LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan Rasulullah SAW, seperti yang tertuang dalam Al-Quran, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab : 21).
Pelajaran yang bisa diambil itu termasuk dalam hal berdagang atau berbisnis, karena nabi pernah melakukan itu semasa hidupnya.
Ustadz Yusuf Mansur yang memberikan waktu khusus untuk Langit7 pada Rabu (20/10/2021) mengatakan Nabi Muhammad adalah pedagang, pebisnis, pengusaha, yang kita makin lengkap mencontohnya.
Selain jadi pengusaha, dalam dunia kerja Rasulullah SAW juga bisa menjadi contoh.
Baca juga : Cara Unik Peringati Maulid Nabi agar Anak-Anak Kenal Rasulullah"Sebagai tenaga profesional, nabi Muhammad SAW pernah bekerja sebagai penggembala kambing. Nabi Muhammad adalah pribadi yang komplit pokoknya untuk dijadikan tauladan, jadi komandan perang iya, jadi pemimpin negara iya, jadi seorang ayah iya, jadi orang yang dibully iya, jadi orang yang sedih juga iya, komplit." tegas Ustadz Yusuf.
Dalam dunia dagang atau bisnis, 14 abad yang lalu sebelum ada berbagai aplikasi yang ada seperti sekarang ini, sebelum ada perusahaan jasa di bidang logistik, Rasulullah SAW sudah melakukan bisnis secara internasional.
"Nabi berdagang secara internasional, melintasi batas negaranya, sampai ke negeri Syam, negeri yang waktu itu beririsan dengan Romawi dan Persia, bahkan termasuk jalur sutera." terang Yusuf Mansur.
Dengan Nabi berbisnis sejauh itu, bisa diambil pelajaran bahwa jarak jangan dijadikan masalah.
"Jadi jika ada umat Islam yang masih sempit pikirannya, maka dia harus belajar dari nabi nya sendiri." Katanya.
Selain tidak mempermasalahkan jarak, Rasulullah berbisnis dengan memegang prinsip. Prinsip itu yang menjadikannya dipercaya oleh banyak orang, baik itu pelanggannya bahkan pemilik modalnya.
"Nabi dari remaja sudah berdagang, memegang prinsip jujur dan berintegritas. Karena hal itu pemilik modalnya Siti Khodijah bukan hanya mempercayai nabi dengan barang-barangnya saja. Tapi mempercayai nabi akan dirinya, Siti Khadijah mengamanahkan dirinya untuk menjadi milik Nabi Muhammad SAW." kata ustadz Yusuf sambil terkagum.
Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad menikah dengan Siti Khadijah saat usianya menginjak 25 tahun, sedangkan saat itu Siti Khadijah berusia 40 tahun dan sudah menjadi pengusaha yang sukses.
"Kita kalau jadi orang itu yang bisa dapat kepercayaan seluas-luasnya, seperti Nabi (Muhammad) saat dia berbisnis." ucap Ustadz Yusuf.
Dikisahkan atas kejujuran yang dimilikinya, Nabi mendapatkan gelar dari penduduk Mekkah sebagai Al Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Selain jujur dan berintegritas, Ustadz Yusuf Mansur mengisahkan bahwa Nabi mulus dalam bisnisnya karena ada faktor lain juga.
Baca juga : Sesditjen Bimas Islam: Nabi Muhammad Merupakan Contoh Pemimpin Paling Egaliter"Kedekatannya dengan Allah, selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, tidak ada pikiran yang buruk, karena selalu berpikir ada Allah SWT." Terangnya.
Dengan tidak ada pikiran yang buruk, berbisnis akan menjadi lebih ringan, karena yakin kepada Allah atas segala kuasa-Nya.
Selain Nabi Muhammad SAW, Ustadz pendiri Program Pembibitan Penghafal Al-Quran (PPPA) Daarul Quran juga belajar mengilhami dari Nabi Ibrahim AS.
"Nabi Ibrahim dalam Al-Quran, disuruh oleh Allah SWT hijrah ke kota Mekkah, padahal disitu saat itu tidak ada apa-apa, dan nggak ada siapa-siapa." Ujarnya.
Nabi Ibrahim yang namanya diabadikan menjadi nama surat dalam Al-Quran termasuk nabi yang paling banyak diceritakan kisah hidupnya, termasuk saat Nabi Ibrahim diperintahkan hijrah ke Mekkah.
"Contoh, rata-rata kita suka nggak mau di tempat yang kering, tempat yang nggak ada orang. Tapi belajar dari Nabi Ibrahim, nggak ada siapa-siapa, terus kemudian berhasil, disitu kalian bisa menjadi nomor satu." ungkap Ustadz Yusuf.
Nabi Ibrahim dalam Al-Quran dijelaskan berhasil hijrah bersama Siti Hajar dan Nabi Ismail, membangun kota Mekkah termasuk membangun Ka'bah.
"Sekarang malah kita lihat orang lain yang non muslim justru yang mempraktikkan apa yang diajarkan Allah dan RasulNya." Kata ustadz Yusuf.
"Mereka bangun kota mandiri, kota baru, bangun perumahan dengan perpaduan bisnisnya. Sama seperti nabi Ibrahim yang bangun kota baru kota Mekkah yang sekarang menjadi kota satelit." Imbuhnya.
Perkataan Ustadz Yusuf Mansur tentu karena melihat perkembangan di tanah air, di mana semakin banyak pembangunan kota mandiri yang dibangun oleh non muslim. Membangun dari yang awalnya hanya tempat kosong, dirubah menjadi kota mandiri.
Baca juga : Makna Maulid bagi Muhammadiyah, Agama Tak Boleh Berjarak dari Kehidupan Nyata"Saya terinspirasi banget, makannya saya membangun pesantren berbasis ekonomi, ekonomi berbasis pesantren, tapi saya bangun di kampung namanya kampung Ketapang, jauh dari tol, akses jalannya juga kecil dan saat saya bangun tidak ada keramaian." Kenang beliau saat membangun pesantren pertama kali.
Pesantren yang dimaksud adalah yang sekarang menjadi pesantren terkenal pencetak penghafal Alquran, PPPA Daarul Quran.
Menjadi apapun baik di dunia pekerjaan atau bisnis, ustadz yang dikenal dengan anjuran bersedekah ini menekankan pentingnya akhlak. Akhlak yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
"Dengan akhlak, jadi apa saja asal akhlak mencontohkan nabi akan jadi keren.
Jadi tetangga dengan akhlak yang baik, jadi keren, profesi karyawan, office boy, security, driver online, kalau punya akhlak yang baik, itu cakep." Kata ustadz Yusuf.
"Apalagi jika ada pimpinan dengan akhlak yang baik, tambah cakep, karena bisa melakukan banyak hal untuk memaksa kebaikan bagi yang dipimpinnya." Tutupnya.
(est)