LANGIT7.ID, Tel Aviv - Banyak warga muslim yang tinggal di Israel adalah fakta yang tak bisa dibantah. Populasi muslim di Israel mencapai 17.8% dari total penduduknya. Keberadaan mereka tidak terlepas dari konflik yang berlangsung di Palestina pada 1948. Setelah deklarasi pembentukan negara Israel, orang-orang yahudi mencaplok sebagian besar Palestina.
“Tahun tersebut sangat menyedihkan bagi semua warga muslim dan warga Arab di seluruh dunia, karena tahun ini mengumumkan pendirian The Jewish State (Negara yahudi) yaitu Israel,” kata Youtuber asal Mesir yang tinggal di Malang melalui akun youtube-nya, dikutip Selasa (24/10/2021).
Orang-orang Arab Palestina sudah menetap di sana sejak lama, yakni semenjak Khalifah Umar bin Khattab RA menaklukkan Baitul Maqdis pada 637 M. Mereka datang dari berbagai negara seperti Persia, Yaman, Mesir, dan banyak lagi.
Di kawasan yang lantas dicaplok Israel, terdapat sekitar 950 ribu warga Arab Palestina. Kemudian, sekitar 80 persen memilih mengungsi karena intimidasi dan tinggal menyisakan 156 ribu jiwa.
Baca Juga: Rayakan Sukkot, Israel Larang Muslim Masuki Masjid Ibrahimi
Warga Arab Muslim yang memilih tetap tinggal dan menolak mengungsi itu menjadi cikal-bakal ada warga muslim di Israel. Mereka bertahan di tengah diskriminasi yang sangat berat.
“Disuruh keluar, tidak mau. Dan Israel sudah membawa imigran yahudi dari seluruh penjuru dunia untuk menempati rumah-rumah orang Palestina,” kata Fouly.
Israel melihat kelompok muslim Arab sebagai ancaman. Maka otoritas Israel mengeluarkan pengumuman untuk mengusir pribumi (muslim Arab) untuk digantikan oleh imigran yahudi.
“Jadi warga Palestina yang tinggal di sana waktu itu terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, adalah orang yang dipaksa keluar dari rumah, maka mereka mengungsi ke negara tetangga seperti Mesir, Yordania dan beberapa negara lain. Ada kelompok kedua, yang berhasil mempertahankan rumah mereka,” katanya.
Setelah beberapa tahun, Israel mulai menghadapi masalah lain yang lebih besar. Pertama, masalah itu datang dari kelompok warga muslim yang berhasil menetap di Israel dan menolak mengungsi. Otoritas Israel lalu memaksa mereka untuk mengambil kewarganegaraan Israel.
Meski dalam undang-undang, kedudukan mereka setara dengan warga yahudi, namun kenyataannya mereka diperlakukan diskriminatif. Israel punya rencana lain. pertama, warga Arab muslim tidak boleh belajar bahasa Arab di sekolah. Kedua, warga Arab muslim tidak boleh bekerja di posisi tinggi di Israel kecuali dipilih satu per satu.
Ketiga, mereka dipersulit proses penerimaan mahasiswa Arab Muslim di universitas Israel, sehingga hanya 10 persen muslim Arab di Israel yang berpendidikan S1. Keempat, warga muslim Arab boleh masuk DPR Israel, tetapi waktu yang bersamaan mereka boleh juga diusir kalau tidak disukai oleh mayoritas anggota DPR lain yang beragama yahudi.
“Kelima, kalau ada warga Arab muslim yang memiliki sebuah tanah terus ada orang yahudi datang mengklaim tanah tersebut, berarti orang yahudi berhak mengambil tanahnya tanpa bukti yang kuat,” katanya.
Baca Juga: 5 Negara yang Batasi hingga Larang Adzan Dikumandangkan
Di sisi lain, pertambahan penduduk dari warga muslim menjadi ancaman bagi otoritas Israel. Warga muslim di Israel tercatat memiliki tingkat kelahiran yang tinggi. Rata-rata per tahun satu dari empat kelahiran bayi adalah muslim.
Kontan ini memicu kekhawatiran di Israel, dalam beberapa tahun ke depan, jumlah orang yahudi bisa tersalip. Diperkirakan jumlah warga muslim bisa mencapai 2 juta jiwa atau 24-26 persen dari populasi dalam kurun 15 tahun. Warga Israel kemudian mengistilahkan ‘bom waktu demografi’ terhadap fenomena tersebut.
Sementara itu, secara demografi sebanyak 52 persen warga muslim tinggal di Kota Al-Quds. Adapun sisanya tersebar di 11 wilayah lain di Israel. Totalnya ada sekitar 112 kawasan komunitas Arab dan muslim yang 89 persennya mencakup lebih dari 2.000 jiwa.
Nazareth dikenal sebagai kota yang juga banyak dihuni warga Arab atau sekitar 65 ribu jiwa dengan 40 ribu-nya adalah muslim. Sementara itu, kota warga muslim adalah di Umm al-Fahm dengan lebih dari 43 ribu musim diikuti Kota Baqa Jatt dan Carmel City.
(jqf)