LANGIT7.ID, Jakarta - - Posisi santri sebagai pihak yang dapat menurunkan tingkat penyebaran hoaks di dunia maya menarik dicermati, termasuk dalam perkembangan sains. Sebab, perkembangan sains selalu bersanding dengan perkembangan agama.
Hal tersebut disampaikan Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7 bertajuk 'Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan', Rabu (27/10). Menurut dia, agama yang memagari perkembangan sains berada pada track moral yang positif.
Baca juga: Ketum PBNU Minta Tradisi Kaji Kitab Kuning Dipertahankan"Misalnya ketika ada penemuan di bidang nuklir, agama kemudian yang memberikan masukan agar perkembangan itu tidak digunakan untuk perang, tapi untuk perkembangan peradaban manusia," ujarnya.
Begitu juga di digital, perkembangan yang mulai berkembang ini diharapkan menjadi sesuatu yang positif. Karena itu, peran santri sangat dibutuhkan. Santri berperan menguatkan moral dalam era digital dari suatu hal yang destruktif.
"Karena tantangan di dunia digital di Barat atau Asia sekalipun adalah bagaimana mengelola media sosial agar bisa konstruktif, tidak destruktif. Karena media sosial ini telah banyak menghancurkan matinya kepakaran, menghancurkan demokrasi, mengarahkan peradaban pada post-truth, dan tidak ada lagi kebenaran, tapi pembenaran," katanya.
"Nah, disinilah agama yang paling mungkin mengatasi masalah itu. Salah satu masalah terbesar adalah hoaks, dalam masalah ini saya bisa mengatakan bahwa agama memang yang terdepan," imbuhnya.
Baca juga: Momentum Sumpah Pemuda: Ini Kehebatan Rasulullah saat RemajaMengenai masalah hoaks, lanjutnya, sebenarnya santri dan pesantren telah memiliki kurikulum yang jelas, yaitu hadits. Santri sangat mengerti bagaimana hadits itu bisa disebut shahih dan dhaif melalui ilmu hadits.
"Nah, dalam ilmu hadits itu dijelaskan ketika datang satu berita dari siapapun, baik dari orang yang kita anggap percaya atau munafik sekalipun, maka harus klarifikasi dan uji kebenarannya terlebih dahulu dengan berbagai hal, baik secara matan ataupun sanad," katanya.
Secara matan adalah isinya, sedangkan secara sanad adalah orang yang meriwayatkannya. Apakah dia tsiqah (berkompeten) untuk meriwayatkan hadits atau tidak. "Misalnya dia ahli di bidang kimia, kemudian berbicara agama, jelas akan kita tolak. Dari segi matan juga kita uji dengan sumber-sumber lain, jika teruji maka akan diterima," jelasnya.
Menurut dia, santri sangat mengerti bagaimana proses menguji satu berita secara rangkaian sanadnya. Ketika sanadnya tidak jelas, maka jelas tidak bisa diterima. Begitupun dengan matannya atau isi, berkompetenkah ketika dibandingkan dengan sumber-sumber lain.
"Jadi kalau ilmu hadits ini juga diterapkan dalam verifikasi berita, maka kita akan berada jauh lebih baik dalam pemberantasan berita-berita hoaks di media sosial," ujarnya.
Baca juga: Kesadaran Digital, Alat Tebar Kebaikan Bukan Peralat Manusia(asf)