LANGIT7.ID, Jakarta - Istilah 'penghormatan terakhir' tidak seharusnya ada bagi masyarakat yang mencintai para kiai, ulama, dan habaib, demikian Habib Umar Muthahar, menegaskan. Penghormatan terakhir menurutnya adalah melayat atau bertakziyah yang seterusnya dan bukan lantas tidak menghormati lagi.
Penghormatan, menurutnya, tidak mengenal batas akhir, mulai dari masa hidupnya, saat meninggalnya, hingga setelah kewafatannya.
"Maaf maaf, kamus ini bagi pencinta ulama. Pecinta kiai, pecinta habaib, tidak kita kenal peristirahatan terakhir," katanya saat memberikan Mauidzah Hasanah pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2021 secara virtual, Sabtu pekan lalu.
"Kita mengenal penghormatan ketika mereka hidup, wafat, dan sesudah wafat, seterusnya. Tidak ada istilah terakhir," tegas habib asal Semarang, Jawa Tengah itu.
Saat sosok ulama tersebut hidup, penghormatan dilakukan dengan berkhidmah dan menata adab. Ketika wafat, penghormatan dilakukan dengan takziah, mengafani, menshalati, hingga menguburkannya dengan layak, serta mengirimkan doa.
Kematian setiap orang sudah seharusnya dihormati dengan dimandikan, dikafani, dishalati, dan dikuburkan secara layak dan setelah wafatnya juga kita kirim doa. "Kepada orang awam saja begitu, apalagi kepada masyayikh (kiai) yang diberi keistimewaan Allah," ujar Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu.
Keistimewaan para kiai dan ulama, kata Habib Umar, adalah mengajarkan ilmu agama. Sebab, Allah swt memberikan urusan dunia kepada siapa saja, tapi tidak dalam urusan ilmu agama.
Mengajarkan ilmu agama tidak diberikan kepada sembarang orang, kecuali kepada orang yang mencintai Allah swt. "Dalam urusan ini, Allah hanya akan memberikan kuasa, kewenangan, kemampuan, kemauan kepada orang yang dicintai oleh Allah swt," katanya.
(arp)