LANGIT7.ID, Jakarta - Hari Sumpah Pemuda 2021 jatuh pada Kamis tanggal 28 Oktober. Sumpah Pemuda adalah suatu ikrar pemuda-pemudi Indonesia yang mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia pada 1928 silam.
Dalam konteks hari ini, memaknai sumpah pemuda dapat dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Bagi pemuda kelahiran 1990-an, di tahun 2021 merupakan tahun yang cukup dewasa untuk melangsungkan pernikahan. Jika telah menikah, apakah birrul walidain khususnya kepada ibu terhenti?
Baca Juga: Urusi Orang Tua di Hari Senja, Jadi Wasilah Anak Masuk SurgaTentu saja hubungan ibu dengan anaknya tidak berubah dengan pernikahan. Demikian juga haknya tetap ada sesuai dengan kemampuan masing-masing. Alquran telah menetapkan bahwa ibu dan ayah mempunyai hak dari anak-anaknya, lebih, lebih ibunya.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, Kemudian hanya kepadaKulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Luqman (31) : 14-15).
Hak orang tua adalah mendapat perlakuan yang baik secara wajar sehingga tidak boleh disamakan dengan berbuat baik kepada selain keduanya walaupun kepada guru dan anak sendiri.
Baca Juga: 4 Ayat dalam Al-Quran tentang Birrul Walidain yang Wajib Kita AmalkanPerlu diketahui, secara sunnatullah bahwa dalam usia renta, mereka akan lebih sensitif, cepat tersinggung. Adalah suatu kedurhakaan yang besar bila seseorang menolak permintaan ibunya atau ayahnya, sepanjang permintaan itu tidak bertentangan dengan aturan Allah.
Jika tidak sanggup untuk menjalankan perintahnya, bicaralah dengan sopan santun dan lemah lembut. Firman Allah:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"." (QS al-Isra (17) : 23-24).
Berbuat baik kepada orang tua merupakan kewajiban kedua setelah beribadah kepada Allah. Bahkan, jihad seseorang di medan perang akan tidak berarti di hadapan Allah jika tanpa izin orang tua, terlebih ibunya. Durhaka kepada ibu yang melahirkan merupakan dosa besar setelah syirik.
Baca Juga: Ridha Allah Tergantung Orang Tua, Jangan Lupa Doakan Ibu Bapakmu“Dari Abdullah bin Amr ra, katanya, datang seorang Arab kampung kepada Nabi Saw, lalu bertanya, "Ya Rasulullah apa dosa besar itu?" Jawab beliau, "Isyrak (syirik) kepada Allah". Katanya, "Kemudian apa”. Jawab beliau, "Durhaka kepada orang tua". Katanya, "Kemudian apa lagi?" Jawab beliau, "al Yamin ghamus". Kataku, "Apa al-Yaminul Ghamus itu?". Jawab beliau, ingkar janji atau sumpah palsu yang memutuskan harta (merugikan) seorang muslim" (HR al-Bukhari).
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhu dari Nabi Saw katanya, "Keridhaan Allah itu tergantung kepada keridhaan ibu-ayah, dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan mereka. (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim memandang hadits ini shahih. Subulus Salam).
Sebaiknya, para suami memberi pemahaman agama kepada para istrinya. Istrinya harus mengetahui hak mertuanya, terutama yang menjadi tanggung jawab suaminya. Jika istrinya sulit untuk memahami hal itu, lakukanlah dengan rapi, sehingga tidak menyinggung ibu dan istri.
Baca Juga: Disebut Pemuda jika Ini Loh Saya, Bukan Ini Loh Bapak Saya Demikianlah cara mengenang sumpah pemuda dengan lebih meningkatkan birrul walidain kepada kedua orang tua. Semoga menjadi pemberat timbangan kebajikan kita semua di akhirat kelak. Amin.
Sumber:
Buku Istifta: Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer karya Dewan Hisbah Persatuan Islam
Baca Juga:
Sejarawan: Istilah Sumpah Pemuda Tidak Tercetus dalam Kongres Pemuda 28 Oktober
KH Maimoen Zubair Lahir Saat Peristiwa Sumpah Pemuda(asf)