LANGIT7.ID, Jakarta - Momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober menjadi pendorong semangat pemuda masa kini untuk dapat mengambil hikmah (pembelajaran) dari Kongres Pemuda 1928 silam. Di antara nilai yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah pemuda harus kerja keras dan tidak gampang putus asa.
Kerja keras dalam makna umum selain suatu hal yang berorientasi pada profesi dan kompetensi pribadi, makna tersebut juga berlaku pada seluruh aspek kehidupan. Termasuk tidak mudah putus asa dalam berbagai permasalahan dan penderitaan yang tak kunjung usai sekalipun mengancam akidah atau keimanan.
Baca Juga: Yenny Wahid: Pemuda Punya Cara Sendiri Berkontribusi untuk NegaraSebagaimana Rasulullah ketika meneguhkan generasi sahabat terdahulu yang masuk Islam dan mengalami intimidasi serta siksaan dari kaum musyrikin Quraisy, beliau terus menghidupkan dan menanamkan keyakinan kepada pertolongan ilahi dan kemenangan yang pasti datang bagi orang-orang yang beriman.
Sementara kepada mereka yang tak mampu mempertahankan diri, sedangkan beliau sendiri dan Jamaah Islam sebagai satu kesatuan belum mampu melindungi mereka, beliau menganjurkan supaya hijrah ke negeri Habasyah, di mana mereka dapat hidup dengan aman.
Di belakang hari, Muhajirin yang pertama (Ammar bin Yasir) kembali menggabungkan diri dengan saudara-saudara yang berpadu dalam satu keyakinan dengan mereka di Madinah dan turut aktif mengambil bagian dalam jihad menegakkan kalimat Tauhid seterusnya.
Baca Juga: Komunitas Bersama Pemerintah Ambon Peringati Sumpah Pemuda dengan Bersihkan SampahAdapun sikap teguh dan tabah yang diperlihatkan oleh para sahabat seperti Bilal, Habib bin Zaid, Ubaid bin Khalaf dan lain lain itu (ada yang sampai buta, ada yang setengah mati, ada yang sampai syahid) tidak pernah Rasulullah cela atau desavueer sebagai umpamanya “sikap yang terlampau fanatik atau yang semacam itu.
Memang keteguhan hati dan istiqamah dikalangan para Mukminin yang pertama itulah yang menjadi modal ummat Islam dalam perjuangan selanjutnya. Jika kiranya tidak ada ruh jihad yang demikian itu, perjalanan Risalah Muhammad SAW tentulah akan sudah berhenti pada taraf di mana jamaah Islam itu hanya terdiri dari tiga-puluhan orang, yang sewaktu-waktu berkumpul secara diam-diam di rumah Arqam bin Arqam, di mana mereka dapat menerima tuntunan-tuntunan dari Rasulullah SAW dan melakukan ibadah bersama-sama.
Sebagaimana kita ketahui, dalam hal ketabahan dan keteguhan hati, Rasulullah SAW sendiri berdiri di tengah-tengah ummatnya sebagai hasanah, yakni sebagai suri tauladan yang baik. Maka yang memberi shibghah, corak yang karakteristik pada jalan perjuangan menegakkan Risalah Muhammad SAW itu selanjutnya, bukan peristiwa dan amal perbuatan yang tak terbilang banyaknya dari ribuan para sahabat.
Baca Juga: Kenang Sumpah Pemuda, Fadli Zon: Leadership Merupakan Kunci PersatuanDi bawah pimpinan langsung Rasulullah SAW sendiri, dalam masa 23 tahun lamanya, baik dari para sahabat sekaliber seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Siti Khadijah, Siti 'Aisyah, Bilal dan lain-lain, sampai kepada Mujahidin yang nama mereka tidak tercatat dan yang sudah syahid sebelum tercapainya kemenangan Risalah atas jahiliyah. Dalam rangka inilah kita harus memahami arti atau nilai praktis dari peristiwa Ammar bin Yasir.
Sumber:
Buku 'Di Bawah Naungan Risalah' Mohammad NatsirBaca Juga :
Disebut Pemuda jika Ini Loh Saya, Bukan Ini Loh Bapak Saya
Peran Pemuda Islam dalam Kongres Pemuda dan Sikap Umat Islam terhadap Sumpah Pemuda(asf)