam kepada kaum munafik. Allah memerintahkan untuk menjaga nyawa dan harta benda mereka sebagaimana kaum Muslimin, sehingga mereka merasa aman dan mengira telah berhasil menipu ajaran Allah. Padahal, perlindungan lahiriah ini adalah bentuk perangkapan (istidrāj); Allah sengaja mendikte dan menghiasi kondisi buruk mereka seolah-olah sebuah kebaikan, sehingga mereka kian nyaman berada dalam kubangan kesengsaraan jiwa.
Selanjutnya, Allah menyatakan bahwa Dia membiarkan dan memberi tenggang waktu (yamudduhum) kepada kaum munafik dalam kedurhakaan mereka. Penangguhan siksaan ini sama sekali bukan bentuk kepedulian atau kebaikan dari Allah, melainkan pembiaran agar dosa-dosa mereka kian bertambah dan menumpuk. Dengan diberikan kebebasan dan waktu yang panjang tanpa hukuman bertubi-tubi di dunia, kaum munafik justru semakin berani melampaui batas (ṭugyān), bergelimang dalam kejahatan, dan kian jauh dari pintu kembalinya hidayah.
Baca Juga: Tafsir Hadits: Menyelami Makna Kebajikan dan Dosa Lewat Kejujuran HatiKondisi psikologis mereka digambarkan dengan kata yaʿmahūn, yaitu keadaan terombang-ambing dalam kebingungan dan kebimbangan yang sangat mendalam. Para mufasir membedakan antara kebutaan mata (al-ʿamyu) dan kebutaan hati (al-ʿamah). Dalam ayat ini, yang dialami kaum munafik adalah al-ʿamah—yakni kebutaan mata hati. Hati mereka telah terkunci rapat dan tertutup noda dosa, sehingga mereka kehilangan kepekaan untuk melihat kebenaran, ragu-ragu di antara keimanan dan kekufuran, serta tidak mampu menemukan jalan keluar dari kesesatan yang melingkupi mereka.
Pilihan hidup kaum munafik ini diibaratkan seperti seorang pedagang yang amat bernafsu membeli barang dagangan yang jelas-jelas merugikan. Mereka secara sukarela menukar petunjuk (al-hudā) yang terang benderang demi mendapatkan kesesatan (al-ḍalālah). Akibat transaksi bernilai buruk ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri dari jalan kebenaran, tidak memperoleh keuntungan iman sedikit pun, dan dipastikan akan memanen kerugian yang sangat nyata di akhirat kelak.
Puncak dari skenario balasan dan olok-olok Allah baru akan tersingkap secara penuh dan mengerikan pada hari kiamat. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dan Ibnu Jarir at-Tabari menjelaskan bahwa pada hari itu, kaum munafik awalnya diberikan sekilas cahaya bersama kaum Mukminin. Namun, tatkala mereka mencoba berjalan menembus kegelapan dengan cahaya tersebut, Allah seketika memadamkannya. Kaum munafik mendadak terjerat dalam kegelapan pekat, diliputi kebingungan dahsyat, serta keputusasaan yang tiada tara tepat setelah harapan mereka membumbung tinggi.
Kekecewaan mereka kian sempurna saat dibentangkan dinding pemisah (sūr) yang kokoh di antara mereka dan kaum beriman. Di balik dinding bagian dalam terdapat rahmat dan cahaya bagi orang-orang mukmin, sementara di bagian luar terhampar azab yang amat pedih. Kaum munafik akan berteriak memanggil kaum Mukminin bertanya mengapa mereka dipisahkan, namun jawaban tegas menghampiri bahwa mereka telah mencelakakan diri sendiri dengan keraguan, angan-angan kosong, dan tipu daya setan, hingga akhirnya takdir hukuman Allah benar-benar jatuh menimpa mereka.
Baca Juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 13: Penghinaan Kaum Munafik terhadap Orang Beriman(zhd)