Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 10 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 62: Konsep Keselamatan dan Substansi Iman

ahmad zuhdi Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:59 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 62: Konsep Keselamatan dan Substansi Iman
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-62 dari Surat al-Baqarah merupakan salah satu ayat fundamental dalam diskursus teologi Islam yang membahas hubungan antara keimanan, amal saleh, dan keselamatan di sisi Allah SWT. Turun di tengah masyarakat Madinah yang majemuk, ayat ini menegaskan prinsip keadilan ilahi bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh label komunal keagamaan semata.

Menurut Imam al-Tabari, ayat ini ditempatkan dalam rangkaian pembahasan mengenai Bani Israil untuk menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat baik dan taat akan mendapatkan balasannya.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحًۭا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 62).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa setelah menerangkan keadaan orang-orang yang melanggar perintah-Nya, Allah menegaskan setiap orang dari umat terdahulu yang berbuat baik dan taat akan memperoleh balasan yang baik, dan ketentuan ini berlaku hingga hari kiamat.

Pada penggalan awal innamal-ladzīna āmanū, al-Tabari menerangkan bahwa kelompok "orang-orang yang beriman" adalah mereka yang membenarkan Rasulullah ﷺ beserta segala kebenaran yang beliau bawa dari sisi Allah. Ibn Katsir memperluas pemahaman tersebut dengan mengutip riwayat dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang penganut agama yang pernah ia ikuti, yang kemudian menjadi bagian dari latar belakang turunnya ayat ini.

Sementara itu, penyebutan kelompok wa al-ladzīna hādū wa al-naṣārā wa al-ṣābi'īn memuat penjelasan etimologis dan historis yang mendalam. Kata hādū merujuk pada umat Yahudi yang akar katanya bermakna bertobat atau karena perkataan mereka kepada Allah. Adapun al-nasārā dinamakan demikian karena penisbatan kepada desa Nashirah atau perkataan para pengikut setia Nabi Isa.

Mengenai al-ṣābi'īn, terdapat beragam pandangan ulama, mulai dari pendapat yang menggolongkan mereka sebagai bagian dari ahli kitab hingga pandangan bahwa mereka merupakan salah satu sekte atau kabilah tertentu.

Kriteria utama diterimanya amal dan diraihnya keselamatan ditegaskan dalam penggalan man āmana billāhi wal-yawmil-āhiri wa ‘amila ṣāliḥan falahum ajruhum ‘inda rabbihim. Sheikh Abdurrahman al-Sa'di menjelaskan bahwa hukum ini berlaku bagi kelompok-kelompok tersebut dari sisi keadaan mereka sendiri pada masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, di mana siapa pun yang beriman kepada Allah, hari akhir, serta rasul mereka akan memperoleh pahala yang agung.

Senada dengan hal tersebut, Ibn Katsir menegaskan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan terhadap klaim bahwa keselamatan eksklusif hanya milik satu kelompok tertentu saja. Setelah risalah final di bawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, keimanan yang sah tentu harus mencakup pembenaran terhadap kenabian beliau.

Penutup ayat yang berbunyi wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn memberikan jaminan ketenangan batin yang luar biasa. Ibn Katsir memaknainya sebagai jaminan kebahagiaan abadi bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk rasul, di mana mereka akan terbebas dari rasa takut menghadapi masa depan serta terhindar dari kesedihan atas apa yang telah ditinggalkan.

Al-Biqā'ī menambahkan analisis sastra bahwa penyebutan peniadaan rasa takut sekaligus kesedihan secara bersamaan menunjukkan kesempurnaan perlindungan dan keamanan spiritual yang dianugerahkan kepada hamba-hamba yang beriman. Secara keseluruhan, ayat ini merumuskan sintesis teologis bahwa substansi iman yang tulus dan amal saleh menjadi ukuran utama kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tanpa memandang batasan klaim kelompok semata.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 10 Oktober 2026
Imsak
04:08
Shubuh
04:18
Dhuhur
11:43
Ashar
14:44
Maghrib
17:49
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan