LANGIT7.ID-Riyadh; Arab Saudi dikabarkan telah menyampaikan proposal baru kepada kelompok Houthi di Yaman melalui Kesultanan Oman. Proposal itu mencakup gencatan senjata selama dua pekan dan pembukaan perundingan langsung antara Riyadh dan pimpinan Houthi.
Menurut surat kabar Lebanon Al Akhbar yang berafiliasi dengan Hezbollah, tujuan awalnya adalah membahas tuntutan kemanusiaan Houthi, lalu berupaya mencapai kesepakatan komprehensif pada akhir periode gencatan senjata.
Menurut sumber yang berbicara kepada surat kabar tersebut, proposal itu dirumuskan setelah serangkaian kontak yang dilakukan Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir dengan Amerika Serikat, Mesir, Pakistan, dan Kesultanan Oman.
Sumber-sumber itu mengklaim Riyadh berupaya menyampaikan pesan kepada Houthi bahwa mereka tertarik memanfaatkan periode tenang untuk "membahas pemenuhan semua tuntutan kemanusiaan," dan setelah itu "mencapai kesepakatan komprehensif pada akhir gencatan senjata."
Oman, yang selama bertahun-tahun memainkan peran mediasi sentral antara Arab Saudi dan Houthi, diminta menyampaikan proposal itu ke Sanaa.
Houthi Meningkatkan Serangan, Kuasai Wilayah di Pesisir Laut MerahLaporan ini muncul di tengah eskalasi tajam pertempuran di Yaman dan meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi. Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Houthi menguasai wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, sekaligus melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sasaran di dalam wilayah Arab Saudi.
Riyadh menuduh Houthi menyerang fasilitas sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran, serta mengancam pelayaran komersial di Laut Merah. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Arab Saudi pekan lalu, disebutkan 73 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka dalam salah satu gelombang serangan.
Menurut laporan Reuters, pertemuan berlangsung di Kedutaan Besar AS di Muscat dengan bantuan pemerintah Oman. Houthi mengatakan kepada Amerika bahwa mereka berniat terus menghormati gencatan senjata yang dicapai dengan Washington pada 2025 dan tidak berniat menyerang kapal-kapal AS.
Langkah Arab Saudi ini mencerminkan upaya beralih dari jalur militer ke jalur diplomatik seiring pertempuran yang semakin memakan korban dan mengancam jalur perdagangan serta energi regional. Menurut Al Akhbar, Sanaa belum memberikan respons final atas proposal tersebut, dan Houthi terus menuntut penyelesaian menyeluruh yang mencakup penghentian perang, pencabutan blokade, dan pemenuhan tuntutan kemanusiaan. Pada tahap ini, Arab Saudi juga belum secara resmi mengonfirmasi rincian proposal yang dipublikasikan surat kabar Lebanon itu.(*/saf/thejerusalempost)
(lam)