LANGIT7.ID - , Jakarta - Helicopter Parenting atau pengasuhan helikopter menjadi istilah yang ramai jadi perbincangan belakangan ini. Pemahaman dari helicopter parenting sendiri merupakan pola asuh dimana orang tua terlalu berlebihan memberi perhatian.
Mulai dari kegiatan sekolah, rutinitas, hingga kebiasaan anak. Hal itu dilakukan sebagai bentuk perlindungan orang tua menghindari anak-anaknya dari rasa kecewa. Tujuan dari perhatian secara ekstrim tersebut agar mereka dapat sukses dalam hidup.
Pemahaman helicopter parenting karena orang tua seperti mengawasi anak-anak dengan terlibat secara langsung di setiap aktivitas anaknya. Tanpa sadar, orang tua yang memiliki pola asuh seperti ini sama juga memberlakukan pengasuhan buldoser atau mesin pemotong rumput yang merobohkan rintangan anak-anak mereka dengan tujuan mempermudah anak-anak meraih kesuksesan.
Seringkali, orang tua dengan pengasuhan seperti ini memiliki pendidikan tinggi dan pernah melalui jalan sulit dalam hidup mereka. Sehingga, mereka merasa perlu untuk melindungi anaknya dari segala rasa sakit.
Baca juga : Memperbaiki Pola Pengasuhan Orang Tua Terhadap AnakTapi, tahukah Anda bila pola asuh ini memiliki konsekuensi bagi anak-anak mereka? Melansir dari New Indian Express, beberapa risiko dari helicopter parenting ini, diantaranya mereka jadi tidak mandiri, sulit mengambil keputusan dan cenderung menjadi depresi juga punya kecemasan yang tinggi.
Alih-alih membuat anak terhindar dari rasa cemas, helicopter parenting malah menjadikan anak-anak mudah depresi. Sebab, mereka harus terus berusaha menyenangkan orang tua karena instruksi yang konsisten diberikan orang tua.
Anak-anak di bawah pengasuhan helikopter tumbuh menjadi individi yang tidak tahu apa-apa, memiliki kepercayaan yang rendah, dan tidak ada arah dalam hidup.
Sebagai orang tua, waspadai gejala helicopter parenting melalui tanda-tanda seperti ini :
1. Menjadi pemecah masalah tanpa anak pernah mencoba Orang tua helikopter adalah mereka yang selalu mengikuti dan mencoba memecahkan masalah anak-anak. Atau bahkan yang lebih parah lagi, orang tua akan melindung anak dari masalahnya sendiri. Misalnya, Anda memilih mengerjakan tugas sekolah anak daripada mendampinginya, karena tak ingin anak mendapat teguran dari sekolahnya.
2. Selalu memberi instruksi atau arahanSudah jadi hal yang wajar bila orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja, bukan berarti Anda tak pernah membiarkan anak mengambil risiko apapun. Dalam konsep helicopter parenting, orang tua selalu memberi instruksi pada anak-anaknya, misalnya melarangnya untuk berlarian terlalu kencang karena takut terjatuh. Tanpa disadari sikap ini malah membuat anak menjadi depresi akan perintah yang diberikan secara konsisten.
Baca juga : Mengenal 3 Pola Pengasuhan terhadap Anak, No 1 dan 3 Tak Boleh Terjadi3. Terlibat dalam setiap pengambilan keputusan Anda adalah orang tua helikopter bila selalu ingin terlibat dalam setiap keputusan yang seharusnya anak ambil. Sikap seperti ini malah menjadikan anak akan sulit mengambil keputusan dalam hidupnya kelak. Sebab, mereka akan lebih banyak mengandalkan Anda sebagai orang tua saat menghadapi situasi yang sulit.
4. Selalu berusaha memperbaiki kesalahan anak Orang tua helikopter adalah mereka yang selalu ingin tahu posisi anak-anaknya. Mulai dari kegiatan sekolah hingga aktivitas lainnya. Selain itu, orang tua helikopter juga selalu memperbaikin apa yang dilakukan anak-anak dan memperbaiki kesalahan anak-anaknya.
5. Selalu mersepons dari frustasi emosional Menjadi orang tua helikopter berarti tidak pernah membiarkan anak berurusan dengan emosinya sendiri. Anda akan menghentikan anak saat menangis dan berusaha menyelamatkan anak dari frustasi emosional, dengan membuatnya kembali ceria.
6. Mengerjakan semua pekerjaan rumahOrang tua helikopter akan menjauhkan anak dari kegiatan tugas rumah yang menjadi tanggung jawab anak. Seperti merapikan kamar, merapikan kamar, hingga membuang sampah. Orangtua helikopter mengira anak-anak mereka sibuk belajar, dan memfasilitasinya dengan melakukan segalanya untuk mereka. Meski ini bisa membantu anak lebih fokus pada studinya, tetapi juga bisa membuat anak jadi tidak bertanggung jawab.
Meski niatnya tidak buruk, tetapi gaya pengasuhan seperti ini bisa menimbulkan risiko negatif. Terutama untuk anak-anak ketika mencapai usia dewasa. Orang tua helikopter sangat mungkin mengalami depresi dan kecemasan sendiri, dan mentransfer rasa percaya diri dan rasa bersalahnya kepada anak-anak mereka. Dan ini biasanya cenderung sering terjadi pada seorang ibu ketimbang ayah.
(est)