LANGIT7.ID-Jakarta; Upaya memperkuat pasokan komoditi untuk Dapur MBG di Lampung diarahkan pada hubungan yang lebih langsung dengan koperasi pesantren. Skema tersebut dibahas dalam Business Matching yang digelar Koperasi Serikat Bisnis Pesantren Lampung di Hotel Emersia Lampung, Rabu (19/8).
Pertemuan itu mempertemukan SPPG Dapur MBG dengan Koperasi Serikat Bisnis Pesantren Lampung. Dukungan kegiatan datang dari Bank Indonesia KPw Lampung, Pusat Inkubator Bisnis Polinela, Kepala KPPG Lampung - Bengkulu, serta Komite Daerah Ekonomi Keuangan Syariah (KDEKS) Lampung.
Perwakilan Bank Indonesia, La Ode Arif selaku Asisten Direktur KEKDA, menyoroti sisi lain dari pertemuan tersebut, yakni pentingnya menjaga stabilitas harga komoditi.
Menurut dia, hubungan langsung antara pemasok dari koperasi pesantren dan SPPG dapat mengurangi peran broker yang berpotensi memengaruhi harga.
"Dengan dipertemukannya langsung antara suplier koperasi pesantren dengan SPPG akan bisa menghindari peran broker yang sering memainkan harga dan berdampak pada ketidakstabilan harga," jelas dia dalam keterangannya, dikutip Jumat (21/8/2026).
La Ode mengatakan Business Matching tersebut sejalan dengan komitmen Bank Indonesia dalam mendukung ekosistem ekonomi yang sehat, transparan, dan berkeadilan.
Kolaborasi itu juga dinilainya sebagai contoh bagaimana pesantren dapat mengambil bagian dalam penguatan ekonomi lokal. Pada saat yang sama, kerja sama tersebut disebut mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi kebutuhan dapur gizi, Kepala KPPG Lampung - Bengkulu Ahmad Heri Setiawan menilai pertemuan antara SPPG Dapur MBG dan Koperasi Serikat Bisnis Pesantren Lampung sebagai langkah positif untuk memperkuat rantai pasok komoditi.
"Business Matching yang dilaksanakan sangat baik sekali, karena menjadi tambahan pilihan dapur untuk menerima pasokan komoditi. Apalagi ini dari koperasi pesantren, yang pastinya lebih halalan thoyyiban," ujarnya.
Menurut Ahmad, keterlibatan koperasi pesantren dalam rantai pasok dapur gizi tidak berhenti pada persoalan pasokan. Kehadirannya juga disebut memberikan jaminan kualitas dan keberkahan sekaligus memperkuat posisi pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Aspek lain yang muncul dalam Business Matching adalah penerapan prinsip syariah. Akademisi UIN Raden Intan Lampung, Ruslan Abdul Ghofur, menyampaikan pentingnya standardisasi syariah dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat melalui Dapur MBG.
"Aspek gizi memang menjadi prioritas utama, namun tidak boleh mengabaikan prinsip syariah yang menjamin keberkahan dan keamanan konsumsi," tuturnya.
Ruslan melanjutkan bahwa penerapan standar syariah akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program dapur gizi. Menurut dia, hal tersebut sekaligus dapat menjadi model integrasi antara kesehatan dan nilai-nilai Islam.
"Standar gizi mutlak sifatnya harus halalan thoyyiban," pungkasnya.
Business Matching tersebut menghadirkan Kepala PIB Polinela Bambang Utoyo, Kepala KPPG Lampung - Bengkulu Ahmad Heri Setiawan, Akademisi Unila Kusuma Adhianto, serta Pimpinan BI KPw Lampung Fiskara Indawan sebagai narasumber. Acara dimoderatori Sekretaris Koperasi Serikat Bisnis Pesantren Lampung, KH Amin Udin el-Hady.
Dengan mempertemukan koperasi pesantren dan SPPG, agenda di Hotel Emersia Lampung itu membawa pembahasan dari sisi rantai pasok, stabilitas harga, pemberdayaan ekonomi umat, hingga penerapan standar syariah dalam kebutuhan gizi.
(lam)