LANGIT7.ID, Jakarta - Penegakan hukum tidak harus dengan cara kekerasan, melainkan dengan jiwa besar dan keteladanan. Hal tersebut disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Baca Juga: Ustadz Yusuf Mansur : Belajar Bisnis dari Rasulullah SAW dan Nabi Ibrahim ASDalam ceramahnya, KH Nasaruddin Umar banyak menunjukkan talenta Nabi Muhammad SAW yang layak ditiru seluruh ummat manusia, tidak hanya ummat Islam. Di antaranya talenta Nabi Muhammad SAW adalah kapasitas sebagai penegak hukum dengan jiwa besar.
"Jiwa besar bisa mengalahkan ketegangan," kata KH Nasarudin Umar, dikutip dalam keterangan tertulis Biro Humas, Hukum dan Kerja sama Kemenkumham, yang diterima di Jakarta, Sabtu (6/11/2021).
Nasaruddin menceritakan, saat itu ada dua konglomerat Yahudi yang cemburu melihat pembangunan masjid di Madinah. Mereka, kata dia, berniat membangun sinagog sebagai tandingan.
Baca Juga: Habib Salim: Islam, Ulama, dan Santri Perekat Persatuan di Tengah KemajemukanLokasinya tepat di samping masjid yang dibangun. Hal itu melahirkan pergolakan dan kemarahan di kalangan sahabat Nabi.
Para sahabat menilai itu tindakan provokasi dan meminta agar pembangunan sinagog dihentikan tetapi orang Yahudi itu tidak bergeming. Hal ini kemudian diadukan kepada Rasulullah.
"Nabi bertanya, siapa yang punya tanah (tempat sinagog dibangun) itu? Tanahnya mereka ya Rasulullah," kata Nasaruddin mengisahkan.
Mantan Wakil Menteri Agama itu melanjutkan ceritanya, karena secara de facto dan de jure tanah memang milik kedua orang Yahudi itu, Nabi mempersilakan pembangunan sinagog dilanjutkan. "Kalau memang itu tanahnya, hak mereka untuk membangun apa saja," kata Nasaruddin dalam kisahnya.
Baca Juga: DKM Masjid Quba Cibitung - Ustadz Ayub: Malaikat pun Segan dengan Nabi Muhammad SAWNasaruddin mengambarkan situasi saat peristiwa itu terjadi cukup memanas. Tetapi dengan kelembutannya Nabi Muhammad bisa meredam kemarahan para sahabat. Sebaliknya, dengan keteladanan jiwa besar serta nilai-nilai ajarannya, orang Yahudi itu menjadi kagum.
Pada akhirnya, lanjut Nasaruddin, karena tujuan pembangunan rumah ibadah (masjid dan sinagog) adalah sama yaitu untuk meraih kebahagiaan, kedua orang Yahudi itu menghentikan upaya pembangunan sinagog bahkan menyerahkan lahannya kepada Nabi sebagai perluasan pembangunan masjid.
Nasaruddin mengatakan kelembutan Nabi pada akhirnya membuat orang Yahudi itu luluh. Kondisi itu tidak akan terjadi jika kedua belah pihak saling ngotot.
"Jiwa besar bisa mengalahkan ketegangan. Yahudinya berjiwa besar, Nabi Muhammad juga berjiwa besar," ujar Nasaruddin lebih lanjut. (Sumber:
Antaranews)
Baca Juga:
Maulid Jadi Momentum Perkuat Kepedulian dan Pembelaan Kaum Tertindas
Makna Maulid bagi Muhammadiyah, Agama Tak Boleh Berjarak dari Kehidupan Nyata(asf)