LANGIT7.ID-Jakarta; Iran dan Oman membahas kerangka pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz serta proyek bersama untuk membersihkan ranjau di jalur perairan strategis tersebut. Pembahasan ini berlangsung ketika aktivitas pelayaran di selat yang menjadi titik panas perang di Timur Tengah masih sebagian besar lumpuh.
Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas hal tersebut dalam pertemuan di Teheran pada Selasa.
Menurut pernyataan bersama yang dibagikan Oman, keduanya membahas “kerangka kerja bertahap yang dapat menjadi dasar praktis dan dapat diterapkan untuk melangkah maju” dalam pembicaraan terkait Selat Hormuz.
Kerangka tersebut mencakup pembentukan koridor navigasi sementara bersama melalui Selat Hormuz serta kesepakatan untuk menjalankan proyek bersama guna membersihkan ranjau di jalur perairan itu.
“Negosiasi teknis akan terus berlanjut untuk menemukan koridor navigasi permanen dan pengaturan masa depan selat tersebut, serta mekanisme berbagi informasi, manajemen lalu lintas, dan penyediaan layanan navigasi serta keamanan yang relevan,” demikian pernyataan tersebut.
Iran dan Oman juga menyatakan pentingnya menggelar pembahasan bersama dengan negara-negara yang berbatasan dengan perairan Teluk.
Pengumuman itu disampaikan ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengklaim melalui Truth Social bahwa “semua ranjau telah disingkirkan dan/atau diledakkan dari perairan internasional Selat Hormuz” berdasarkan informasi dari Angkatan Laut AS.
Trump juga mengatakan Iran telah diberi tahu bahwa setiap kapal atau perahu yang memasang ranjau baru akan “segera dan secara sistematis dihancurkan”.
“Kebijakan Nol Toleransi terhadap pemasangan ranjau telah berlaku penuh,” tambahnya.
Perang pecah setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian dengan cepat melakukan blokade terhadap Selat Hormuz, sementara Washington memberlakukan blokade laut balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Hingga kini, lalu lintas pelayaran masih sebagian besar lumpuh. Kondisi tersebut mengganggu pasar minyak global melalui jalur perairan strategis yang biasanya menjadi jalur sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair dunia.
Iran dan Oman, yang sama-sama merupakan negara pesisir di Selat Hormuz, telah membahas masa depan navigasi di jalur tersebut selama beberapa pekan terakhir. Teheran sebelumnya menyatakan bahwa koordinat geografis rute yang dirancang kedua negara “telah disepakati”.
Namun, pejabat Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sepenuhnya sebelum Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran. Tuntutan tersebut antara lain mencakup pencabutan blokade laut, penghentian sanksi minyak, serta pembukaan kembali aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
(lam)